PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 42


__ADS_3

"Dengan cara mengorbankan aku? Begitu? Benar begitu? Selama ini, bila ada masalah apapun, papa selalu menyalahkan Kania... menyuruh Kania mengerti? Apa karena mbak Anja itu lemah? atau rapuh? Butuh perlindungan? Butuh dukungan? Butuh di mengerti?


Kania juga butuh semua hal itu, pa! Sebagai anak papa, Kania berhak! Sangat memiliki hak!


Papa tau kan, kalau Kania saat itu membela keluarga hingga membuat Dira terjual pada pria kelainan ***? Itu karena Kania perlu melindungi rumah tangga anak kesayangan papa. Tapi apa balasanyny? mas Ken juga ikut mengabaikan Kania. Saat itu, Kania seorang diri menghadapi semua. Tidakkah papa pikir Kania butuh semua orang untuk merangkul Kania?


Yang ada, papa justru membela mati-matian mas Ken dan mbak Anja.... seolah-olah apa yang aku lakukan itu salah total di mata kalian! Tanpa kalian lihat satu sudut pandang lain yang sekiranya membuat Kania nggak salah.


Coba pikir... coba pikir andai Kania saat itu hanya diam.... masihkah rumah tangga anak kesayangan papa akan bertahan hingga sekarang?


Dari dulu.... dari dulu papa selalu menyayangi anak lelaki papa daripada aku. Ketika mas Ken menghamili mbak Anja.... papa mati-matian mencari mbak Anja dan mengabaikan keberadaan Kania yang kesepian. Setalah mereka menikah, papa nggak biarkan mas Ken jauh dari papa mama..... sedang Kania...? Apa yang kalian lakukan setelah aku di nikahi mas Niko?


Sejak kecil, papa dan mama sering mengeluh dalam mengasuh Kania.... tapi kalian nggak pernah tuh, mengeluh ketika mengasuh mas Kenan....


Jadi.....


Sepenting apa Kania ini di mata kalian?"


Kania terjatuh dan lirih ke lantai. Air mata yang sekiranya tadi terlampau mahal, kini jatuh jua tanpa bisa di cegah. Apa uang selama ini mengganjal hatinya, juga menjadi sesuatu yang Kania pendam sendiri, kini termuntahkan begitu saja ketika ada sebuah kesempatan emas Kania mengungkapkannya.


Niko segera menuntun sang istri utuk berdiri.


Fandy dan Nawal tercengang. Otak mereka berputar pada banyak kejadian di masa lalu. Dan kini, mereka menyadari kesalahan mereka, dengan banyak fakta perbuatan mereka terhadap Kenan dan Kania.... memang berbeda.


Kenan yang menyadari kini masalahnya kian rumit, segera beranjak berdiri dan ikut menenangkan adiknya. Namu. tragisnya, Kania seolah enggan di sentuh dan menghempas lengan Kenan dengan kasar.

__ADS_1


"Papa sudah cerita dan papa sudah minta maaf, nak. Dan itu beberapa waktu lalu. Papa juga udah janji sama kamu, dan diri papa sendiri, kalau papa akan berusaha memperbaiki semua kesalahan dan kekeliruan papa di masa lalu. Masihkah kamu akan membekukan hatimu?


Kalau maaf papa nggak cukup untuk mengobati sakitmu akibat luka di masa lalu, katakan sama papa, papa harus bagaimana menghadapi ini? Bagaimana papa harus bersikap di masa depan? Agar kamu mau ngerti dan mau memaafkan papa, menerima papa kembali?"


Kania hanya diam tak menjawab. Nawal justru turun ke lantai beralaskan permadani dan memeluk Kania erat. Tanpa peduli, Kania berontak dan enggan di sentuh.


Kenan menatap adiknya dengan perasaan nelangsa. Ia sendiri, ketika masih lajang seringkali menyusahkan Nawal dan Fandy. Ia tak menyadari sebagai seorang kakak, ada hati adiknya yang perlu ia jaga. Kenan tak menyadari itu.


"Aku ingin sendiri, hanya ingin sendiri."


