PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 67


__ADS_3

Tak terasa, kini usia kandungan Kania telah memasuki usia sembilan bulan.


Hampir satu bulan yang lalu, Mila pergi entah kemana membawa pergi putrinya.


Mila dan Winda hilang begitu saja tanpa kabar dan tanpa pamit. Padahal, Nawal dan Fandy tak keberatan jika mereka menjalin hubungan baik. Bagi mereka, masa lalu tetaplah akan menjadi masa lalu dan kenangan.


Sedang Fandy, ia tak ambil pusing dengan kepergian Mila. Baginya, kebahagiaan dan prioritas utamanya adalah keluarga.


Sedang Kania, rumah tangganya telah kembali bahagia tanpa hadirnya orang ke tiga.


Namun entah mengapa, perasaannya kini mendadak tidak enak.


Begitu pula dengan Anjani.


Sore ini, Anja dan Kania tengah duduk santai berdua di taman kota.


Sedang Vanya, Anak itu lebih sering bersama Nawal akhir-akhir ini.


Butik yang di kelola Anjani juga berkembang pesat, semua itu juga berkat bantuan Kenan yang banyak mengajarkannya tentang bekerja keras.


Kehidupan Anjani berubah drastis. Kini, kesehariannya di penuhi dengan kebahagiaan. Segala kebutuhannya tercukupi, apa yang di miliki Kenan, sudah Kenan ikrarkan bahwa semua itu juga milik Anjani.


Vanya kesehariannya lebih sering bersama Nawal. Sehingga Kenan dan Anjani lebih bebas melakukan aktifitas berdua, lebih mirip terlihat seperti sepasang kekasih.


"Kak....


Aku merasa... belakangan ini, firasatku nggak enak. Kenapa ya??".


Tanya Kania dengan pandangan matanya menerawang jauh.


Anjani menelisik lebih dalam raut wajah adik iparnya ini. Meski usia mereka hanya terpaut beberapa bulan, namun sikap dan pembawaan Anjani jauh lebih dewasa di banding Kania.


"Mungkin hanya firasat.


Jangan di pikirkan. Dan jangan berucap sembarangan. Setiap kalimat itu tak ubahnya doa. Jadi berhati-hatilah.Tetep berpikir positif aja. Semoga semua baik-baik saja". Anjani menasehati.


"Ya.... Moga-moga aja sih".


Dering ponsel Kania menghentikan perbincangan mereka.


Nama suaminya tertera di sana.


Segera saja Kania mengangkatnya.


"Iya, mas.... Aku di taman kota sama kak Anja". ucap Kania.

__ADS_1


"Sayang....


Bawa kak Anja ke rumah sakit sekarang.


Mas Kenan kecelakaan dan sekarang di bawa ke IGD. Jangan terburu-buru. Pelan aja yang penting selamat".


Ucap Niko mengabarkan dengan suara setenang mungkin.


"Apa?", sentak Anjani kemudian.


Wajahnya sudah pucat pasi, bibirnya bergetar begitu pula dengan matanya yang mulai memerah.


Anjani yang berada di sebelah Kania persis tentu saja mendengar apa yang niko ucapkan di seberang sana.


"Ii iya mas.... Di rumah sakit mana kirim lewat pesan. Aku berangkat sekarang".


Jawab Kania tanpa menunggu jawaban suaminya.


Sekuat tenaga Anjani mengangkat tubuhnya sendiri untuk melangkah.


Kania yang juga tengah hamil besar tak bisa membantu terlalu banyak.


"Ayo kak... kita ke rumah sakit sekarang. Pelan-pelan aja kak."


Mereka pun menuju mobilnya dan Kania yang mengambil alih kemudi. Kondisi Anjani yang cukup shock saat mendengar kabar suaminya kecelakaan tak memungkinkan untuk ia membawa kemudi.


Anjani dan Kania tiba di sebuah rumah sakit yang cukup besar.


Setelah beberapa saat lalu Niko mengirimkan pesan Kania tentang letak ruangan Kenan di tangani.


Air mata tak henti-hentinya mengalir dari wajah cantik Anjani, meluruh membasahi pipi hingga Khimar yang di kenakannya. Begitu juga Kania yang juga mengalami shock dan terkejut mendengar kabar kakaknya mengalami kecelakaan.


