
"Kita nikah yuk?".
Uhuk uhuk uhuk uhuk.......
~parst sebelumnya~
Niko tersedak makanannya sendiri. Bagaimana tidak?
Pagi-pagi buta seperti ini, ia sudah di lamar oleh gadis labil adik dari sahabatnya sendiri.
Dengan sigap, Kania segera memberikan air minum dan segera di sambut oleh Niko.
"Tuh, kan. Mas Niko keselek. Makanya, mas Niko harus nikah secepatnya. Biar apa? Biar mas Niko ada yang rawat, ada yang jagain. Kalau ada apa-apa biar ada yang urus." Kania mengoceh tanpa menghiraukan ekspresi wajah Niko yang nampak seperti orang bodoh.
"Ayo makan lagi". Ajak Kania. Niko mendengus dan dengan terang-terangan ia menolak Kania.
"Aku udah kenyang. Kania... udah deh mending kamu balik. Harusnya kamu nggak di sini Kania. Kamu jangan nikah muda. Kamu tau nggak? Nikah itu nggak gampang. Harus cari suami yang sepadan dengan kamu. Kamu....".
"Dan mas Niko lah yang sepadan dengan Kania".
Jawab Kania tegas tanpa membiarkan Niko melanjutkan kalimatnya.
"Mas Niko, Aku sayang sama mas Niko". Suara Kania melirih, "Ayo habiskan dulu makanannya, setelah itu aku pulang".
Mendengar Kania yang akan pulang, Niko pun dengan cepat menghabiskan makanannya dengan masih di suapi Kania.
"Kania, Kamu.....", Niko mendadak merasa bersalah. Sedang Kania menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu harus kuliah dan jadi orang sukses". Lanjut Niko kemudian. Kania terkekeh pelan dan menatap intens Niko.
"Kamu tenang aja, mas. Aku akan kuliah kok, tapi nanti. Setelah aku melahirkan anak kita", Niko menahan nafasnya hingga sepersekian detik. Sungguh. Niko sungguh tidak habis pikir dengan Kania ini. Bahkan, Niko saja tidak sampai terpikir ke arah sana.
'Kelar idup gue setelah ini ya gustiiiii'
Batin Niko menjerit.
"Udah, kan? Ayo aku anter pulang?", Niko beranjak dan sudah tak sabar lagi untuk sendiri saja. Berlama-lama dekat dengan Kania bisa membuat darah Niko bertekanan tinggi.
Kania yang mendapat respon Niko pun salah mengartikan, Kania menganggap Niko perhatian dan mulai suka padanya. Padahal Niko hanya ingin segera menyelesaikan pekerjaannya tanpa di ganggu Kania.
Oh Kania.... Sungguh labil dirimu.
__ADS_1
Setibanya di rumah, Kania segera turun dari mobil. Ia memaksa Niko untuk mampir sebentar dan Niko tentu saja menolak dengan alasan pekerjaan.
...................
Satu bulan berlalu.
Keluarga Fandyka semakin menghangat, di tambah lagi kehadiran Vanya yang begitu lucu dan menggemaskan.
Begitu juga dengan Kania yang masih ketol untuk mendekati Niko yang terus saja menghindarinya. Rencana Nawal dan Fandy untuk memasukkan Kania ke sebuah universitas ternama, kini gagal total.
Bagaimana tidak? Kania tetap enggan berangkat ke kampus meski Nawal sudah mengomel sepanjang hari. Bahkan sempat Kania kabur dari rumah selama dua hari dan kembali pulang setelah kartu kredit dan ATM nya di blokir oleh Fandy.
Beruntungnya, saat ini rumah tangga Kenan dan Anjani tengah baik-baik saja.
Hari yang di tunggu sudah tiba untuk Anjani. Hari ini adalah hari dimana Anjani mulai masuk sekolah kelas dua belas di sebuah SMA swasta.
Anjani ketinggalan banyak pelajaran, bahkan ia harus mengulang beberapa materi. Tapi, semua demi impian Anjani untuk menjadi orang sukses. Mengulang kembali banyak materi bukanlah apa-apa. Asal Anjani bisa kembali mendapat pendidikan.
Dengan tekad yang begitu besar, Anjani memulai hari ini dengan niat. Dengan diantar Kenan menuju sekolah barunya, Anjani membawa harapan untuk bisa sukses agar pantas menjadi pendamping kenan. di masa depan.
"Mas, makasih ya untuk semuanya. Kamu udah ngembaliin kepercayaan diri aku. Kamu membangun kembali harapan dan semua impianku. Terima kasih banyak karna kamu ngasi aku kesempatan untuk mulai memantaskan diri menjadi pendamping hidupmu."