Kania bangkit berdiri dan berjalan terhuyung-huyung menuju kamarnya. Ia tak ingin berada di antara mereka. Karena mungkin, kesendirian akan lebih baik baginya. Ia perlu waktu mengontrol emosinya, dan mengevaluasi seluruh isi hatinya. Biar bagaimana pun, ucapan Fandy benar. Mungkin hanya Kania di sini yang terlalu beku hatinya, egois dan tak peduli pada orang tuanya. Rapuh lah hari Kania saat ini, si wanita bar-bar dan nampak tangguh itu, kini menanggalkan ketangguhannya ketika semua yang ia pendam selama ini, ia keluarkan tanpa ada yang terlewat sedikitpun.


Begitu pikirnya.


Semua orang diam. Bunda dan ayah Niko yang merasa ada suara gaduh dari dalam rumah anak dan menantunya, kini masuk dan sedikit khawatir. Mereka tengah berbincang dengan Nawal dan Fandy yang menjelaskan, bahwa semua yang terjadi hanya sebuah kesalah pahaman.


Kalau boleh jujur, Niko ingin Kania seperti dulu, menumpahkan tangis dan keluh kesahnya ke dada dan bahu Niko. Melihat istrinya itu lebih memilih bantal sebagai tumpuan kepalanya, membuat Niko merasa sedikit sakit hati tentunya.


Lama tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir keduanya. Niko yang tenggelam dalam pikirannya, juga Kania yang tenggelam dalam sakit hati beriringan dengan Isak tangisnya.


"Di sini, nggak akan ada yang melarang kamu untuk nangis. Menangis lah kalau iy bisa membaut kamu bisa melampiaskan perasaan dan emosi kamu, sayang. Tapi, nangisnya jangan lama-lama, ya.......


Karna kalau kamu nangis, aku lebih terluka di sini".


Niko menunjuk dadanya sendiri. Tatapan matanya sendu menyiratkan keprihatinan juga ketulusan.

__ADS_1


Kania kemudian mencoba mengamati lelaki yang dulu pernah di kejar dan di perjuangkan mati-matian ini, dengan posisi masih tengkurap. Dari dulu, Niko nggak pernah berubah. Lelaki ini sellau lembut dalam memperlakukannya. Tidak pernah kasar juga tidak pernah main tangan.


Sejenak, kesadaran timbul di hati Kania yang selama ini tertutupi kabut emosi.


"Aku salah ya, mas? Aku udah durhaka sama mama dan papa........."


Tangis Kania semakin dalam. Ia sadar akan kesalahannya yang telah menyakiti hati orang tuanya. Tapi Kania pikir, inilah waktu yang tepat untuk mengungkapkan apa yang selama menjadi beban yang mengganjal di hatinya.


Kania merasa sudah sedikit lega sekarang.


"Segala sesuatu dan sikap yang kita lakukan, selalu memiliki alasan yang mendasarinya. Nggak ada yang salah, antara kamu dan orang tuamu, nggak ada yang salah. Kalian hanya sedang dalam fase kesalah pahaman. Ayo, mulai saat ini, perbaiki komunikasi antara ayah, ibu dan anak agar di antara kalian, tidak lagi saling menyimpan sakit hati. Kalau ada masalah yang memberatkan salah satu diantara keluarga, bicarakan dari hati ke hati, jangan mengambil tindakan sepihak".


Jawab Niko bijak, suara nya lembut dan halus, seperti angin di Padang pasir yang tandus dan gersang.


"Kamu.... nggak menghakimiku?".


Tanya Kania parau. Tangisnya sudah mulai reda, meski isaknya masih terlihat.


"Enggak. Untuk apa? Toh kesalahan bukan sepenuhnya dari kamu. Aku harap kejadian hari ini, menjadi pelajaran berharga buat kita semua. Aku yakin dan sangat sangat sangat percaya..... kamu istri dan ibu sekaligus anak yang hebat untuk keluarga kamu.


Aku juga mau minta maaf sama kamu. Aku nggak akan pernah bosan untuk mendapatkan maaf dari kamu, sayang. Kamu segalanya buatku, aku mohon jangan pergi lagi".


Dan di detik berikutnya, Niko tercengang tak percaya layaknya orang dungu, ketika Kania bangkit tanpa kata dan memeluknya erat sembari kembali menumpahkan tangisnya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Hayyo tebak..... Setelah Kania di kasih yang manis-manis sama bang Niko, apa Kania luluh dan bersedia di sentuh Niko, ya.....?!?😄


Tebak tebak tebak........🤪🤪


__ADS_2