
Taukah kau arti dari sebuah rasa sakit?
Tentunya sesuatu yang yang mampu menghancurkan duniamu saat itu juga.
Siapa yang tidak sakit saat melihat wanita yang jadi poros duniamu saat ini tengah terbaring lemah tak berdaya diatas brankar rumah sakit?
Satu jam yang lalu, Anjani berhasil melahirkan bayi mungil perempuan dengan berat tubuh 3,1 kg dan panjang tubuh 49 cm. Anjani tetap ngotot memilih melahirkan normal meski dokter menyarankan agar Anjani menjalani proses melahirkan dengan sesar.
Anjani meski keadaannya lemah, ia tetap ingin melahirkan normal dan menikmati perjuangan sebagai ibu yang melahirkan putri kecil yang begitu cantik.
Dengan sisa tenaga, Anjani berusaha mengejan mengeluarkan sang bayi yang rupanya sudah tidak sabar untuk melihat dunia.
Beberapa saat yang lalu sebelum melahirkan, Anjani sangat bersikeras untuk tidak ingin di temani Kenan sebagai suami. Tentu saja karena Anjani masih lah sangat marah pada Kenan.
Namun, Kenan tetaplah Kenan yang keras kepalanya jauh melampaui batas kekeras kepalaan Anjani. Anjani tetap tidak berkutik saat Kenan memaksakan masuk ruang bersalin untuk mensupport dan menyaksikan sang istri yang berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan putri mereka.
Setelah bayi Anjani lahir, dokter segera membersihkan bayinya dan memberinya dalam selimut hangat. Sesaat setelah itu, Kenan pun segera mengadzani sang putri dengan suaranya yang merdu. Membuat sang bayi merasa nyaman dan terlelap dalam pelukan Kenan, sang ayah.
Saat ini, Anjani tengah terlelap karna kelelahan. Setelah memberikan asi pertamanya yang cukup lancar untuk sang putri, Anjani memilih untuk memejamkan mata.
Anjani berfikir, Untuk marah pada Kenan, akan ada saatnya nanti. Untuk memaki Kenan dan meluapkan kekesalannya, Anjani berpikir butuh tenaga yang cukup. Anjani hanya tidak mau kondisinya nanti melemah karena emosi yang tak terkontrol pasca melahirkan. Bagaimana pun, sekarang Anjani harus juga memikirkan sang putri yang baru hadir di tengah-tengah mereka.
"Ken", Kenan mengalihkan pandangannya ke samping kiri,l. Fandy, sang ayah datang menepuk pelan pundak Kenan. "Selamat, ya. Sekarang di usiamu yang hampir dua puluh tiga tahun ini, kamu sudah di karuniai seorang putri yang cantik. Papa harap, kedepannya, kamu semakin dewasa menyikapi permasalahan rumah tangga".
"Makasih ya, pa. Makasih banyak". Ken segera meraih dan memeluk sang papa dengan tulus. Fandy, entah bagaimanapun kesalahan dan sebesar apa pun masalah yang di buat Kenan, Fandy tetap tidak pernah memaki ataupun memukul Kenan.
Fandy selalu dengan senang hati menasehati dan memberi wejangan yang cukup bijak pada anaknya yang sering melakukan kesalahan. Jika emosinya memuncak, Fandy lebih memilih menyingkir dan menyendiri untuk menenangkan hatinya.
Terkadang, Kenan ingin sekali seperti sang papa yang selalu sabar dan menerima apapun keadaan anaknya. Kenan sangat mengidolakan sosok ayah yang begitu pengertian.
__ADS_1
"Mas, Kenan. Kalian belum makan dari tadi. Ayo, makan dulu". Kenan dan Fandy mengangguk pada Nawal tanpa kata. Ken melihat sekilas jam tangan yang di kenakannya. Jam sudah menunjukkan pukul 20.14.
Setelah acara makan malam ayah dan anak itu usai, dokter yang menangani Anjani datang dan ingin bicara dengan Kenan selaku suami pasien. Ken pun memutuskan untuk mengajak sang mama untuk menemui dokter. Tentu saja Nawal bersedia.
Sesampainya di ruang dokter, Ken dan Nawal pun segera duduk di kursi depan meja dokter. Ada beberapa poin yang harus Ken perhatikan mengenai apa yang dokter sampaikan seputar Anjani dan bayinya.
Dokter mengatakan, bayinya dalam keadaan baik-baik saja sejauh ini. Namun, tidak bagi Anjani yang masih mengalami syok dan tekanan darahnya masih belum stabil. Untuk itu, Anjani tidak di perbolehkan pulang hingga dua hari kedepan.
