PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 12


__ADS_3

Malam ini, rembulan memancarkan sinarnya dengan sangat sempurna. Memberikan cahaya bagi semesta, tapi tidak dengan Anjani.


Sudah seminggu berlalu setelah kepulangannya dari villa. Anjani di buat kecewa karena kini, Ken mulai menunjukkan sikap dinginnya pada Anjani.


Kini, Anjani tengah duduk seorang diri di gazebo belakang rumah. Tempat yang biasa di gunakan Kenan untuk menyelesaikan tugas kampusnya.


Tidak ada lagi notifikasi pesan berupa perhatian Ken pada Anjani. Mendapati fakta ini, Anjani mulai dilanda kegelisahan. Bagaiman jika Ken tidak menepati janjinya sebelum mereka melakukan hubungan intim malam itu.


Rasa takut perlahan menyusup kedalam relung hati Anjani. Pikiran tentang kemungkinan - kemungkinan buruk mulai hinggap dalam otaknya. Anjani tergugu. Perlahan, air matanya menetes dan semakin deras.


"Hai, Nja?", Kania datang tiba-tiba. Anjani terkejut dan refleks mendongakkan kepalanya, buru-buru Anjani mengusap air matanya. Sedangkan Kania yang melihat Anjani menengis, mendadak mendekat sambil mengerutkan keningnya.


"Loh nja, kenapa? Apa ada masalah?", Anjani hanya menggeleng kan kepalanya dan memaksakan untuk tersenyum. "Kalau ada apa-apa cerita ngomong aja nja. Kita kan udah kayak saudara. Apa ada yang menyakitimu?", Sambung Kania lagi.


"Mungkin", jawab Anjani dengan suara lembutnya. Anjani selalu seperti ini. Tindak tanduknya mencerminkan bahwa Anjani wanita baik-baik. Namun sayangnya, Kenan tidak dapat melihat Anjani dari sisi ini. Kenan seperti buta.


"Ngomong aja siapa nja. Aku akan bikin perhitungan sama tu orang. Lo tenang aja. Lo jujur deh sama gue", desak Kania saat itu.


'Kakakmu udah ngambil semuanya dariku dan sekarang dia mengingkari janjinya. Jika aku ngomong gini, apa kamu masih mau perhatian lagi sama aku, non Kania?'


Ingin sekali Anjani menjerit demikian. Namun, entahlah, Anjani tidaklah memiliki kemampuan seperti itu. Anjani hanya tipe gadis pendiam yang enggan membagi masalahnya sendiri.


Anjani bangkit dan meninggalkan Kania yang penuh dengan sejuta tanya.


Setibanya di pintu belakang, Anjani berpapasan dengan Kenan. Anjani enggan menyia-nyiakan waktunya dan segera meraih tangan Kenan, sebelum Kenan menghindarinya lagi seperti kemarin-kemarin.


"Mas, seminggu ini kenapa kamu menghindari ku? Apa salahku sama kamu?".


"Jangan pernah mendekatiku lagi, Anjani. Lo sama sekali nggak pantes buat gue".


degg....

__ADS_1


Anjani tersentak mendengar ucapan Kenan.


"Kenapa, mas?".


"Lo nggak ngaca? Betapa murahannya Lo. Bahkan ******* aja memberikan harga untuk diri mereka. Bukannya Lo ngasih diri Lo sendiri tanpa ngasih harga?", jawab Kenan dengan nada dinginnya.


Seluruh tubuh Anjani mendadak lemas seperti jelly, Anjani limbung dan bersimpuh di lantai.


"Setelah semua yang aku korbankan, mas Ken tega menghindari ku dan mengingkari janji mas Ken sendiri?". ucap Anjani lirih. Anjani sudah tak memiliki tenaga lagi setelah mendengar pernyataan Kenan.


"Minggir!! Gue nggak sudi punya pendamping hidup wanita gampangan kayak Lo. Antara kita, nggak ada apapun lagi. Dan ingat!! Jangan pernah deketin gue lagi. Murahnya diri Lo, udah membuktikan bahwa Lo nggak memiliki apapun lagi sekarang untuk bisa Lo banggain. Gue nggak akan kasih kebahagiaan buat Lo.". Tegas Kenan dan berbalik pergi meninggalkan Anjani yang hancur berkeping-keping.


Setelah beberapa saat berlalu, Bu Tarsih datang dengan membawa keranjang berisi cucian kering di tangannya yang hendak ia setrika. Bi Tarsih pun terkejut melihat keadaan putrinya yang berantakan seperti ini.


"Nja, Kamu kenapa?". Ucap bi tarsih lirih.


