PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 26


__ADS_3

"Kalian.....Ta, taru-han?".


~part sebelumnya~


Anjani memaksakan dirinya berlari sekuat tenaga dan sejauh mungkin. Di belakang, Kenan dan kedua sahabatnya juga ikut mengejar, takut sesuatu terjadi pada calon ibu muda itu.


Tidak membutuhkan waktu lama, Kenan segera dapat menangkap Anjani, meraih tangannya dan menariknya ke dalam pelukan Kenan.


Anjani menangis dengan terisak pelan. Dadanya bergemuruh, otaknya terasa memanas. Entah dosa apa yang pernah ia lakukan hingga Anjani mendapat kemalangan bertubi-tubi seperti ini.


"Nja, dengerin dulu penjelasan aku. Kamu salah faham, nja. Kita selesaikan dengan tenang du......." Kalimat Ken terhenti saat Anjani dengan setengah berteriak menyela. Anjani sudah tidak tahan lagi.


"Dengan tenang kamu bilang? Salah faham kamu bilang? Aku nggak buta. Aku juga nggak tuli, mas. Mata dan telingaku masih bisa berfungsi dan mendengar jelas kalau aku hanya objek taruhan kalian. Untuk apa kamu mempertaruhkan kehormatan ku? Untuk apa?".


Ken terkejut dengan sikap Anjani kali ini. Dulu, Anja istrinya adalah sosok wanita berparas cantik dan bertutur lembut serta sopan. Tapi saat ini, Anjani berbicara dengan nada meninggi. Kenan sadar akan kesalahannya, tapi Ken berusaha untuk menjelaskannya pada sang istri.


"Aku... aku.... aaa....."


"Kamu nggak bisa jawab kan? Lepasin aku, mas. Dimana perasaan kamu? Ternyata semua sikap baikmu dulu sudah kamu rencanakan. Kamu hanya mau kehormatan ku. Selamat, mas. Selamat karna kamu sudah berhasil menghancurkan aku dan membuat ku kehilangan ibuku".


Anjani memberontak dalam pelukan Kenan. Sumpah demi apa pun juga. Rasa sakitnya seperti terasa mencekik leher dan terasa panas hingga ke ubun-ubun.


Kenan tidak mau melepaskan Anjani sedikitpun. Alih-alih melepaskan, Ken justru semakin mendekap erat Anjani, seakan enggan melepaskan karna takut kehilangan.


"Aku nggak akan lepasin kamu, nja. Aku sayang sama kamu. Tolong percaya sama aku. Taruhan itu.... Aku nggak peduli lagi dengan taruhan. Aku sekarang cuma mikir kamu dan anak kita untuk bah........"


"Awwwhh aaahhh...." Anjani melenguh kesakitan dengan memegangi perut buncitnya, hingga membuat Kenan melepas Anjani dan m lihat wajah Anjani yang sudah pucat dan meringis kesakitan.


"Nja, kamu kenapa sayang?".


"Ken, kaki istri Lo....", Rio tercekat. Rasa bersalah karna sudah membahas taruhan sialan itu semakin membuat Rio beringsut tak punya nyali untuk menghadapi Kenan nanti.


Kenan menundukkan tubuhnya dan melihat cairan merah bercampur lendir mengalir di kaki Anjani. Anjani merasakan tubuhnya semakin ringan dan semua berputar di sekelilingnya, hingga membuat kegelapan merenggut kesadarannya.


Dengan sigap, Kenan menangkap tubuh Anjani yang limbung karna pingsan. "Anja....".

__ADS_1


kenan berteriak dan terpekik kaget. Kedua temannya, Rio dan Niko dengan sigap menolong Kenan.


"Biar gue yang bawa Anjani ke mobil, kalian bukakan pintu mobil dan bawa gue ke rumah sakit!". Tegas Kenan. Kedua temannya segera berlari menghampiri mobil sedangkan Kenan menggendong Anjani dengan sangat hati-hati.


Kenan kaget setengah mati atas kejadian ini. Ia tidak menyangka Anjani akan pingsan setelah marah tadi. Bahkan saking paniknya, Ken samai melupakan satu hal, yaitu memaki Rio yang sudah sembarangan bicara.


Niko mengambil alih kemudi dan melaju pergi menuju rumah sakit terdekat. Rio tidak berani berkata apapun. Sumpah serapah dalam hati Rio karna sudah berani membuat gara-gara dengan seorang Kenan yang kalau marah, dunia seperti akan kiamat.