"Kamu nggak usah berterima kasih gitu sayang. Udah seharusnya aku menebus semua kesalahan aku. Harusnya, aku yang minta maaf karna sempat merenggut impianmu gitu aja. Maaf untuk semua", Anjani mengangguk, sedang Kenan kembali fokus pada jalanan di depannya.
....................
Di hari yang sama di rumah Fandy, Kania dengan semangat yang menggebu-gebu, berkutat dengan adonan kue yang ia buat khusus untuk calon suaminya, Niko katanya.
Selama satu bulan ini, Kania berhasil memasak beberapa resep kue dengan sukses. Begitu juga dengan banyak olahan daging dan sayuran, sudah banyak resep yang Kania kuasai.
Nawal tak habis pikir dengan Kania yang tak mempan dengan berbagai ancaman.
Siang ini, Kania sudah mulai menata kukis buatannya ke dalam toples kecil. Fandy pulang dari resto segera di sambut hangat oleh Nawal. Begitu juga dengan Kania yang segera mengulurkan kukis buatannya ke arah sang papa. Fandy tersenyum dan merasa bangga dengan perkembangan Kania yang sudah mahir di dapur.
"Enak nggak pa?", tanya Kania dengan menaikkan kedua alisnya. Fandy mengangguk dan mengulas senyum tipisnya.
"Enak. Enak banget malah".
"Makasih ya pa".
"Sayang, Papa udah daftarin kamu masuk kuliah di universitas pilihan papa. Besok kamu harus sudah mulai aktif ke kampus dan papa nggak mau ada penolakan".
__ADS_1
"Baik, Akan Kania laksanakan". Fandy dan Nawal seperti mendapat angin sejuk saat Kania dengan ringan mengatakannya. Kemudian kenia melanjutkan kalimatnya, "Tapi, Apa jaminannya kalau aku mau kuliah?".
"Apapun. Apapun yang anak papa mau akan papa lakukan" Jawab Fandy mantap.
"Bener?"
"Iya,". Sahut Fandy lagi. Nawal melirik suaminya. Entah lah, perasaan Nawal jadi aneh saat ini.
"Baik. Papa akan nuruti semua mau Kania. Kania akan dengan senang hati mulai kuliah besok.
Tapi... Kania mau papa jodohin Kania sama mas Niko".
Glegh
Fandy meneguk ludahnya dengan susah payah. Fandy pikir, Kania sudah mulai berubah hingga dia mau melanjutkan kuliah. Nyatanya, ambisinya untuk menikah dengan Niko tetaplah menggebu-gebu.
Nawal menghampiri putrinya dan mengusap pelan rambut Kania yang berkilau.
"Sayang, bukannya mama nggak mau kalau kamu menikah. Mama ingin. Sangat ingin malah. Tapi, Kamu masih muda, nak. Ada saat nya nanti kamu menikah dan punya anak. Jodoh itu Tuhan yang atur. Kamu nggak bisa melangkahi takdir tuhan".
"Ma, apa saat mama berdekatan sama papa mama ngerasain yang namanya jantung berdegub begitu cepat? Darah berdesir kuat? Dan hati yang berdebar tak karuan? Perasaan bahagia yang nggak ada duanya? Itulah yang aku rasakan saat mas Niko dekat sama aku. Nggak peduli mas Nik nolak aku ribuan kali, Aku nggak akan nyerah" Kania tersenyum miris.
Hati Kania mendadak nyeri saat mengingat pernyataan cintanya di tolak berkali-kali oleh Niko. Tapi perasaan suka itu tetap tak kunjung hilang.
Kania tidak tau ini cinta atau obsesi semata? Tapi yang jelas, Kania merasa ia tak mampu untuk pergi menjauh dari Niko.
"Mama ngerti apa yang kamu rasakan, nak. Tapi percayalah, buat dirimu sukses dulu, maka mama akan mencari ribuan cara untuk mendekatkan Niko dengan putri mama yang cantik ini".
"Kelamaan lah ma. Keburu di ambil orang".
Fandy dan Nawal geli sendiri dengan putinya ini. Belum lama Kania berbicara secara dewasa, kini nyatanya ia kembali pada sifat kekanak-kanakannya.
"Terserah kamu lah, Kania. Yang penting kamu besok berangkat kuliah. titik!". Nawal sudah pasrah kali ini.
"Ya udah ma aku mau berangkat dulu".
"Kemana?", tanya Fandy.
"Nganter kue ini untuk pujaan hati", Kania tersenyum lebar sementara orang tuanya sudah kembali mendengus kesal.
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1