"Maafkan Anja, Bu". Ucap Anjani sembari berhambur ke dalam pelukan ibunya.


"Lho, kamu kenapa to, nduk? Ndak biasanya kamu kayak gini. Ayo berdiri. Kita ke kamarmu saja. Jangan menangis disini. Ndak enak kalau sampai di lihat tuan sama nyonya", Ajak bi Tarsih lembut. Anjani mengangguk dan segera pergi ke kamar dengan langkah tertatih.


.............


Tiga bulan berlalu setelah kejadian itu, Anjani lebih menutup diri. Belakangan ini Anjani sering mengalami demam dan selalu memuntahkan makanan yang berusaha ia telan.


Fandy dan Nawal yang merasa ada yang tidak beres pun, segera berinisiatif memanggil dokter kenalan meeka untuk memeriksa keadaan Anjani.


Hingga dokter tiba dan menyatakan bahwa Anjani tengah positif mengandung. Semua orang tentu terkejut dengan berita ini. Anjani selama ini di kenal sebagai pribadi yang rajin serta penurut, mana mungkin Anjani pernah terlibat skandal dengan laki-laki yang bukan mahram nya?


Namun, semua sudah terjadi.


Ken yang baru tiba pun dibuat terkejut setengah mati karena mendengar kabar itu dari Kania, adiknya. Seluruh tubuhnya menegang dan rahangnya mengeras.

__ADS_1


Saat ini, semua orang tengah berada di kamar Anjani. Kondisi Anjani saat ini sangatlah lemah, jadi semua orang membiarkan Anjani tetap bersandar di kepala ranjang. Bi Tarsih yang duduk tak jauh dari Anjani, Tek henti-hentinya menangis.


"Jadi, Anjani, Siapa sebenarnya ayah dari bayi yang kamu kandung?", tanya Nawal. Bukannya menjawab, Anjani malah semakin menangis. Kali ini, Anjani tidak tau harus apa. Untuk bicara jujur pun, pastinya Kenan enggan untuk bertanggung jawab. Dimata pria itu, Anjani tidaklah lebih dari sekedar seonggok daging busuk tak berharga.


"Sa... saya.... ehm saya... Tidak nyonya. Lebih baik tidak ada seorang pun yang tau. Ay... ayah dari bayi ini tidak Sudi lagi melihat saya. Ba-bagaimana mungkin di-dia mau bertanggung jawab?", ucap Anjani dengan suara bergetar dan terbata-bata. Anjani merasa ketakutan saat ini.


"Nggak apa-apa Anjani, kamu harus jujur. Kalau dia tidak tanggung jawab, Kami bisa menekannya agar tak lari begitu saja dari tanggung jawab", sambung Fandy yang sudah mulai gemas dengan tingkah Anjani".


"Ti-tidak tuan, Semua ini ka-karna kebodohan saya. Ya, mu-murni kebodohan saya. Sa-saya minta maaf dan siap pergi dari sini karna sudah me..mengecewakan tuan dan nyonya".


"Bagaimana kami bisa membiarkanmu pergi dalam kondisi seperti ini Anjani? Yang kamu alami ini bukan hal sepele. Nyawa dan masa depan anakmu yang jadi taruhannya. keluarga kami sudah menganggapmu seperti putri kami sendiri. Jadi kami tidak akan mengizinkanmu kemana-mana". sela Nawal dengan nada yang sedikit meninggi.


"Anjani, tatap mata saya. Sekali lagi saya tanya, siapa yang sudah menghamilimu?", Ucap Fandy lagi dengan menekankan kalimatnya. Fandy sudah enggan mendengar jawaban Anjani yang terkesan bertele-tele.


Anjani mendongak dan memberanikan diri untuk menatap sang majikan.


"M-ma...ma mas Kenan", Jawab Anjani lirih kemudian menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Sontak semua mematung karena terkejut dengan jawaban yang dilontarkan Anjani begitu memukul telak keluarga Mahardhika.


"kania, panggil mas mu kemari!", tegas Fandy yang mulai murka.


🌹🌹🌹🌹


Hai hai hai....


sekedar ngasih kabar ya kakak-kakak readers,


Sebenarnya, episode 11 udah up dari kemaren, tapi masih dalam proses review ya.. dimohon untuk bersabar ya readers sekalian...


Untuk typo-typo sialan yang bertebaran di part awal, neng Tia bener-bener minta maaf yah... neng tia khilaf😂😂

__ADS_1


Tetep dukung neng Tia ya... jangan lupa tinggalkan jejak dengan kasih like, love, vote, dan komen, biar neng Tia lebih semangat ngetiknya.


~Salam santun dari neng tia~


__ADS_2