
"Pembuktian. Saya tidak tau dari awal jika pembuktian yang putra anda inginkan dari saya, telah membuahkan hasil berupa janin yang hidup di rahim seorang pembantu seperti saya. Dan sekarang, putra anda mengatakan seolah saya terlihat begitu murahan di depan semua orang. Andai saya mendengarkan ibu saya saat itu, andai saya tidak terlena dengan janji manisnya, Saya tidak akan mungkin di lemparkan hingga ke titik terendah oleh putra anda seperti saat ini".
......_part sebelumnya_......
Rahang Ken mengeras. Tangannya terkepal erat. Entah mengapa, benci yang dulu dia rasakan pada Anjani, rasanya tak sebesar saat ini.
"Janji manis apa maksud Lo, nja? Gue nggak pernah menjanjikan apapun", Kenan menyanggah seluruh ucapan Anjani.
"Kenan", Fandy memanggil Kenan masih dengan kelembutan. Kenan pun menoleh pada ayahnya dengan pandangan nyalang.
"Pah, Ken nggak pernah menjanjikan apa pun pada dia pah, apa lagi pernikahan. Tidak. Ken nggak pernah....", Ken menggelengkan kepalanya. Tidak sanggup meneruskan kalimatnya.
Hening.
Semua larut dalam pikiran masing-masing. Anjani sebagai korban pun hanya bisa diam sembari matanya tak pernah lepas dari sosok Kenan. Sedang Kenan, lebih memilih memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Ehm", Fandy mencoba memecah keheningan.
"Anjani?", Anjani yang merasa di panggil pun menoleh dan segera menganggukkan kepalanya. "Apa Anjani tidak ingin meneruskan sekolah? Setidaknya tamat SMA, mungkin?".
"Ingin. Sangat ingin, tuan. Tapi kondisi saya seperti ini, tidak memungkinkan untuk pergi sekolah dengan perut membesar", Anjani menunduk dan menggigit bibir bawahnya pelan.
"Bagai mana jika begini. Anjani dan Kenan, kalian harus segera bertunangan. Tapi.....", Fandy merasa ragu dengan kalimat yang hendak ia lontarkan. Namun kemudian kembali melanjutkan kalimatnya, sesaat setelah meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Kalian gugurkan saja kandunganmu Anjani. Selain bisa melanjutkan sekolah, kamu juga akan tetap menikah dengan Kenan nanti, setelah pendidikan mu usai. Kalau perlu, kamu bisa kuliah di universitas manapun yang kamu mau", Ucap Fandy hati-hati.
degg
Anjani terkejut bukan main. Semua orang menatap Fandy.
"Kalau itu yang terbaik. Saya menyerahkan kepada anak-anak saja, tuan. Saya tidak bisa memaksa". Suara bi Tarsih terdengar sangat gemetar.
__ADS_1
Ibu mana yang tidak terluka saat anaknya di rendahkan?
Ibu mana yang tidak terluka saat anaknya pernah di lecehkan?
Ibu mana yang bisa berdaya saat orang yang membiayai hidup mereka dari Anjani berusia enam tahun hingga kini, meminta sesuatu pada mereka?
Berapa tahun keluarga Mahardhika menyekolahkan Anjani hingga sampai saat ini?
Bi Tarsih hanya bisa setuju dengan apa yang di katakan tuannya.
Taukah kalian? Bi Tarsih sesungguhnya sangatlah hancur saat itu juga.
Ingin mati, namun tidak mungkin karena ia tak akan pernah meninggalkan Anjani seorang diri.
"Sa sa.... say saya... permisi, tuan!". Anjani berlalu pergi begitu saja. Tangan kirinya membekap mulutnya, sedang tangan kanannya, ia pakai untuk memegang perutnya. Tidak akan ia biarkan siap pun bisa merampas apa yang jadi miliknya.
Meski Anjani tidak dapat bersama dengan Kenan, setidaknya ia akan segera memiliki Kenan junior nanti.
Mungkin, Anjani sudah gila. Anjani tidak peduli lagi. Meski Kenan sudah menyakitinya begitu dalam, Anjani tetap akan mempertahankan bagian dari diri Kenan untuk ia besarkan.
"Mama nggak setuju. Bagaimana pun, bayi yang ada dalam rahim Anjani, dia berhak hidup. Dia tidak bersalah. Dia tetap cucu kita. Bayi itu tidak berdosa dan tidak meminta untuk di lahirkan dalam keadaan seperti ini. Mama nggak akan pernah membiarkan itu terjadi!". Nawal kembali murka saat ini.
