
"Siapa Bu Wandira? Kenapa dia sering ngirimin kamu chat berisi perhatian kecil yang seharusnya pantas di berikan kepada kekasih?
Maaf. Maaf sekali.
Aku nggak sengaja baca chat dari Wandira pagi tadi di ponsel kamu mas, waktu mas mandi. Mau menanyakan langsung, tapi kamu keburu berangkat kerja dan aku nggak mau mas terlambat".
Kenan mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Menimang-nimang kata yang sekiranya pantas ia ucapkan untuk meyakinkan istrinya.
"Dia rekan kerja aku. Tapi kamu nggak usah khawatir. Aku sama sekali nggak pernah meladeni dia, nja. Dia yang selalu deketin aku. Kalau kamu nggak percaya, kamu tanya aja Rio".
Ungkap Kenan pelan penuh kehati-hatian.
"Tanya mas Rio? Bukannya mas Rio itu sohib kamu? Kalau kalian bersekongkol, siapa yang berani jamin?".
Balas Anjani dengan suara pelan dan tenang, namun nadanya terkesan sinis. Anja terkekeh dalam hati saat ia menemukan celah untuk kembali mengerjai suaminya. Anjani ingin terlihat tegar dan terlihat tak mudah percaya pada apapun yang Kenan perlihatkan Padahal sesungguhnya, Anjani begitu percaya bahwa Ken akan selalu menjaga hati untuknya demi menjaga keutuhan dan keharmonisan rumah tangganya.
"Sayang, beneran deh.... aku sama sekali nggak ada hubungan apa-apa dengan Dira. Kamu lihat deh, cuma dia yang ngirim pesan sepihak ke aku tanpa aku balas. Kamu cek ponsel ku kalau kamu nggak percaya. Nggak ada satu pun pesan yang aku kirim ke dia sebagai balasan".
Kenan mulai terprovokasi oleh ucapan Anjani. Ia begitu panik saat ini, saat Anjani mulai mencurigainya.
"Bisa aja kamu hapus setelah kamu kirim balasannya.
Buktinya, dia nggak berhenti kirimin kamu pesan, Itu artinya kamu selalu balas pesan dia. Kalau kamu nggak ngirimin dia balasan, nggak mungkin dia akan chat kamu terus menerus dan berulang-ulang dengan memberikan perhatian".
Nada sinis kembali terdengar dari mulut Anjani yang tipis. Kenan semakin tak bisa mengontrol dirinya. Pemuda yang sudah berstatus sebagai ayah itu, semakin kacau. Belum sempat dirinya membalas kalimat sang istri, istrinya lebih dulu menyela nya.
"Mending sekarang kamu mandi. Habis itu kita makan malam".
Anjani berkata pelan lalu beranjak untuk menyiapkan pakaian suaminya. Kenan hanya bisa diam dan beranjak ke kamar mandi dengan wajah tertunduk lesu.
Saat suara gemericik air mulai terdengar menelusup menuju gendang telinga Anjani, Anja segera tertawa dan meledakkannya tersebab ia menyimpannya sejak tadi. Anja. begitu tidak tahan merasa gemas sendiri melihat wajah suaminya yang murung dan selalu seperti narapidana yang hendak di jatuhi hukuman mati.
Maaf mas, sejak hamil, anak kedua kita sering ngajakin aku ngerjain kamu kayaknya. Sepertinya, ini efek ngidam juga deh. Aku nggak bakalan berhenti ngerjain kamu kalau kamu nggak nangis kayak anak kecil di depan aku.
Oh, apa aku keterlaluan?
Bisik batin Anjani kemudian. Bodoh amat. Yang penting ia bahagia malam ini. Begitu pikirnya.
Hingga Anjani mendapati Kenan keluar dari mandinya.
__ADS_1
"Cepetan, mas. Ganti baju langsung kita turun buat makan malam".
Ajak Anjani dengan suara datar.