Nawal dan Ken pun mendengarkan dengan seksama tentang apa yang di sampaikan dokter.
................
Pagi ini, langit terlihat mendung. Mentari yang biasanya memancarkan sinarnya untuk menghangatkan bumi, kini tidak menampakkan dirinya. Udara sejuk kian terasa menusuk tulang dengan menembus pori-pori kulit.
Anjani menggerakkan kelopak matanya. Mengerjapkan matanya perlahan dan merasakan sebuah tangan menggenggam lemah tangannya.
Mata Anjani melirik, Kenan terlihat tidur dengan menyandarkan kepalanya di sisi ranjang Anjani dan tangan kanannya menggenggam tangan anjani. Seketika ingatan Anjani kembali pada kejadian kemarin siang saat dirinya berada di resto.
klek
Pintu terbuka pelan dari arah luar. Nawal muncul dengan membawa rantang makanan. Dengan cepat, Anjani segera mengusap air matanya yang tadi mengalir deras.
"Nja, kamu sudah bangun? Ayo sarapan dulu ya. Biar stamina mu terus kuat. Bentar lagi, kamu juga harus menyusui cucu mama", kata Nawal dengan sumringah. Ia sengaja tidak menyinggung tentang Anjani yang menangis.
Biarlah, itu bisa di bicarakan nanti setelah Anjani pulang. Untuk saat ini, Nawal cukup cerdas dengan tidak membahas hal-hal sensitif terlebih dahulu.
"Makasih ya, ma", jawab Anjani d Ngan tulus. Suaranya terdengar parau.
"Udah, masalah yang kalian hadapi jangan di pikir terlalu keras. Yang terpenting sekarang, kamu harus tetap menjaga kesehatan dan pola makan agar asi mu lancar. Mama cuma mau, kamu tetep baik-baik saja, nja. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Putri mu yang cantik itu sangat butuh kamu saat ini.". ucap Nawal tulus. meski matanya menyiratkan luka, Nawal tidak ingin terlihat lemah setidaknya di hadapan menantu nya.
__ADS_1
"Pasti, ma. Makasih ya ma, mama udah menyayangi Anja dengan setulus hati seperti mama menyayangi Kania. Anja bersyukur, selepas kepergian ibu, mama Nawal menggantikan peran ibu bagi Anja", ucap Anjani pelan.
Kenan yang berada di sisi Anjani pun merasa terusik dengan percakapan Nawal dan Anjani itu. Akhirnya Kenan memutuskan bangun dan orang yang pertama ia lihat adalah, wajah Anjani yang masih pucat.
"Nja... Kamu...sudah bangun?", tanya Kenan dengan suara seraknya. Anjani mengangguk dan tersenyum tipis. Sesungguhnya, di balik senyum tipis Anjani, tersirat sebuah rencana yang mulai ia susun untuk rumah tangga nya ke depan. Entah apa itu, hanya Anjani yang tau.
"Apa yang kamu rasakan sekarang? Apa ada bagian yang sakit?". Anjani menggeleng, dalam hati, Anjani bahagia karna Kenan sangat perhatian padanya. Namun, Anjani takut jika semua perhatian Kenan ini adalah sebuah sandiwara. Sandiwara yang mengingatkan Anjani tentang taruhan itu.
"Aku baik-baik aja, mas".
"Maafin aku ya, nja. Dulu, aku memang nggak begitu suka sama kamu. Tapi sekarang, kamu segalanya untukku, nja. Tolong jangan salah paham lagi".
"Aku lapar, mas". Anjani sengaja mengalihkan topik agar tidak lagi terbuai dengan ucapan Kenan. Sungguh, Anjani lelah dan tidak ingin membahas apalagi memikirkan hal itu. Anjani perlu waktu.
"Aku siapin ya, nja?".
"Nggak usah mas. Aku bisa sendiri".
"Aku nggak mau di bantah. Tunggu aku, aku akan cuci muka sebentar".
Tegas Kenan tanpa di jawab oleh Anjani. Nawal tersenyum lega, nyatanya anak dan menantunya saat ini terlihat baik-baik saja. Nawal hanya belum menyadari niatan Anjani kedepannya.
🌹🌹🌹🌹🌹
jangan lupa mampir ke novel baruku
"Luka Dibalik Jelita"
Di jamin nggak kalah seru dari novel ini,
__ADS_1
Terimakasih udah mantengin cerita ku yaa🥰
Salam rindu dari neng Tia ❤️❤️❤️