"Ma, papa hanya memberi jalan. Kalau memang itu bukan yang terbaik, kita bisa ambil jalan lain", Fandy masih berbicara dengan bahasa lembut.
"Kenan akan tetap menikah dengan Anjani. Mama nggak mau tau!". Nawal pun beranjak pergi tanpa menunggu jawaban dari Fandy.
................
Jam menunjukkan pukul 02.41 dini hari, setelah ketegangan yang baru saja terjadi, Kenan memutuskan untuk menghampiri Anjani. Pikiran Kenan tengah buntu sekarang. Tidak akan ia memberi celah untuk pernikahan yang tidak ia inginkan.
Tanpa mengetuk pintu, Kenan segera membuka paksa pintu Anjani yang memang tidak ia kunci. Di saat itu lah, Ken melihat Anjani yang masih setia dengan menangisinya.
__ADS_1
Tanpa menghiraukan keterkejutan yang nampak di wajahnya yang terlihat lemah dan pucat, Kenan meraih dan menarik paksa lengan Anjani hingga Anjani jatuh terhuyung ke lantai.
Tanpa mereka sadari, Fandy tidak sengaja melihat mereka dari balik almari kecil tempat parabotan antik. Niat Fandy turun ke dapur untuk m ngambil air putih karna haus. Alih-alih bisa minum, Fandy justru menyaksikan putranya yang menarik kasar Anjani.
"Lo harus ikut gue sekarang, nja".
"Mas, kita mau kemana? Aku nggak mau. Aku nggak mau kemana-mana", ucap Anjani yang terus meronta dari cengkraman Kenan di lengannya. Alih-alih terlepas, Kenan justru menarik Anjani makin kencang hingga Anjani meringis menahan sakit.
"Lo harus buang bayi itu Anjani! Bayi yang Lo kandung itu adalah hasil dari kesalahan. Kita harus bunuh bayi itu demi masa depan kita. Gue nggak mau bayi itu lahir. Bayi Lo cuma bawa beban buat gue dan Kel......."
plakk
Anjani segera mendaratkan tamparan di pipi mulus Kenan. Kenan yang mendapat balasan keberanian dari Anjani, semakin naik pitam dan hendak melayangkan tamparan balik untuk Anjani. Bukannya takut, Anjani malah semakin menantang Kenan.
"Kamu terbebani, mas? Keluargamu terbebani? Baik. Aku akan pergi. Jangan pernah mencariku setelah ini, mas. Jika suatu saat kamu menyesal, Jangan harap aku akan memberimu maaf. Maaf, karena selama ini aku hanya menjadi beban bagi keluarga kalian. Terima kasih atas segala belas kasih keluargamu pada ku dan ibuku". Anjani menatap nanar Kenan. Suaranya lirih dan terbata-bata. Matanya menatap sendu ke arah Kenan.
Kenan terpaku setelah netra matanya bersirobok dengan netra mata Anjani. Semburat kekecewaan nampak jelas di mata Anjani. Namun, pancaran cinta masih tetaplah sama, hanya untuk kenan.
Kenan merasa tak berdaya. Entah mengapa, sudut hati nya yang terdalam, Kenan merasakan sakit melihat keadaan Anjani yang begitu kacau.
Setelah Anjani puas memandang wajah tampan Kenan hingga beberapa saat, Anjani berbalik dan berjalan tertatih. menuju kamarnya. Tanpa menunda, Anjani segera mengemasi beberapa potong baju untuk ia bawa pergi. Anjani hanya membawa barang-barang penting saja. Waktu Anjani tidak lah banyak, ia harus segera pergi dari sini.
Anjani menuliskan sepucuk surat yang ia tujukan untuk ibunya, kemudian menempelkannya di kaca almari milik Anjani. Anjani ingin memulai hidup baru dengan calon anaknya kelak. Anjani berniat pergi melalui pintu belakang.
Sesampainya di dapur, Sayup-sayup Anjani mendengar Fandy yang tengah bersitegang dengan Kenan. Tanpa berniat mendengar apa yang mereka bicarakan, Anjani hanya berpamitan dalam hati dengan air mata yang semakin mengucur deras.
"Tuan, nyonya, non Kania.... Maaf kan atas semua kesalahan Anja selama ini. Anja harus pergi. terima kasih atas semuanya....
Mas Kenan Nayaka... Aku mencintaimu. Aku harus pergi karna kamu udah nggak menginginkan aku lagi. Aku mencintaimu.......
Jangan pernah mencariku,
__ADS_1
Selamat tinggal."
🌹🌹🌹🌹