
"Iya, Dan coba tebak, apa yang mereka lakukan? Winda udah menyabotase mobilku yang dikendarai mas Ken sewaktu mengalami kecelakaan. Aku tanya.... Mbak Anja bersedia kan melaporkan Winda ke polisi? Kalau nggak gitu, Winda nggak akan kapok dan Tante Mila nggak akan tau selamanya bahwa putrinya udah nekat berbuat demikian."
~part sebelumnya~
Anjani terhenyak. Fakta yang baru saja ia terima begitu sulit ia terima.
Mengapa ada wanita sekejam Winda?
Kania tengah mengandung dan hampir melahirkan. Dan Winda memiliki niat buruk yang bisa saja menghilangkan nyawa Niko?
Anjani melirik suaminya sekali lagi.
Melihat tubuh itu berbaring tak berdaya, Anjani semakin yakin untuk memberi pelajaran pada si Winda.
Dengan yakin, Anjani menarik nafasnya perlahan, kemudian berkata dengan penuh tekad, "Aku bersedia menjadi pelapor atas perbuatan Winda yang udah mencelakai mas Ken".
Niko menghembuskan nafas lega. Ia sudah mengantongi beberapa bukti dan kebetulan, ada saksi mata yang melihat dan mendengar perbincangan Winda dengan seorang wanita yang telah menyabotase mobil Niko. Kini tinggal menjalankan rencana selanjutnya.
"Ya udah mba, aku akan segera mengurus semuanya. Oh ya, gimana keadaan mas Ken? Maaf aku baru kembali sekarang. Karna aku harus menyelidiki semuanya. Untungnya, Andre asisten papa pria yang cekatan dan bisa menjadi partnerku dengan baik". tutur Niko menjelaskan. Anjani tersenyum.
"Nggak apa-apa, justru aku makasih kamu udah bantuin aku." Niko mengangguk. Ia menatap intens Anjani, wanita yang dulu menjadi objek taruhan Niko dan Kenan.
Anjani.....
Garis wajah ya lembut dan penuh kekeras kepalaan, Dialah wanita yang bisa menaklukkan Kenan. Membuat Ken bertekuk lutut hingga menangis saat Anjani meninggalkannya.
"Ada apa?" tanya Anjani pada Niko. Niko hany menggeleng pelan.
"Nggak ada apa-apa. Aku.... aku minta maaf atas sikapku dimasa lalu. Karna aku yang udah buat taruhan sialan itu, Kenan jadi banyak nyakitin kamu dan membuang jauh impian kamu", ungkap Niko tulus. Ada penyesalan yang Anjani tangkal di mata seorang Niko.
Anjani tersenyum tipis.
"Semua sudah berlalu, jangan di pikirkan. Aku udah memaafkan semua nya. Itu kan hanya bagian dari masa lalu? Lagian mas Ken udah mewujudkan mimpiku untuk memiliki butik. Semua lebih dari cukup untuk menebus kesalahan mas Ken di masa lalu." jawab Anjani bijak.
"Lagian, aku udah bahagia sekarang", lanjutnya lagi.
Niko menunduk malu. Kini, wanita yang dulu begitu di rendahkan karna hanya seorang anak dari pembantu, nyatanya memiliki hati seluas samudra, berjiwa besar dan bisa memaafkan kesalahan mereka di masa lalu.
Betapa beruntungnya Kenan.
__ADS_1
Dibalik status Anjani waktu itu yang hanya anak seorang pembantu, Anjani memiliki paras yang begitu cantik dengan sikap dan bawaan yang diangkut mah lembut.
"Makasih, kak Anja" ucap Niko kemudian.
Hingga suara lenguhan Kenan menyadarkan dua orang itu yang larut dalam pikiran masing-masing.
"Engggghhhhhh", Anjani dan Niko pun refleks menghampiri Kenan, dan sejurus kemudian, Niko keluar dari ruangan dengan langkah tergesa untuk mencari dokter.
............
Mila duduk termangu di ruang tamu. Ia menatap kosong pandangan di depannya. Ia merenungi kejadian sebulan yang lalu sebelum meninggalkan kota Banyuwangi.
