PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 37


__ADS_3

Berada dalam sebuah kondisi kejatuhan setelah hidup mewah dan serba ada, membuat Dewa dan Vanya mengalami kesulitan. Terlebih ibukota yang terkenal dengan kejamnya.


Sudah sebulan lebih Dewa tak juga mendapatkan pekerjaan pasca ia dikeluarkan dari perusahaan. Kini, perusahaan tempat ia menjadi pimpinan, telah dipegang oleh sang adik, Diana.


Kabar ini tentu saja sampai juga ke telinga Anjani. Wanita itu sudah empat hari ini, mendengar tentang di depaknya Dewa dari perusahaan keluarganya. Ibu mana yang tega, membiarkan anak dan menantunya dalam kesulitan ekonomi selama sebulan lamanya?


Meski Dewa dan Vanya tak jatuh miskin sekali, tapi setidaknya Anjani bisa sedikit lega karena Vanya dan Dewa masih bisa melangsungkan hidup berkat sisa-sisa tabungan Vanya. Perkiraan Anjani, Dewa pun pasti memiliki tabungan.


Terlebih, proses perceraian Dewa dan Anika tengah berlangsung.


"Ada apa?" Kenan muncul sambil melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya yang mancung.


"Aku dapat kabar, kalau Dewa di keluarkan dari perusahaannya, mas. Gimana sama mereka sekarang? Vanya juga nggak pernah ngasih kabar kalau dia dalam kesulitan sekarang." Ungkap Anjani.


"Apa? Kamu tahu darimana?" Tanya Kenan yang terkejut atas pernyataan istrinya itu. Pasalnya, Kenan tak mendengar kabar apa pun mengenai Dewa dan Vanya hingga saat ini.


"Aku dapat kabar dari seseorang, teman arisan aku yang beberapa hari lalu ke Jakarta. Dia juga sempat menyambangi tempat tinggal Vanya dan Dewa. Bahkan sampai sekarang, Dewa nggak juga dapat pekerjaan. Gimana, mas?" Tanya Anjani. Wanita itu menyandarkan bahunya pada sandaran sofa yang empuk, sedikit merasa nyaman.


Seburuk-buruk Vanya, dia tetaplah anak Anjani. Anjani tak mungkin terus menerus membenci kebodohan Vanya.


"Telepon Vanya, tanya kepastiannya, kalau memang dia dalam kesulitan, suruh pulang, aku akan bantu Carikan Dewa pekerjaan. Aku nggak mungkin nutup mata untuk kesulitan anakku." Ungkap Kenan. "Seburuk apa pun dia, dia tetap anakku.


"Aku memang terkesan membuang Vanya dan nggak begitu perhatian sejak dia menikah sama Dewa. Kamu harus memahami, kalau aku benar-benar kecewa sana anak itu. Meski di masa lalu kita juga pernah berdosa besar, namun kali ini situasinya lain. Andai Dewa bukan suami orang, terlebih itu Anika, aku nggak mungkin sekecewa ini sama dia. Mungkin aku hanya perlu waktu untuk bersikap kembali hangat sama Vanya." Ungkap Kenan panjang lebar.


"Baiklah, mas. Aku paham. Kalau memang sekiranya Dewa nggak dapat pekerjaan disini, Gimana kalau kita serahkan butik ke Dewa untuk dia urus?" Tanya Anjani. "Aku ingin istirahat di rumah, mas."


"Kita bicarakan nanti, kalau mereka udah ada disini." Ungkap Kenan kemudian. "Yang penting sekarang, kita perlu membantu Vanya kalau dia sedang dalam kesusahan."

__ADS_1


Jauh di lubuk hati Kenan sebagai seorang ayah, Ia sangat menyayangi Vanya, bahkan setelah semua aib yang Vanya lakukan dalam keluarga mereka. Kadar kasih sayang Kenan tak berkurang. Hanya saja, Kenan masih seperti sulit menerima kenyataan secepat itu. Benar apa yang ia katakan, ini hanya perkara waktu.


"Oh ya, perkebunan sudah diurus oleh Anika. Aku sedikit ringan sekarang, mungkin aku hanya akan mengontrol laporan setiap Minggu, dan datang langsung kesana sebulan sekali." ungkap Kenan.


