
"Apa sebenarnya yang ada dalam pikiran kamu, Kania? Kenapa kamu bisa membuatku malu di depan papa? Papa pasti menganggap aku nggak bisa mendidikmu dengan baik. Astaga............"
Niko mendesis di akhir kalimatnya. Ia tak tahan lagi dengan perubahan istrinya, yang menurutnya itu perubahan yang tak baik.
Saat ini, mereka sudah sampai di rumah Niko. Orang tua Niko sudah pulang dan menginap hanya sebulan di rumah Niko. Setelahnya, Niko memutuskan untuk menyewa pengasuh untuk membantu mengasuh Fatih.
Sepanjang perjalanan tadi, Niko hanya mendiamkan Kania tanpa berniat saling tegur sapa.
Kania terhenyak atas kekesalan suaminya kali ini. Biasanya, panggilan sayang selalu Niko sematkan untuknya, namun sekarang, Niko bahkan memanggilnya haha dengan nama. Sesuatu yang mampu membaut Kania semakin menciut kepercayaan dirinya pasca Fandy, papanya telah menyalahkan sikapnya. Andai papa tidak menyalahkan, dan hanya memberinya wejangan, pasti Kania tak akan sesakit ini. Rasa sering di abaikan, kini kembali Kania abaikan. Bukankah Kania tidak suka di kasari? Bahkan juga di bentak, Kania tak suka itu!!
"Aku punya alasan, mas. Sebelum aku melakukannya, aku udah mikir semua resiko dan konsekuensinya. Kamu tau, aku bahkan sudah mengorek semua informasi mengenai latar belakang Dira.
Setiap apapun yang aku lakukan, aku memiliki alasan di baliknya. Kamu pasti udah tau kan, gimana aku?"
Sanggah Kania membela diri. Kania sadar, dirinya terlalu kejam, tapi kalau Dira hanya di hukum dengan di masukkan ke dalam jeruji besi, Kania yakin di beberapa waktu berikutnya, Dira bahkan akan berbuat hal yang lebih menakutkan lagi. Kania hanya ingin mengantisipasi semua ini. Seharusnya Fandy dan Niko tak menyalahkannya hingga seperti ini.
"Apapun. Apapun itu alasannya, kamu nggak seharusnya mengambil sikap dan keputusan besar seperti itu tanpa melibatkan aku. Aku masih suami kamu. Kamu sadar kan, Kania? Kamu sadar?
Kamu.... kamu masih menganggap aku suami kamu, kan?"
Kalimat Niko bahkan seperti belati yang menghunus tepat di hati Kania. Kini, Kania merasa tidak ada lagi yang peduli dengan nya. Niki yang biasanya selalu menasehatinya dengan cara baik dan halus, kini bahkan membentaknya di ujung kalimat yang Niko ucapkan. Bolehkah Kania mengeluh untuk hal ini?
"Ya. Aku yang salah".
Tidak ada kalimat lain. Ia menunduk dan tak berani menatap suaminya. Kania menyesali semuanya. Ia pikir kemarin-kemarin, bila Niko tau, Kania akan menjelaskan semuanya dan Niko mungkin hanya akan memberinya nasehat dan petuah-petuah seperti biasanya. Tetapi realita tak seindah ekspektasi. Semua melenceng dari perkiraan Kania. Bukannya memberi petuah dengan suara Niko yang lembut, kini justru Niko telah membentaknya. Sesuatu yang selama mereka menikah, Niko tak pernah lakukan. Sebegitu salahnya kah Kania?
Hening, hingga Kania mendongak dan mendapati suaminya tengah menatapnya dengan tatapan tajam, melipat kedua tangan di dada, dan raut wajah yang menurut Kania paling dingin di sepanjang pernikahan mereka.
"Kamu marah sama aku, mas?"
__ADS_1
Tanya Kania lirih. Ia berusaha dengan sangat keras untuk tak menjatuhkan air matanya agar tak tumpah begitu saja. Kania tak mau Niki memandangnya begitu rapuh.
"Aku marah?
Sekarang aku tanya, suami mana yang nggak marah dengan sikap istrinya yang suka bertindak sendiri tanpa melibatkan suami? Aku merasa kamu nggak lagi menganggap dan menghargai aku selaku suami mu.
Aku bukan hanya marah sama kamu, Kania. Tapi aku lebih dari sekedar kecewa".
Niko bangkit kemudian berlalu pergi dari hadapan Kania. Niko menghidupkan mesin mobilnya, kemudian meninggalkan Kania yang sudah tak lagi menahan air matanya.
Kania menangis. Kania terisak pilu. Mengapa Niko nya kini telah berubah sikap padanya. Sebesar itu kah kekecewaan Kania.
"Aku salah. Aku salah. Aku salah mas..... Tapi tolong jangan pergi....... Jangan mengabaikan aku begini".
Ucap Kania di tengah Isak tangisnya yang semakin pilu.
**
Malam ini, Fandy dan Nawal sedang berada di kamar mereka. Vanya sudah berhasil di tidurkan dan sedang ada di kamarnya bersama pengasuh. Nawal merasa kebahagiaan nya semakin lengkap. Senyum tak pernah pudar dari bibirnya yang tipis.
Berbeda dengan Fandy yang nampak muram dan lebih sering melamun semenjak kepulangan Nawal dari rumah sakit. Nawal mengernyit heran akan perubahan sikap suaminya ini.
"Mas, kenapa sih, dari tadi kok cuma diem aja? Sering melamun lagi. Ada apa sih? Punya cucu baru bukannya makin seneng malah makin suram gitu wajahnya".
Protes Nawal. Fandy menoleh dan tersenyum kecil pada istrinya itu.
"Kamu masih ingat Dira? Wanita yang di penjara karena sudah mencoba menjebak putra kita?"
Tanya Fandy. Ia akan mencoba menjelaskan pelan-pelan pada istrinya tentang apa yang terjadi, dan bagaimana tingkah putri bungsu mereka. Biar bagaimana pun, Nawal harus tau segalanya.
__ADS_1
"Ingat. Memangnya kenapa?"
"Kania..... dia telah membebaskan Dira, bahkan belum genap seminggu wanita itu mendekam di penjara."
"Lho, kenapa dengan anak itu?".
Nawal tak habis pikir dengan maksud Kania di balik sikapnya yang seperti itu.
"Coba tebak, apa yang dia lakukan selanjutnya?"
"Memangnya, apa yang Kania lakukan, mas?"
"Dia telah menjual Dira pada pria hidung belang yang memiliki gairah seksual yang menyimpang dan suka menyiksa ketika berhubungan badan. Mama tau? Kania mampu melakukan hal itu. Aku nggak nyangka dengan sikap Kania yang terlalu berani, ma. Apa salah ku di masa lalu sampai anak kita memiliki karakter seperti itu?"
Ucap Fandy lirih. suaranya lebih dengan kepedihan.
"Apa?!?"
Nawal linglung untuk sejenak.
"Beruntung, aku tau dan Dira, wanita malang itu sudah aku tebus dan aku bebaskan. Rencananya, ia akan memulai hidupnya di kampung halamannya."
Imbuh Fandy kemudian.
"Ke--kenapa Kania.... Setega itu, mas?".
"Entah, tapi aku yakin, ada alasan yang Kania sembunyikan dari kita, di balik sikap nya yang melewati batasannya. Aku yakin, karena aku mengenal Kania dari kecil. Hanya saja, Aku nggak nyangka akan serumit ini masalahnya".
🍁🍁🍁
__ADS_1