
Dewa duduk termenung di sofa bed di kamarnya. Ia pikir, istrinya yang berparas cantik dengan sifat yang lugu itu, akan berteriak sembari menangis histeris ketika mendengar pengakuannya. Akan tetapi jauh dari ekspektasi Dewa, Anika hanya terpana dan tertegun, hingga nafasnya tercekat dan hanya mampu menangis dalam diam.
Sejujurnya, Dewa lebih suka di pukul, di teriak'i, di marahi, di caci, di maki dan berbagai sumpah serapah Anika lemparkan terhadap dirinya. Tapi Anika hanya diam dan menunduk menangis dalam diam, membuat Dewa merasa benar-benar menjadi seorang bajingan sejati.
Hingga tadi makan malam berlangsung, Anika tetap turun dari lantai atas menuju ruang makan dan melayani Dewa seperti biasanya di meja makan, Namun tetap diam. Catat itu. Hanya diam. Sebanyak apapun Dewa bicara padanya, Anika tetap diam dan berusaha tegar. Tapi tak di pungkiri Dewa, Anika saat ini masih bergelut dengan kesakitan hatinya akibat ulahnya. Bahkan, Anika lebih memilih tidur di kamar Elvio dari pada dengannya di kamar utama.
Sekali lagi, Dewa menghembuskan nafasnya kasar, karena telah melibatkan Anika ke dalam hubungannya bersama Vanya, satu-satunya wanita yang hingga kini masih bertahta di dalam hatinya.
Dengan pasti, tubuh tegap Dewa bangkit dari sofa bed nya, kemudian berjalan keluar kamar demi menemui istrinya.
Hingga Dewa telah tiba di depan kamar putrinya, Dewa membuka pintu kamar Elvio tanpa mengetuk pintu, membukanya pelan-pelan tanpa menimbulkan suara.
Sosok Anika, sang istri yang duduk di tepi ranjang Vio, tangah menatap kosong tembok di hadapannya. Sedang Vio, anak berusia satu tahun tengah terlelap di sana dengan selimut karakter Mickey mouse yang membalut tubuhnya.
"Nika, aku ingin bicara. Ayo keluar, kita ke kamar dan bicarakan masalah ini".
Pinta Dewa dengan suara lembut. Anika yang tenggelam dalam lamunannya, tersentak ketika tiba-tiba, Dewa berdiri tepat di sampingnya. Lalu, tanpa persetujuan Anika, Dewa meraih dan menggenggam jemari istrinya dan menuntunnya keluar dari kamar Vio setelah selesai mematikan lampu kamar Vio, menggantikan cahayanya dengan lampu temaram.
Saat ini, Anika tengah duduk berdampingan dengan dewa di atas ranjang, bersandar pada bahu ranjang. Tak sepatah kata pun Anika mengeluarkan kalimat nya karena dirinya menunggu apa yang akan dewa katakan.
"Maafkan aku". Ucap dewa tulus dengan penuh kehati-hatian. Nada suaranya penuh dengan pengharapan. Meski Dewa tak berharap banyak akan maaf dari Anika, tapi setidaknya, Dewa tak mau menang sendiri. Bagaimanapun, bila menyangkut tentang wanita, Dewa harus menghormati dan menghargainya.
Sayangnya, keputusannya yang tiba-tiba itu untuk menikahi Anika secara mendadak, membuat Boomerang untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Sejak kapan? Sejak kapan kamu menjadi kekasih kak Vanya, mas? Berapa lama kalian menjalin hubungan?"
Ucap Anika lirih. Pandangan matanya lurus ke depan, tak memiliki keinginan untuk menatap lekat lawan bicaranya.
"Kami menjalin kasih selama tiga tahun, Anika.... Tiga tahun sebelum aku meminangmu".
"Lalu kenapa kamu melibatkan ku dalam hubungan kalian? Dan kamu.... menjadikan ku hanya sebagai pelarian dan pelampiasan saja? Astaga maaass.... apa salah aku sama kamu?"
Anika kini meraung, berbeda dengan sore tadi ketika ia hanya tercekat dan tak mampu menumpahkan tangisnya secara total begitu saja.
"Aku... saat itu aku kalut, Anika.... Vanya tiba-tiba lebih dekat dengan Alvin yang aku pikir, menyukai Vanya. Sudah aku peringatkan berkali-kali pada Vanya, tapi dia memilih tak menghiraukan dan terus saja akrab dengan lelaki lain selain aku. Aku pikir... aku pikir mereka memang memiliki hubungan, namun ternyata.... ia hanya menjadi makcomblang Alvin dan Emilia, sahabat nya.
Maafkan aku, Anika.... maafkan aku".
"Mau bagaimana lagi? Aku nggak tau. Lagipula, sudah ada Vio di antara kita". Kalimat Dewa melemah. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ingin mengakhiri pernikahannya, itu tak mungkin karena ada Vio di antara mereka. Mempertahankan rumah tangganya, namun sisi lain hatinya memberontak karena hasratnya demikian menggebu untuk memiliki Vanya kembali.
"Tapi kamu masih mencintai kak Vanya kan, mas?"
Pertanyaan Anika, mana mungkin Dewa bisa menjawabnya? Lidahnya terasa kelu meski sekedar untuk bergerak. Tenggorokannya terasa tercekat seolah tak mampu mengeluarkan suara.
"Jawab, mas. Tolong konfirmasi kalau semua ketakutan ku nggak akan terjadi. Aku sayang sama kamu, tolong jangan bilang kalau kamu mau meninggalkanku dan kembali sama kak Vanya, sementara ada Vio di antara kita."
Anika menangis lirih dengan kedua telapak tangannya menutup seluruh wajahnya. Rasa-rasanya, Anika seumur hidup tidak pernah merasakan kesedihan sedalam ini.
__ADS_1
"Tidak akan. Kamu dan Vio akan tetap bersamaku". Dewa meraih dan memeluk erat tubuh istrinya. Mengusap bahunya perlahan demi menguatkan.
"Apa pernikahan kita juga penyebab kak Vanya pergi?"
Anika mengurai pelukan suaminya. Wajahnya mendongak demi bisa bersitatap dengan sang suami.
"Ya." Dewa menunduk, memberi jawaban singkat, namun mampu membuat Anika terguncang.
"Aku berniat membalasnya karena telah berselingkuh dariku. Dan akibat keputusan konyolku memanfaatkanmu, dia pergi seperti binatang yang terluka, tanpa menunggu dan tanpa sepatah kata pun untukku.
"Itu artinya, sampai sekarang kamu masih tetap mencintai kak Vanya".
"Kak Vanya tak akan senekat itu jika perasaannya tidak benar-benar terluka. Astaga mas.... kenapa kamu tega menyakiti kak Vanya dan aku? Kenapa nggak cari tau dulu tentang kedekatan sesungguhnya kak Vanya dan laki-laki itu?"
Sesaat, perasaan dan pikiran Dewa, mulai terhenti pada sebuah titik permasalahannya bersama Vanya dulu. Tentang bukti konkret yang ia dapat dari seseorang yang dulu membuat Vanya seolah menjadi sang ******, membuat Vanya seperti tengah berselingkuh dan mengkhianatinya.
Orang itu....
Ya... tak salah lagi. Itu artinya, Dewa benar-benar di permainkan, dan Vanya mengalami fitnah keji.
...
...
__ADS_1
Besok, aku crazy up kalau komen tembus 100 dan tipsnya nggak main-main 😅😅