PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 35


__ADS_3

Seorang wanita tengah menatap lalu lalang kendaraan di sekitar mobilnya. Perjalanan kali ini ia lalui dengan suka cita. Dengan mengendarai mobilnya pelan, Kania mengedarkan pandangannya .


Kania benar-benar merasa sangat bahagia. Dengan segenap kepercayaan diri yang ia miliki, Kania memutuskan untuk tetap keukeuh dalam mendapatkan cinta Niko.


Perasaan suka pada Niko, entah mulai kapan rasa suka itu mulai hadir. Yang jelas, saat ini Kania benar-benar terjebak dalam perasannya sendiri. Entah bagaimana nanti kedepannya, Kania akan berusaha keras untuk memenangkan hati Niko.


Niko Ardha Pranata, seorang pemuda yang berasal dari keluarga sederhana. Meski begitu, latar belakang keluarganya tergolong baik. Niko merantau ke Banyuwangi dengan mulai kuliah setelah setahun tinggal di Banyuwangi.


Awalnya, Niko bekerja di sebuah hotel dengan menjadi cleaning service dan berjualan pulsa elektronik. Di hotel itulah pertemuannya dengan Kenan di mulai. Berkat bantuan Ken lah akhirnya Niko bisa kuliah dengan membantu Kenan menjual baju-baju dari distro milik Ken melalui situs online.


Karna keuletan dan kepiawaian Niko dalam memasarkan banyak barang Kenan, akhirnya, Niko bisa melanjutkan kuliahnya.


Kania berhenti tepat di sebuah bangunan distro berlantai dua. Ia turun dan segera di sambut oleh security dan karyawan di sana. Sudah hal biasa bagi karyawan di sana dalam hal kedatangan Kania. Mereka berasumsi bahwa saat ini Kania tengah menjalin hubungan dengan kepercayaan bos mereka, Niko.


Dengan senyum manis, Kania memasuki ruangan Niko. Dengan mengetuk pintu pelan, Niko pun mempersilahkan masuk.


Dengan jantung yang tetap berpacu cepat saat bertemu Niko, Kania membuka pintu dan menyunggingkan senyum tipisnya. Niko hanya melirik sekilas dan menghembuskan nafasnya kasar. Lagi-lagi, Niko kali ini harus terganggu karna ulah Kania.


"Mas Niko. Aku bawain kukis buatanku. Ini enak loh. Mas Ken harus cobain ya." Tanpa ragu, Kania segera menyodorkan sebuah kukis ke arah Niko. Namun Niko menolak, sinar matanya menajam ke arah Kania dan beberapa detik kemudian, Kania menarik kembali tangannya karna Niko tak meresponnya.


"Mas Niko kenapa sih kok jadi cuek gitu. Aku buatnya susah tau", ucap Kania di sertai dengan bibirnya yang mengerucut.


"Apa aku yang minta?", tanya Niko dengan wajah garangnya. Kania yang menyadari Niko mulai kasar segera mundur babarapa langkah dan menjatuhkan kukis yang tadi di pegangnya.


"Iya, ini memang aku yang inisiatif sendiri tanpa mas nik pinta. Tapi aku beneran tulus. Apa mas Niko nggak bisa menghargai aku sedikit aja? Mas Niko....." Tanpa kata lagi, Kania segera menutup kembali toples kecil yang di bukanya tadi, segera memasukkannya ke dalam paper bag dengan wajah yang biasa saja. Namun, Niko melihat jelas rona kekecewaan tercetak jelas di mata indah Kania.


Kania memang terluka, namun ia harus tegar dan tak mau menyerah begitu saja. Mungkin ia di tolak hari ini, namun untuk besok? Takdir tidak ada yang tau, bukan?

__ADS_1


"Ya udah, mas. Kania pulang dulu, ya. Mas Niko jangan telat makan". Kania mengeluarkan kalimat terakhirnya dengan menyertakan senyum tulus yang tak ada habis-habisnya.


Niko terhenyak hingga Kania tak lagi terlihat oleh pandangannya. Dengan menghembuskan nafasnya kasar, Niko segera mengejar Kania yang sudah masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan cepat. Namun, sudah terlambat. Kania sudah menghilang di antara banyak kendaraan yang berlalu lalang.


'Kenapa sih tuh anak nggak nyerah? terbuat dari apa hati tu anak tetep maju meski aku udah berkali-kali nolak? Andai kamu bukan berasal dari kalangan berada, mungkin aku akan mempertimbangkannya. Kamu berbeda dengan gadis lain. Kamu Sampai rela banyak berkorban cuma demi mengejar lelaki miskin kayak aku, kania' Batin Niko.


