PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 44


__ADS_3

Mobil mewah hitam metalik yang dikendarai Anika dan Rama, memasuki pelataran rumah minimalis Dewa dan Vanya malam ini. Anika sudah mencoba untuk menyembuhkan hatinya, meski tak sembuh total, setidaknya Anika sudah berusaha berdamai dengan keadaan, seta berusaha tegar demi masa depan dirinya yang masih panjang.


Tentu kedatangan Anika ini, membuat Vanya dan Dewa terkejut. Tak hanya itu, Anika turun dari mobil, dengan membawa beberapa kantong kresek berupa oleh-oleh untuk Vanya.


Diperhatikan sekeliling Anika, Rumah Vanya yang tampak kecil minimalis, dengan taman kecil dan sebuah pohon mangga disampingnya, membuat asri rumah itu. Kini, Anika mengerti, Dewa dan Vanya hidupnya sedikit sulit setelah Dewa mengkhianatinya dengan Vanya.


"Ni-Nika?" Vanya menatap Anika yang baru turun dari mobil, bersama Rama yang mengekor di belakang Anika, layaknya seorang sopir.


"Iya, kak Vanya. Aku datang. Maaf, baru sempat datang berkunjung," jawab Anika yang kini tengah berjalan mendekat.


"Ap, apa kabar? Aku, em ...," Vanya mendadak gugup, karena tak nyaman dengan situasi ini.


Bayangkan saja, setelah berlalu tiga tahun lamanya pengkhianatan itu terjadi, ini adalah kali pertama Anika datang ke rumah Vanya.


"Aku baik. Kalian sendiri gimana? Sehat?" Anika bertanya, dengan senyum kecil yang tersinggung di bibirnya. Mata wanita itu menatap Dewa dan Vanya bergantian.


"Sehat. Hanya saja, maaf kalau kamu berkunjung kesini, merasa kurang nyaman. Ayo masuk, maaf ya, dek, rumah ini terlalu kecil," ungkap Vanya yang merasa sedikit malu, dan juga tak enak hati akan kondisinya sekarang.


"Tak apa, kak. Rumah itu tempat berteduh dan berlindung, asalkan nyaman dan membuat bahagia, itu nggak masalah," jawab Anika sambil berjalan mengikuti Vanya dan Dewa untuk masuk.


"Vio mana, Nika? Kamu nggak ajak dia?" Dewa bertanya pelan, menatap Rama dan Anika bergantian.


"Di rumah. Aku baru pulang dari kantor, langsung kesini. Kalau kamu kangen, kamu aja yang kunjungi dia," jawab Anika.


Wanita itu lantas duduk di ruang tamu, bersebelahan dengan Rama.


"Oh ya, kenapa Kaka Vanya nggak mau gabung ke perkebunan? Itu warisan dari Opa, aku merasa berat sebelah kalau cuman aku yang pegang," tambah Anika lagi.

__ADS_1


"Nggak apa-apa. Aku lebih suka di butik Mama, sambil belajar merancang pakaian," jawab Vanya, "Aku ke belakang sebentar. Mau kopi atau teh, Rama? Nika?" imbuhnya lagi.


"Kopi saja, Bu Vanya. Saya kalau malam gini minum teh, nggak nyaman," jawab Rama yang bersemangat.


Dan sebuah injakan di kaki Rama dari Anika, membuat Rama refleks menoleh. Anika mendelik sebal pada Rama kemudian.


"Beri teh aja, kak Vanya. Dia kalau malam gini minum kopi, nanti susah tidur. Siangnya ngantuk diajak kerja," timpal Anika kemudian, sambil menatap tajam Rama.


"Ya udah terserah mbak Nika aja," Rama tersenyum kaku, merasa segan dan salah ucap.


Dewa mengamati interaksi keduanya yang terbilang sangat dekat. Ada debar tak nyaman yang seharusnya tidak perlu Dewa miliki. Toh Anika sudah bukan lagi istrinya, namun mengapa getaran itu masih ada?


"Ya udah. Tungguin bentar," Vanya tertawa kecil, berlalu ke belakang untuk membuat teh. Tak lupa, wanita itu meletakkan buah-buahan yang dibawakan oleh Nika, ke dalam kulkas.