"Sayang. Beri aku kesempatan kalau aku nggak salah. Biar aku buktikan kebenarannya".
"Jangan buat moodku rusak, mas. Aku nggak mau kehiangan selera makan malam".
Kenan diam seketika dan bergegas memakai pakaiannya. Lantas ia turun beriringan dengan Anjani.
Saat Anjani marah, namun nada suaranya ketika berbicara malah datar begini, justru Kenan takut.
Ia tak mau membaut istrinya stress mengingat kandungan istrinya itu sedang dalam keadaan kurang baik belakangan ini.
Setibanya di ruang makan, mereka kemudian makan dalam diam. Tak ada obrolan yang berarti, namun Anjani tetap melayani suaminya di meja makan seperti biasanya.
"Di makan, mas. Kalau kamu nggak makan, aku akan semakin marah sama kamu".
Perintah Anjani pelan, ketika melihat suaminya itu hanya mengaduk-aduk makanannya sejak tadi. Bahkan Anjani hampir menandaskan sate dan Sepiring irisan lontong.
"Iya."
Usai makan, mereka kembali ke lantai atas menuju kamar.
"Nja, kamu masih marah?"
Ucap Kenan ketika melihat istrinya sejak tadi memunggungi posisi nya.
"He'em".
Sahut Anjani pelan. Ia hampir saja terlelap ketika suaminya mengajaknya bicara.
"Sayang".
Ken membalikkan pelan tubuh istrinya untuk menghadap ke langit-langit ruangan.
"Besok, kamu ikut aku ke kantor. Kamu bisa tanya sendiri sama Wandira. Please, nja. Jangan diemin aku kayak gini".
Rintihnya pelan. Anjani tersenyum. Terkesan tega, memang. Tapi ini kesempatan langka Anjani untuk bisa mengerjai Kenan.
__ADS_1
"Ya udah. Besok aku ikut kamu kerja. Sekarang kamu tidur, oke?"
Jemari Anjani membelai pipi Kenan sambil tersenyum.
"Kamu masih marah?"
"Sebelum aku dapat bukti yang valid, aku nggak akan berhenti marah sama kamu. Sekarang kamu tidur, ini sudah malam. Jangan sampai besok kamu nggak bisa buktikan kalau kamu nggak ada affair sama Dira".
Kenan semakin tak karuan. Lantas ia tidur dan merasa gelisah dalam tidurnya.
Malam telah larut ketika Anjani terbangun dari tidurnya. Di liriknya Kenan yang mendengkur halus di sampingnya.
Anjani ke kamar mandi sebentar untuk buang air kecil, kemudian minum air putih yang memang ia sediakan di atas nakas.
Baru meletakkan gelas yang ia gunakan untuk minum, Anjani mendali ponselnya. Idenya tercetus untuk menghubungi Kania dan mengajaknya mengerjai Kenan, sekaligus memberi pelajaran wanita yang bernama Wandira itu.
Lantas Anja mengetikkan sebuah pesan ke nomor Kania.
Kan..... besok bantuin kak Anja ngerjain mas Ken, ya. Sekalian bantu kakak kasih pelajaran sama bawahan kak Ken di kantor.
Dia udah godain mas Ken meski mas Ken nggak nge-respon. Besok ketemuan di kantor mas Ken, ya. Pukul 9. Ku tunggu.
Hati Anjani penuh keyakinan, Si wanita yang bernama Dira itu akan mampu menghadapi Kania yang bar-bar.
Anjani yakin. Sangat yakin.
....
....
Di episode berikutnya, yuk yang kangen dengan ke bar-bar an Kania, merapat segera. Kita sorakin Dira sama-sama.
Yuk sama-sama kasi support Kania dan Anja, ya.
Bagi yang senggang waktunya, sambil nunggu up Kenan dan Anjani, bisa mampir ke novelku yang lain, ya.
Judulnya, **Melati, cinta yang terkoyak.
Terima kasih. Selamat membaca❤️**
__ADS_1