Niko kembali masuk setelah mendapati Kania yang sudah berlalu dari sana. Dalam hati, Niko merasa bersalah telah bersikap dingin pada Kania. Namun, Niko melakukan semua itu agar Kania segera menjauh darinya dan melupakan perasaannya. Meski harus Niko akui, Niko sudah mulai terbiasa dengan kehadiran gadis barbar si pengagumnya itu.


.................


Di lain tempat, Anjani tengah berkutat dengan pelajaran di sekolahnya. Setengah jam lagi, jam belajarnya akan berakhir. Sedang kenan, baru saja mengiriminya pesan bahwa Ken sudah dalam perjalanan menjemputnya. Ia sudah tak sabar untuk segera pulang dan bertemu Vanya. Mungkin juga stok asi nya yang di kulkas akan habis.


Tanpa Anjani sadari, sepasang mata memperhatikannya dari luar. Entah apa yang wanita itu rencanakan terhadap Anjani. Yang jelas, rencana licik mulai terbentuk dalam otaknya.


Wanita itu adalah Seyna. Anak bungsu dari Robby, pemilik sekolah ini yang tak lain adalah sepupu dari Fandy. Bukan hal yang asing bagi keluarga Mahardhika bahwa Seyna sudah sejak lama menyukai Kenan.


Seyna berpikir, bahwa Anjani adalah wanita yang lemah karna ia terlahir dari rahim seorang pembantu. Tapi kenyataannya, Kenan selama ini banyak menceritakan pada Anjani tentang sepupunya yang bernama Seyna.


Kenan bukan tak memikirkan hal ini. Kenan adalah type pria yang hidupnya penuh perhitungan. Hanya pada Anjani saja ia jatuh dalam pesona Anjani dengan sangat dalam


Saat pertama kali Anja masuk ke sekolah ini, Ken yakin pasti lah Seyna tak akan tinggal diam. Maka dari itu, Kenan mewanti-wanti agar Anjani berhati-hati. Bahkan saat di rumah pun, Kenan tak tinggal diam saat Seyna datang, ia segera membawa Anja dan Vanya masuk ke dalam kamar tanpa berlama-lama menemui Roby dan keluarganya.


Hanya suatu keterpaksaan yang membuat Kenan memasukkan Anjani ke sekolahan itu.


Anjani keluar dengan wajah berbinar. Waktu sekolah sudah usai. Kini ia berjalan ke arah parkiran menuju tempat kenan menjemputnya.


"Hei.... Nja, Tunggu...." Anjani melirik dan mendapati Seyna berlari ke arahnya. Anjani bersikap biasa saja, dan menyunggingkan senyum tipisnya.

__ADS_1


"Apa kamu di jemput, Kenan?",


"Iya sey. Kenapa?."


"Boleh nggak, kalau aku mesti numpang. Tadi aku kesini bareng papa. Tapi papa masih ada rapat jadi kelamaan kalau aku nunggu". Pinta Seyna dengan wajah memelas.


"Iya boleh sih. Tapi kamu ijin sendiri aja sama mas Ken. Mudah-mudahan mas Ken nggak sibuk setelah ini".


"Makasih ya, nja". Anjani tersenyum dan tak lama, Kenan terlihat melipat tangan di dadanya dan menyandarkan tubuhnya di pintu mobil bagian depan yang tertutup.


Dari kejauhan, Kenan pun tau, ada gelagat yang aneh dari sepupunya ini.


"Ken, boleh nggak aku numpang? Bisa anterin aku pulang, kan? Aku tadi ke sini bareng papa, tapi papa ada rapat mendadak jadi aku males kalau harus nunggu lama-lama. Boleh ya, Ken?"


"Gimana, sayang?" Tanya Kenan dengan menatap Anjani. Kenan berharap, Anjani tak mengijinkan. Tapi sayang, Anjani justru melempar keputusan pada Kenan.


"Aku sih terserah kamu, mas. Asal kamu nggak sibuk. Kamu nya sibuk nggak?"


glegh....


Kenan meneguk salivanya dengan kasar. Dalam hati, Kenan merutuki istrinya yang membuatnya terjebak.


Kalau menolak, pastilah Ken tak enak hati karna mengingat Robby yang sudah mau menerima Anjani bersekolah di sana. Kalau mengijinkan, pastilah Seyna akan semakin melunjak nanti.


"Ya udah deh, hayuk".


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2