
Awan mendung menutupi sinar mentari yang bersikeras menyinari bumi.
Namun, sekuat apapun mentari memantulkan cahayanya, tetap saja akan kalah dengan kabut mendung.
Mila tengah duduk di sebuah taman kota Banyuwangi. Seminggu yang lalu, putrinya dijemput paksa oleh petugas kepolisian.
Maka, saat itulah dunia nya terasa hancur.
Rasa malu, merasa gagal mendidik anak dan kecewa berbaur membentuk sebuah gumpalan menyesakkan dada.
"Mengapa ya Rabb? Aku ikhlas saat suamiku meninggalkan aku dan anakku. Tapi untuk menjalani hari dengan ketakutan dan malu sepanjang hidupku, aku merasa tak mampu.".
Lirihnya dalam diam.
Ia berjalan bergegas pergi dari taman, namun langkah Mila terhenti saat s buah tangan hangat mencekal lengannya.
"Maaf, Tante. Bisa kita berbicara sebentar?
Saya Andre, asisten pribadi pak Fandy".
Mila kebingungan.
"Mari kita singgah ke kafe sebentar. Ada yang ingin saya sampaikan".
"Baiklah, mari".
Sesampainya di cafe, Andre memesankan minuman untuk Mila.
"Jadi nak Andre, ada keperluan apa?".
Tanya Mila dengan gelagat tak sabar. Ia tidak ingin mendengar apa yang hendak Andre sampaikan.
Andre menghirup udara sebanyak-banyaknya guna menetralkan degub jantungnya yang tak beraturan
"Ijinkan saya untuk meminang putri anda, Winda. Saya rasa, saya mampu menjaga Winda agar tidak bertindak di luar batasannya bila dia berstatus istri saya".
Mila tercengang. Hatinya tersentak hebat mendengar pernyataan yang baru saja Andre sampaikan.
"Tapi.... kalian tidak saling mencintai."
"Apa arti cinta kalau hanya berakhir saling menyakiti?
Saya mampu belajar mencintainya asal dia bersedia membuka hatinya untuk saya, Tante. Dengan begitu, saya pastikan Winda tidak akan mungkin bisa mengusik kebahagiaan pak Fandy".
"Sa saya....".
"Saya tau anda butuh waktu untuk berpikir. Dan bila Winda bersedia, saya sendiri yang akan membujuk pak Fandy untuk mencabut tuntutannya", Ujar Andre dengan sangat yakin.
"Terima kasih, nak. Kalau sudah takdir, Tante pasti akan merestui kalian.
Tante tak perlu lagi berfikir, Tante sangat yakin dengan kebijaksanaan kamu. Masalah Winda, Tante yang akan membujuk Winda.
Hanya saja.....
Tidakkah kamu keberatan dengan sifat Winda yang ceroboh dan kekanakan?".
Andre tersenyum kecil.
"Saya yang akan mendidiknya menjadi pribadi yang lebih dewasa."
"Terima kasih, nak".
*****
Kania tengah berjalan ringan menuju halaman belakang. Entah mengapa, ia merasa gelisah.
__ADS_1
Ia beberapa kali mondar-mandir ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Sedari semalam, Kania tak bisa tidur nyenyak karna harus bolak-balik buang air kecil.
Tak jauh darinya, Niko tak kalah gelisah. Ia bahkan sudah mengajak Kania untuk ke dokter kandungan yang biasa menangani kehamilan Kania. Namun, Kania menolak.
"Aaarrrggg....."
Kania menjerit begitu saja, tangannya memegangi perutnya dan ia terduduk di sebelah pohon mangga.
Niko segera berlari bahkan ia sampai melupakan alas kakinya.
"Sayang, gimana?".
"Nggak tau mas. Sakkkkiiiiiiitt. Mungkin kontraksi"
"Ayo aku gendong ke mobil".
Niko segera membawa Kania ke mobil dan kembali ke dalam untuk membawa tas persiapan melahirkan yang sudah Kania siapkan sebelumnya.
Wajah panik Niko justru membuat Kania terkekeh pelan. Rasa sakit yang Kania rasakan masih mampu di nikmatinya. Detik-detik menjelang pergantian statusnya menjadi ibu, kini mendebarkan bagi Kania.
Rasa bahagia, haru, sakit.....
Semua terasa lebih berwarna.
*****
Anjani tengah berjalan mondar-mandir tak jauh dari sisi ranjangnya. Ia sedang menunggu Kenan keluar dari ruang kerjanya. Entah apa yang Ken lakukan, hingga Anjani merasa tak sabar menunggunya.
Ceklek.....
Pintu terbuka dan Anjani berjalan cepat menghampiri suaminya.
"Mas.... Kenapa lama banget sih??"
