
Kenan bangkit dari ranjangnya. Sekilas, ia melirik Anjani yang pulas tertidur dan mendengkur perlahan. Sepertinya, Anja kelelahan setelah pergulatan ranjang dengan suaminya.
Dengan senyum yang kian mengembang, Ken menatap tubuh polos istrinya.
Dulu, tubuh inilah yang ia cumbu dengan sangat kasar. Dulu, dia lah yang pertama kali menjamah tubuh ini. Dulu, Kenan pula lah yang menghina dan merendahkan tubuh ini hingga ke titik terendah.
Namun kini.....
Justru tubuh ini lah yang menjadi candunya.
Ada riak-riak rindu yang mulai terbentuk dan tak terhitung jumlah massanya saat Anja pergi meninggalkannya demi mempertahankan buah cinta mereka.
Ken tersadar, ia sekarang tak bisa meski hanya sekejap saja berpisah dari Anja.
Ken jadi teringat dengan pergulatan panas mereka, menyalurkan hasrat dan menggilai sentuhan masing-masing dari mereka. Namun, detik berikutnya, ia jadi teringan dengan si biang kerok Seyna.
Kaki Ken bergetar. Ia meraih gelas diatas nakas, namun sayang..... isinya telah tandas tanpa bekas. Padahal, ia sangat dahaga saat ini. Dengan langkah sempoyongan, Ken beranjak turun dari ranjang dan hendak turun ke dapur untuk mengambil air, untuknya dan Anjani.
Sekilas ia melirik jam dinding di atas pintu, jam menunjukkan pukul 19.04. Ia baru ingat, ia telah melewatkan makan siang. Pantas saja perutnya berteriak protes meminta agar segera di isi.
Sekeluarnya Ken dari kamar, sayup-sayup Ken seperti mendengar suara papa dan mamanya di kamar Kania. Ah masa bodoh lah. Ken tak peduli. ia hanya ingin bertemu dengan dengan Seteko air putih untuk mengisi tubuhnya yang terasa dehidrasi.
Seusai mengisi teko kecil dengan air, Ken segera ke atas. Alangkah terkejutnya ia saat sampai di anak tangga paling atas, ia berpapasan dengan papa dan mamanya.
Fandy dan Nawal melotot bersamaan saat melihat putranya terlihat begitu kacau. Tidak seperti Kenan yang biasanya selalu tampil rapi dan wangi, kini Ken terlihat berantakan. Tubuh Ken juga terlihat bergetar.
Rambutnya berantakan hingga hampir menyerupai telur orak-arik. Wajahnya kusut dan tubuhnya hanya mengenakan boxer tanpa atasan. Lama-lama Fandy dan Nawal curiga. Jangan-jangan Ken habis bertengkar dengan Anja.
Fandy dan Nawal saling tatap kemudian menghampiri sang putra.
"Ken, kamu kenapa? Kok berantakan banget? Kamu sama istrimu nggak lagi bertengkar kan? Dari tadi kamu juga nggak keluar kamar sama istrimu? Kamu nggak ngapa-ngapain istrimu kan?".
__ADS_1
Nawal memberondong putranya dengan banyak pertanyaan. Fandy yang di sampingnya pun tak kalah penasaran. Ken hanya mendengus sebal pada mamanya yang super cerewet, kalau bertanya tanpa jeda dan selalu bertubi-tubi.
"Anja udah abis sama aku, ma. Udahlah. Ntar aku ceritain. Makan malem udah siap kan? Bentar lagi aku turun sama Anja. Tungguin aku mandi dulu". Ken pun berlalu menuju kamarnya tanpa menunggu tanggapan sang mama.
"Anak itu selalu bikin pusing. Nggak Kenan, nggak Kania.... semua anak-anakmu sama saja, pa. Aku curiga, Jangan-jangan waktu papa muda dulu, papa sering buat kekacauan ya kayak anak-anak?".
Nawal selalu begitu. Semakin tua hobbynya ngedumal tak karuan. Fandy hanya tersenyum kecil menanggapi tanpa menjawab. Istrinya ini, seperti apapun marahnya, selalu terlihat cantik di matanya.
Nawal akhirnya memutuskan mengambil Vanya yang sedari tadi di ajak pengasuh bermain di ruang keluarga. Memikirkan dua orang anaknya, membuat Nawal stress dan cucunya lah yang menjadi penghibur hatinya.
Fandy? Tentu saja ia lebih memilih ke ruang kerjanya. Menghubungi asistennya untuk membantunya mengurus pendaftaran kuliah Kania. Baginya, lebih cepat lebih baik.