"Baguslah kalau gitu, semoga aja Nika bisa menerima Vanya kembali sebagai saudara, meski sakit hatinya akan terus membekas sampai kapan pun. Aku pengen banget ketemu Anika, ngobrol bareng dan minta maaf atas semuanya."


"Mungkin lain waktu. Ini juga udah sebulan lebih dari tragedi tragis dalam hidup Anika. Aku juga ingin ketemu dia secara pribadi lain waktu. Kapan-kapan, kita akan ngundang Anika kesini."


Anjani mengangguk, membiarkan Obrolan mengenai Anika tenggelam dan digantikan dengan topik ringan mengenai urusan rumah tangga keduanya.


**


Di sudut lain, Anika tengah berjalan santai menuju mobilnya. Lembur adalah salah satu alternatif terakhir Anika yang seringkali menjadi senjata pamungkas, untuk melupakan Dewa. Alhasil, lebih dari satu bulan, Anika bisa bangkit dan kembali ceria lagi.


Meski kerap kali Anika menangis di dalam kantor karena kelelahan, maka saat itulah Dewa dan Vanya dengan segala pengkhianatan mereka, kembali muncul menghiasi kepala Anika. Tak jarang, kadang Anika mengajak Rama untuk sekedar makan bersama, demi bisa mencari kesibukan agar ia terhindar dari bayangan pengkhianatan Dewa padanya.


"Mbak Anika, maunya kemana?" tanya Rama kemudian. Seperti biasa, Rama memang terlihat tak pernah lelah.


"Keluar, yuk. Jalan-jalan." Ajak Nika.


"Jalan-jalan? Tapi, saya belum mandi, mbak." Ungkap Rama. "Masih bau ketek ini."


"Aku juga belum mandi. Nggak apa-apa, lah. Kita ke mall aja, ya?"


"Baiklah, mbak. Mbak Anika mau belanja?"


"Enggak. Mau mandi!" Anika berubah ketus seketika. "Mana mungkin ke mall sekedar mandi? Ya jelas belanja lah. Kenapa harus pakai tanya, sih?" Tanya Anika.

__ADS_1


"Mbak Nika jangan marah-marah, nanti cantiknya hilang." Ungkap Rama sambil terkekeh. Semenjak bertemu dengan Anika, mood Rama selalu berubah baik.


"Emangnya aku cantik?" tanya Anika kemudian.


"Cantik. Sayangnya, masih nggak bisa move on dari pak Dewa." Ungkap Rama.


Alhasil, Anika yang saat itu tengah memegang dompet, segera melempar dompetnya itu pada Rama. Tentunya Rama hanya tergelak dibuatnya.


"Sekali lagi kamu ngomongin Dewa, aku cincang kamu." Jawab Anika sambil tertawa lepas. Entah mengapa, setiap Rama menggodanya dan mengaitkannya dengan Dewa, Anika tak pernah bisa marah. Wanita itu hanya bisa tertawa. Marahnya Anika, hanya sekedar berpura-pura.


Mungkinkah rasa di hati Anika untuk Dewa, sudah luntur?


Alih-alih marah, Anika selalu bersyukur, memiliki sopir yang ramah, humble, dan pandai membawa diri dalam setiap suasana hati Anika.


"Maaf, bu." Ungkap Rama dalam sisa-sisa gelak tawanya.


"Next, kalau kamu masih ngomongin Dewa, aku pastikan kamu akan aku hajar sampai mampus. Dari Dewa kamu harus belajar, bahwa ketidaksetiaan bisa membuat semuanya hancur. Kamu Harus benar-benar selektif dalam mencari pasangan hidup." ucap Anika serius.


"Iyalah, mbak. Kayak mbak Anika contohnya." ungkap Rama, membuat Anika melempari Rama dengan lipstik yang ada dalam genggamannya baru saja.


"Sekali lagi kamu menggombal, saya bunuh kamu." Ucap Anika yang membuat Rama tergelak.


Setiap waktunya, Rama yang begitu piawai dalam membawa diri itu, semakin dekat saja dengan Anika. Tanpa Anika sadari, berbagai tingkah Rama yang cukup menghibur itu, cukup memiliki andil besar dalam membuat Anika menepis bayangan Dewa dari hati dan otaknya.


**


Makasih buat teman-teman yang udah setia terus mengikuti kisah ini. Ini hanya sekedar haluan semata, ya. Sampai jumpa part selanjutnya.

__ADS_1


Salam santun dari Istia.


__ADS_2