Hati Vanya menghangat, setelah sekian lama merasakan dingin akibat rasa bersalah berkepanjangan terjadi Anika. Vanya hanya berharap, Anika benar-benar tulus memberikan maafnya untuk dirinya. Cukup sudah Vanya menderita sejak pengkhianatan yang ia lakukan dengan Dewa, yang tertuju untuk Anika.


"Hah? Menikah?" Rama dengan cengohnya bertanya begitu pada Dewa.


"Ya, menikah. Bukankah Anika tiga tahun lalu bilang, kalau kalian ada kedekatan?" dewa balik bertanya. Kedua alis lelaki itu bertaut.


Lagi dan lagi, Anika kembali menginjak kaki Rama untuk yang kedua kalinya. Beruntung Rama bisa menahan desisan sakit di mulutnya. Ia hanya tidak mau saja, bila nanti harus ketahuan Dewa.


"Iya, secepatnya kami akan menikah. Kesibukan yang jadi penghalang. Rama sudah mendesak aku sih, tapi ya aku memang belum bisa ngomong lanjut ke Mama dan Papa," Jawab Anika kemudian.


Hingga kemudian Vanya muncul dari arah dapur, membawa nampan berisi tiga cangkir teh untuk Dewa, Anika dan Rama.


"Maaf ya, lama," ujar Vanya kemudian.

__ADS_1


Obrolan malam itu, diwarnai dengan canda tawa dari empat insan manusia itu. Berkali-kali, Vanya mengungkap kata maaf, dan berkali-kali pula, raut sesat tampak jelas di wajah Dewa.


Hingga malam tak terasa telah larut, Anika dan Rama pamit pulang. Anika merasa kunjungannya sudah cukup.


Saat di dalam mobil, Anika tersenyum lebar, saat mendapati getar di hatinya untuk Dewa sudah benar-benar musnah. Tak ada lagi cinta, tak ada lagi berat dalam melepaskan Dewa sepenuhnya dari hatinya.


"Rama, jadi, kapan kita menikah?" Tanya Anika tiba-tiba, saat Rama hanya diam sejak mereka pulang dari rumah Vanya tadi.


"Mbak Vanya, jangan mulai, deh," Rama mencebik tak suka dengan pertanyaan bosnya itu. Pasalnya, Rama ingin berhenti berharap, karena sadar diri dengan posisinya yang hanya sebagai asisten sekaligus sopir pribadi Anika.


"Aku nggak lagi bercanda, Rama. Kamu juga sayang banget sama Vio. Sini, aku bilang, mumpung kita berdua ada kesempatan bicara. Aku suka sama kamu, dan aku nggak mau bertele-tele. Kalau kamu beneran suka sama aku, ayo kita menikah. Tiga tahun ini aku mengamati, kamu lelaki yang baik dan tanggung jawab. Aku bukan lagi mikir tentang perbedaan strata sosial seorang, tapi aku hanya ingin sosok lelaki yang bisa melindungi ku, menyayangi aku dan Vio tentu saja. Jadi, apa yang membuat kamu masih ragu dengan perasaan ini?"


Anika menegaskan.


Dan Rama nyaris pingsan seketika. Lelaki itu mengerem mobilnya mendadak. Beruntung, kondisi jalanan sudah sepi karena malam telah larut juga.


"Mbak, saya masih sadar, kan? Saya, nggak mimpi, kan?" Rama bertanya dengan bodohnya.


"Kamu pikir aku bercanda?" Anika tertawa, menatap Rama serius kemudian, semua bisa mendalami pesona keindahan mata Rama.


"Aku nggak bercanda, Rama. Aku serius sekarang. Jadi, kamu menerima, atau menolak? Kalau aku pribadi, alsan aku suka sama kamu, karena saya melihat ketulusan di mata dan hati kamu. Hanya saja, saya seorang janda satu anak. Dan kamu berhak menolak aku, kalau kamu keberatan dengan status yang saya miliki," bisik lirih Anika, membuat dada Rama berdentum tak karuan.


"Mbak Vanya, serius?" tanya Rama lagi untuk memastikan.


"Ya, aku serius. Apa kamu keberatan dengan tawaran aku?" Anika balik tanya.


Dan Rama nyaris pingsan saat itu juga.

__ADS_1


**


__ADS_2