...................
Di waktu yang sama dan tempat yang berbeda, Seorang pria tampan tengah termenung di atas ranjangnya.
Dia dialah Niko. Selepas kepergian orang tuanya pulang ke kampung halamannya tadi siang, Niko enggan melanjutkan pekerjaannya dan lebih memilih kembali ke kostannya.
Niko memang sengaja mengajak salah satu teman kuliahnya dulu untuk bersandiwara berciuman di depan Kania, agar Kania membatalkan perjanjian lamaran dengan ayah Niko. Bukan apa-apa, Niko hanya merasa ragu pada Kania.
Alhasil setelah Kania mengucapkan telah melepaskannya, kini mengapa Niko merasa ada sudut hatinya yang merasa tercubit?
Niko tak habis pikir. Ia kembali menghubungi Kania namun sama saja, Kania menolahlk dan tak lama, ia menghubungi lagi namun nomornya telah diblokir.
Bukankah ini tujuannya bersandiwara? Bukankah ini yang Niko mau? Bukankah Niko memang ingin Kania mundur? Bukankah Niko ingin tenang tanpa di ganggu Kania? bukankah Niko ingin bebas dari perhatian-perhatian receh Kania yang membuatnya risih?
Lantas, mengapa kini Niko merasa terluka saat mengingat wajah Kania yang menangis karna ulahnya? Niko frustasi.
Niko ingin menenangkan fikirannya sejenak. Biarlah, masalah Kania akan ia urus besok. Sepagi mungkin, ia akan kerumah Kania untuk menemuinya dan memberinya penjelasan.
Kania benar, ia memang mengejar-ngejar Niko selama ini, namun, ia tak tak pernah merendahkan dirinya dengan mudah seperti wanita lain pada umumnya. Kania masihlah suci dan terjaga.
__ADS_1
Dengan langkah gontai, Niko pun menghubungi Rio dan mengajaknya bertemu. Kenan bahkan sedari siang tadi tak bisa di hubungi, entah apa yang Ken lakukan sekarang. Mungkin kah Ken sedang menjalankan misi rahasia dari Anjani? Niko tak tau dan tak ingin memikirkannya.
Setelah ia menghubungi Rio dan sepakat bertemu di cafe tempat biasa Meeka nongkrong, kini akhirnya Niko pun berangkat kesana.
Setibanya di cafe, Niko pun menghampiri Rio yang ternyata sudah Sampai lebih dulu.
"Hai Yo... Apa kabar? Lama banget Lo nggak ada kabar belakangan ini? Ketol banget Lo gara-gara perjodohan aja Lo mesti ngilang-ngilang gini?" Sapa Niko pertama kali yang mendapat dengusan sebal dari sahabatnya.
"Iya. Pusing gue lama-lama mikirin bokap. Bantu gue Napa nyari solusinya", ucap Rio santai.
"Di suruh kawin aja Lo pakai ngeles. Ken bilang enak tau". ungkap Niko santai. Tentu saja Rio hanya melotot di depan Niko.
"Gue nggak mau di jodohin. Apalagi gue nggak tau sama sekali siapa yang mau di jodohin sama gue".
"B*go Lo. Lo temuin aja tuh cewe. Sapa tau cantik nan bohai. Yakin Lo nggak nyesel?".
"Apa sebaiknya gue temui aja ya? Gue juga lelah mesti kayak anak maen petak umpet Mulu dari bokap", tanya Rio.
"Gue bantu Lo. Lo temuin dulu tuh cewek, cocok sama enggaknya, masalah belakang. Yang penting ketemu dulu. Tapi, kalau Lo udah kelar tu masalah, Li bantuin gue buat ngedapetin Kania. Deal?" Tanya Niko.
Niko sudah merasa mantap untuk mendapatkan Kania. Ia yakin, perbedaan status mereka ataupun perbedaan kasta antara dia dan Kania tak akan bisa jadi alasan lagi.
Masalah orang tua Kania, Niko yakin seyakin-yakinnya untuk membuat mereka menerima Niko. Fandy dan Nawal tergolong orang baik dan rendah hati.
Rio melotot tak percaya.
"Lo yakin Lo suka sama cewek labil kayak Kania?" tanya Rio memastikan. Ia masih tak percaya. Pasalnya, Rio sama sekali tak mengetahui yang sebenarnya terjadi antara Niko dan Kania.
"Gue yakin".
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1