Tidak ada jalan lain lagi selain pasrah dengan apa yang sudah terlanjur terjadi. Rio memang harus menerima konsekuensi atas ucapannya. Entah apa yang akan Ken ajukan nanti. Yang jelas, apapun itu, Rio siap jika harus di caci maki atau bahkan di pukul Sampaili babak Belur, akan Rio terima.


"Lo bisa nyetir nggak sih nik? Cepetan gue nggak mau anak istri gue kenapa-napa b*ngke".


Kenan memaki-maki Niko dengan tidak berperasaan. Bagi Kenan, keselamatan Anjani dan calon bayi mereka adalah yang utama. Tidak peduli apapun juga. Niko dan Rio pun menyadari dan memaklumi apa yang di rasakan Kenan.


"Ini gue udah cepet Ken. Kita juga harus mikirin keselamatan kita juga".


Ya, Niko benar. Biar bagaimana pun keselamatan mereka yang utama. Jika mereka tidak selamat, lalu bagaimana mereka akan bisa menyelamatkan Anjani?


.............


"Ken, Lo nggak hubungi mama papa Lo?", Rio bertanya dengan suara pelan dan hati-hati. Kenan menggeleng.


"Ada baiknya Lo hubungi mama papa Lo. Biar bagaimana pun, mereka orang tua Lo dan berhak tau keadaan Anjani dan calon cucu mereka". Kenan mengangguk tanpa kata dan segera menghubungi sang mama siang itu.


"Ma...", Ken tercekat. Bagaimana cara Kenan mengatakan hal ini pada sang mama? Rasa takut dan khawatir tengah di rasakan oleh Ken.


Pasalnya, dulu sang mama adalah orang yan paling histeris saat tau Anjani tengah hamil anak kenan. Nawal juga sangat menyayangi Anjani. Bagaimana mungkin Kenan akan berterus terang? Apa jadinya nanti kalau Nawal tau kondisi Anjani yang mengkhawatirkan?


"Ken? Kamu kenapa? Ada apa? Apa ada masalah?", Nada suara Nawal mulai khawatir. Bagaimana tidak? Kenan tiba-tiba menghubunginya tapi tidak mengatakan tujuannya menelpon. Nawal hanya takut terjadi sesuatu pada anak-anaknya.


"Ma, Anjani... Anja... ".


"Anjani? Kenapa sama Anjani, Ken? Kamu apain dia?". Nada suara Nawal mulai meninggi. Emosi Kenan semakin tak karuan. Mendengar mamanya berteriak saja membuat Kenan bergidik ngeri.


"Anjani... Pe-pendarahan, ma?".

__ADS_1


"Apa? Terus dimana kalian sekarang?".


"Di rumah sakit umum **********".


"Mama kesana. Tunggu mama Ken. Mama akan panggil papamu dulu". Nawal bergetar Karan tak kuasa menahan tangis.


Inilah yang Kenan khawatirkan. Mamanya pasti akan menangis. Sebagai anak, Kenan terlalu sering membuat Nawal menangis. Kenan merasa tidak berguna menjadi anak. Alih-alih berguna, Kenan justru selalu menyusahkan mamanya.


Keadaan Kenan sangat kacau sekarang. Dokter yang menangani Anjani belum juga keluar. Dengan mata memerah, Kenan mondar-mandir di depan ruang ICU.


"Ken, Gue... maaf". Rio tiba-tiba bersuara dengan wajah menunduk di hadapan Kenan secara tiba-tiba. Percayalah, bagi kedua sahabat Kenan ini, tidaklah mudah menghadapi Kenan dalam keadaan marah.


Alih-alih marah, Ken justru enggan berkata apapun untuk membahas hal tadi yang membuat Anjani begini. Yang ada dalam pikiran seorang Kenan saat ini hanyalah, keselamatan anak dan istrinya.


Baru saja mereka bersatu, hanya dengan tempo satu bulan mereka berumah tangga, ujian dan cobaan mulai datang menempa rumah tangga mereka.


"Gue nggak mau bahas apapun sekarang, Rio. Gue cuma mau anak dan istri gue selamat. Nggak lebih".


Hening.


Mereka bertiga larut dalam keheningan, hingga suara Nawal dan Fandy juga Kania muncul dari ujung koridor rumah sakit. Nawal datang dengan air mata yang sudah berderai.


"Bagaimana keadaan Anjani dan cucu mama, Ken?".


"Dokter belum ngasi kabar, ma".


"Apa yang sebenarnya terjadi?".


"Anjani ... Anjani syok karna.... karna...."


"Karna apa Ken?"


Ken menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Karena Ken pernah taruhan untuk mendapatkan keperawanan Anjani, ma".

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2