"Aku ngecek kerjaan sebentar.
Kamu kan tau sendiri selama aku di rawat di rumah sakit aku banyak meninggalkan pekerjaan. Ada apa sih kok kamu gelisah banget?".
"Aku... aaaa aku.... aku....".
"Kenapa? Mau belanja?" tanya Kenan yang mendapat gelengan kepala dari Anjani.
"Lha... terus?"
Anjani memberikan benda pipih panjang dengan dua garis merah di tangannya. Kenan membelalakkan mata. Ia terkejut bukan main.
"Ka.... kamu?? Kamu hamil??"
Anjani mengangguk.
Ken segera membawa Kania ke dalam gendongannya dan berputar-putar hingga Ken menjatuhkan tubuh mereka di ranjang.
Kenan tertawa lepas dan menghadiahi banyak kecupan di wajah istrinya.
"Makasih sayang... makasih. Aku janji.... apapun yang terjadi, aku akan menjaga kalian sekuat tenaga. Terima kasih sudah bersedia mengandung anak-anakku. Aku mencintaimu, aku mencintaimu"
Anjani pun menggeliat tak nyaman karna suaminya tak memberi celah sedikitpun dirinya untuk bisa kabur.
*****
Kania tengah memberikan asi pada bayi laki-lakinya yang baru lahir. Disampingnya, Niko tak henti-hentinya di buat takjub karna melihat putra mereka mulai bisa menggenggam erat jari telunjuk nya.
Alfatih Baihaqi Mahardhika.
__ADS_1
Niko menyematkan nama dengan arti yang begitu mendalam pada putranya.
Cecap demi cecap, akhirnya putra Niko sudah mulai bisa menyesap perlahan asi Kania.
Di luar ruangan tak jauh dari tempat Kania berbaring, Fandy, Nawal, Anjani dan Kenan yang memangku putrinya, Vanya tengah tersenyum bahagia.
Pada akhirnya, Kania bisa berjuang dan melewati masa-masa sulitnya melahirkan.
Pendar kebahagiaan tak luput dari wajah mereka semua.
Beruntung.....
Hingga detik ini, keluarga Fandy bisa untuk tetap bersatu meski beberapa kali mereka banyak diuji.
******
Andre berdiri gagah dengan setelan busana pengantin pria yang begitu menawan.
Di sampingnya, Winda berdiri dengan senyum merekah.
Mereka bersanding di pelaminan dengan wajah berseri-seri.
Lima bulan berlalu setelah Winda terbebas dari jeruji besi. Selama lima bulan itu, digunakan oleh Winda menjalani pendekatan dan mengenal sosok Andre yang begitu bijaksana.
Meski awalnya Winda bersikeras menolak menikah dengan pria yang tak ia kenal, akhirnya....Mila berhasil membujuk putrinya.
Tak jauh dari pelaminan, fandy, Nawal, Anjani, Kenan, Niko dan Kania tengah tersenyum bahagia. Fatih..... putra kania yang berada dalam gendongan Fandy, anak itu begitu menggemaskan dengan Saliva yang tak henti-hentinya mengalir. Bahkan... sesekali Fatih memainkan salivanya sendiri.
"Terima kasih sudah mau datang, mba Nawal....
Maaf atas kesederhanaan acara ini. Aku hanya mampu membuat syukuran kecil-kecilan untuk Winda."
"Nggak apa-apa mil... yang penting yang menjalani bahagia". jawab Nawal tersenyum.
"Nak Ken, nak Anja..... Tante... Tante mau minta maaf ya... karna Winda, kamu celaka"
"Nggak apa-apa Tante. Toh Winda sudah menyesali."
Begitulah kebahagiaan yang tercipta. Suasana hangat begitu terasa.
Itulah buah kesabaran. Dari sekian banyak permasalahan dan konflik yang menimpa keluarga mereka, pada akhirnya mereka bisa mencecap kebahagiaan.
Pada dasarnya....
Tuhan tak pernah memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambanya.
🌹🌹🌹🌹🌹
hai semua para readers yang Budiman...
Pada akhirnya.... cerita ini udah tamat ya...
Terima kasih untuk semua yang udah dukung.
Semoga tetep suka. Jangan lupa tetap dukung dan baca karya neng Tia yang lain ya....
Beberapa hari ke depan, selain novel berjudul "LUKA DI BALIK JELITA" , akan segera terbit judul "SUAMIKU DAN MADUKU".
jangan lupa mampir ya kakak-kakak readers....
Maaf bila karya ini tak sempurna.
Semoga kalian semua selalu di berkahi kesehatan dan di anugrahi Rizqi yang halal, melimpah dan barakah....
~salam santun dari neng tia~
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️