PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
season 3. 8


__ADS_3

"Kalau boleh papa sarankan, sebaiknya kamu resign dan kembali ke kota kelahiran kami, Vanya....


Toh dewa dan Anika sudah menetap di sini".


Ujar fandy tiba-tiba. Membuat Vanya maupun Anjani menghentikan aktifitas mereka untuk mengunyah makanan.


"Papa.... Vanya akan tetap di sini. Papa percaya sama Vanya, perlahan Vanya pasti bisa melupakan semua ini. Toh Dewa cuma masa lalu."


"Papa harap kamu menemukan lelaki yang tepat untuk mencintai kamu, nak".


Tatapan sendu, kembali Vanya lihat dari ayahnya. Entah mengapa, Vanya merasa ada yang tidak beres. terlebih, ketika Vanya harus terjebak di ruangan pria masa lalunya itu.


Kala itu........


##


Hingar bingar musik pesta perayaan ulang tahun Tiara, teman Dewa dan Vanya, menghentak penuh fantasi dalam sebuah ruangan yang cukup luas. Tidak banyak tamu undangan kala itu. Hanya kawan dekat Tiara yang mendapat kartu undangan.


Emilia berjalan tergesa menghampiri Dewa. Gadis itu menunggu Vanya dengan tidak sabar. Ada banyak hal yang harus mereka lakukan untuk tujuan-tujuan tertentu. Sayangnya, Vanya hingga detik ini tak juga muncul. Meninggalkan Emilia yang di gulung cemas.


"Wa, gimana? Apa ponsel Vanya udah bisa di hubungi?"


Emi angkat suara. Sejak tadi, gadis itu mondar-mandir di hadapan Dewa.


"Belum Mungkin masih di jalan. Sabar aja. Coba aja tadi Vanya nggak nolak buat aku jemput". Gerutu Dewa yang suaranya tenggelam di telan keramaian pesta.

__ADS_1


Mendengar gerutuan Dewa yang masih tertanggao rungu Emi secara samar-samar, membuat Emi meringis. Gadis itu lantas membalikkan badan dan menatap dewa dengan senyum merasa tak enak hati.


"Maaf, Aku lagi minta tolong sesuatu sama Vanya. Dan ini....bersifat pribadi antar cewek."


"Minta tolong apa sih?" Dewa dengan segala keingin tahuannya. Pria itu selalu keras kepala dan tak tak akan berhenti mendesak lawan bicaranya bila ia ingin tau sesuatu. Selalu begitu. Dewa Sinatra dengan keras kepalanya.


"Ada deh. Ini rahasia".


"Sejak kapan kamu sama Vanya main rahasia-rahasia an?"


"Udah deh. pokoknya minta doa aja. Semoga Misi ku sama Vanya kali ini berhasil".


Dewa memutar bola matanya malas. Ada-ada saja si Emi ini. Tidak taukah dia kalau sebenarnya si Dewa itu juga tak sabar menunggu kedatangan Vanya? Sialan......


Di sudut lain, Vanya dan Alfin sebenarnya telah tiba sejak sepuluh menit yang lalu. Keinginannya untuk segera menemui kekasihnya, Dewa, terpaksa harus di tahannya akibat Alfin yang merengek padanya untuk mempersiapkan kejutan khusus Emi.


"Selesai....."


Vanya kemudian membereskan gunting, beberapa kertas yang sedikit berserakan. Jari tangannya yang halus itu, ia bersihkan dari debu-debu yang menempel sedikit. Senyumnya terbit dengan sempurna. Terlalu bahagia ia hari ini, hingga Vanya tidak hati-hati ketika berdiri dan mengakibatkan ia terpeleset.


Beruntungnya, Alfin dengan sigap menolong Vanya, kemudian ia menangkap pinggang Vanya dan Vanya berpegang pada bahu Alfin.


Mereka tak tau, sepasang mata tengah menatapnya tajam dan penuh intimidasi. aura kemarahan jelas terlihat dari wajah rupawan yang menatap kebersamaan mereka.


Dewa Sinatra.....

__ADS_1


Pria yang hendak menuju ke toilet itu, melewati sebuah lorong dan sebuah ruangan sempit, tempat di mana Vanya membantu Alfin membuat sebuah buket bunga untuk Emi.


Sialnya......


Pria itu dengan emosi dan tanpa mencari tau lebih jauh lagi itu, berbalik pergi dengan wajah merah padam. Tadinya, ia berbiak ke toilet untuk menyegarkan wajahnya dengan membasuhnya dengan air dingin. Terlalu lama menunggu Vanya, membuatnya gerah setengah mati.


Berada di halaman parkir dan hendak membuka pintu mobil, seorang wanita, teman kuliah Vanya, saat itu dengan berani meraih jemari Dewa dan menghentikan langkah pria itu. Hatinya berdebar kencang ketika di lihatnya, wajah Dewa menggelap penuh amarah.


"Mas dewa, tunggu. Aku... ada yah mau aku sampaikan sama mas Dewa. Ini... tentang Vanya....."


Tasya, menatap takut-takut ke arah Dewa. Dengan berani, ia menemui Dewa tanpa sepengetahuan Vanya. Ada niat terselubung di dalamnya.


"Katakan cepat, aku tak butuh waktu lama".


"Ini.... aku harap dari ini....." Tasya mengangsurkan sebuah amplop coklat berukuran besar pada Dewa. "Ini bisa membuktikan dan bisa membuka mata mas Dewa,tentang siapa sebenarnya Vanya".


Tanpa berani menatap Dewa, Tasya kemudian berbalik pergi. Meninggalkan Dewa yang masuk ke dalam mobil, membuka amplop tersebut dengan cepat. Dewa tak bisa menunggu lagi sekarang.


Alangkah terkejutnya Dewa, ketika di lihatnya wajah Vanya yang tengah terlelap hanya menggunakan selimut saja sebatas dada, menutup pay**aranya yang sintal dan menggoda. Tak jauh dari Vanya, seorang pria terbaring miring dengan posisi memunggungi Vanya.


Mereka, telah mengenakan selimut yang sama dengan yang Vanya kenakan.


Bagaimana rasanya ketika kau melihat kekasihmu terlelap bersama dengan pria lain? Sementara baru hitungan menit sebelumnya, sang kekasih terlihat sedang berpeluk mesra dengan pria lain?


Dewa bukan hanya meradang, tetapi juga lebih dari sekedar murka. Hati yang ia tautkan pada sang kekasih, nyatanya kini telah di khianati.

__ADS_1


'Tidak taukah kau sebesar apa cintaku padamu, Vanya? Hingga sakit yang aku rasakan atas pengkhianat mu kini, telah merubah rasa cintaku menjadi kebencian di hatiku. Kenapa harus mengkhianatiku? Aku membencimu, Vanya..... aku membencimu'.


**


__ADS_2