Ada banyak kenangan masa lalu di sana. Terutama tentang Fandy. Masa lalu yang tak ingin ia kembali lagi. Mila melirik lagi jam dinding. Hari sudah mulai malam. Winda belum juga pulang.
Dua hari lalu, Winda berpamitan pergi untuk menyelesaikan tugas penelitian dari kampusnya.
Lumajang.....
Tempat tinggal Mila yang sekarang adalah di Lumajang. Ia sengaja memilih Lumajang karna banyak kerabat almarhumah ibu Mila yang ada di Lumajang. Selain daerahnya cukup asri, di Lumajang juga tak mungkin ia akan bertemu kembali dengan fandy dan keluarganya yang sudah bahagia. Mila begitu enggan kembali ke masa lalu dan menyakiti siapapun.
Ada perasaan tak nyaman yang Mila rasakan saat ini. Mila pun beranjak menutup pintu dan menguncinya. Berjalan perlahan ke kamar untuk menghubungi putrinya.
Tidak aktif?
Mila gelisah.
Suara pintu tiba-tiba saja terketuk dari luar, suara Winda yang begitu familier menyapu gendang telinga Mila.
"Winda? Kok malem datangnya? Katanya sore?", Tanya Mila sesaat setelah pintu terbuka.
"Assalamualaikum", ucap Winda menyindir ibunya.
"Wa'alaikum salam" jawab Mila seraya tersenyum.
"Agak telat ma. Tadi ada sedikit kendala pas mau pulang."
"Ya udah, kamu pasti capek. Mandi terus istirahat gih." lanjut Mila lagi sambil menyambar tas putrinya, berniat membantunya m mbawakan ke dalam. Winda tersenyum. Ibunya ini, begitu ramah dan suka menolong. Pantas saja dulu almarhum ayahnya sangat mencintai Mila.
...............
__ADS_1
Pagi menyapa, Winda bangun pagi-pagi sekali dengan semangat yang luar biasa. Hari ini, Winda berencana untuk cuti kuliah. Ia ingin istirahat dan menghabiskan waktunya bersama ibunya.
Beberapa hari pergi menjalankan misi gagalnya untuk mencelakai Niko, membuatnya jarang bertemu ibunya. Hari ini, Winda berencana menebusnya dengan kebersamaan sampai seharian.
Winda bangkit dari tidurnya dan menghampiri suara gaduh ibunya di dapur masih dengan mengenakan piyama berwarna hijau. Pagi seperti ini, pastilah ibunya menghabiskan waktunya di dapur.
"Pagi, mama...", ucap Winda mengejutkan Mila.
"Eh pagi, sayang. Udah bangun aja nih. Mandi cepet gih keburu telat kuliah".
"Winda libur, ma. Capek. Pengen istirahat", Mila tersenyum mendengar pernyataan putrinya.
"Ya udah kamu istirahat. Mama lanjutin masak.."
"Ma... Winda mau di masakin oseng udang sama pe......"
tok tok tok
"Assalamualaikum, selamat pagi.....".
Kalimat Winda berhenti begitu saja saat pintu di ketuk dan suara orang laki-laki asing terdengar.
Mila dan Winda pun saling tatap tanda tak mengerti.
"Wa'alaikum salam, iya sebentar" jawab Mila seraya mematikan kompor. Mila pun bergegas untuk membuka pintu dan di ikuti Winda di belakangnya.
Setelah pintu terbuka, Mila mengerutkan kening ketika melihat tiga orang pria bertubuh besar mengenakan seragam kepolisian.
"Maaf, apa ini kediaman saudari Winda Iftitah Humaira?".
"Iya, pak betul. Ini ada apa ya pak?".
"Kami dari kepolisian ingin menyampaikan bahwa saudari Winda harus ikut kami ke kantor polisi untuk memberi keterangan tentang percobaan pembunuhan terhadap saudara Kenan Nayaka Mahardhika beberapa hari yang lalu. Ini surat penangkapannya." ungkap seorang polisi dengan menyerahkan sebuah surat berlogokan kepolisian.
Mila terkejut bukan kepalang.
Mahardhika? Apakah Winda beberapa hari yang lalu pergi ke Banyuwangi dan mengusik keluarga Fandy lagi?
Mila shock.
__ADS_1
Winda pun sudah pucat pasi.
🌹🌹🌹🌹🌹