"Mama..." Pekik Anjani tatkala melihat Nawal yang mondar mandir dengan air mata berderai di depan ruangan dimana Ken di rawat.


Nawal pun berhambur memeluk menantunya, saling merengkuh dan berbagi kekuatan.


"Sayang.... Yang tabah ya.. Suami mu masih di tangani. Jangan sedih. Jangan nangis. Suamimu pasti lah akan selalu baik-baik saja. Kita berdoa saja ya, sayang" Ucap Nawal dengan telapak tangan kanannya mengusap pelan punggung menantunya.


Hatinya perih bukan main saat melihat putranya terbaring lemah tak berdaya.


Vanya masih kecil, usia Ken juga masih sangat muda. Hati ibu mana yang tak rapuh mendapati kenyataan ini?


"Gimana bisa, ma? Mas Ken selalu berhati-hati saat berkendara. Gimana bisa terjadi?", Tanya Anja Seraya merenggangkan pelukannya terhadap ibu mertuanya. Mertua yang ia anggap sebagai ibunya sendiri.


"Nak... Sudah...

__ADS_1


Kenan butuh doa tulus kita sebagai orang-orang terkasihnya. Jangan sedih. Biar bagaimana pun, ada Vanya yang butuh kasih sayang kita semuanya. Ini bukan saatnya kita menangis."


Nasihat Fandy dengan bijak.


Raut wajahnya sangat kebapakan meski tubuhnya masih sispac seperti masih muda.


"Vanya..... Dimana Vanya, ma?" Tanya Anjani dengan bingung karna tak mendapati putri semata wayangnya itu.


"Di rumah, sayang. Ada pengasuh yang menjaganya. Mama nggak mau Vanya kesini dan terkontaminasi banyak penyakit.


Zhivanya masih kecil, dia rentan terkena penyakit kalau datang ke tempat seperti ini". Ucap Nawal. Anjani pun bernafas lega.


"Mas... Ini Gimana kejadiannya kok bisa mas Ken kecelakaan? Kecelakaan tunggal atau gimana?" Tanya Kania pada suaminya yang juga tegang.


"Mas Ken pakai mobil kita, sayang. Tadi pas aku berangkat, mobil baik-baik aja. Nggak ada yang aneh apa lagi mengganjal. Aku emang janjian karna mau ketemu sama temen papa, kebetulan juga sama papa. Pas aku mau berangkat, mas Ken nyuruh aku mampir ke distronya pakai mobilnya karna ada barang bawaan yang mesti mas Ken antar ke distro. Nah, mas Ken sendiri pakai mobil aku karna maunya langsung meluncur ke tempat papa janjian sama papa.


Aku nggak tau tiba-tiba aja di kabari papa kalau mobil mas Ken nabrak pembatas jalan yang tak jauh dari cafe.


Aku... aku bner-bener menyesal. Harusnya Aku yang terbaring di dalam. Bukan mas Kenan.".


Niko menyampaikannya dengan gemetar. Ada rasa takut yang menderanya. Rasa bersalah itu dirasakan oleh Niko.


Niko benar. Harusnya, Niko lah yang celaka. Harusnya, Niko lah yang terbaring di dalam.


Namun kini, Kenan lah yang menjadi korban.


Kania memeluk erat suaminya. Menyalurkan ketenangan yang memang saat ini Niko butuhkan.


"Udah mas, gapapa. Mungkin mobil kita emang bermasalah dan itu mendadak.


Jangan menyalahkan diri kamu. Berdoa aja mudah-mudahan mas Ken baik-baik aja".


Ucap Kania.


Fandy mengernyitkan dahinya bingung.


Mobil bermasalah dan paginya tidak ada apa-apa.


Ini pasti ada yang tidak beres.


Dengan sigap, Fandy merogoh ponselnya dan berjalan menjauh agar obrolannya kali ini tak terdengar oleh anak, istri dan menantunya.


"Hallo, Andre....


Tolong cek CCTV yang merekam kejadian tadi pagi di tempat dimana mobil menantuku, Niko di parkir di resto".

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2