
Vanya kini sedang ikut Anjani pergi mengecek beberapa hal di butik. Bukan sesuatu yang baru. Anjani sering mengajak putrinya itu untuk pergi ke butik.
Bahkan, banyak para pekerja butik yang menyukai Vanya. Anak itu juga mudah bergaul.
Tiba-tiba saja, Ponsel Anjani berdering.
Nama Kania tertera di sana.
"Hallo.... ada apa, dek?".
"Kak Anja.... Aku pengen belanja.... mau nggak nemenin Kania? anak-anak biar sama mama aja deh, ya?".
"Lah.... Emangnya mama ijinin?".
"Kalau Kania yang ngomong mah, pasti bakal di kasih....."
"Tapi ini Vanya lagi sama aku, loh".
"Ya udah deh, entar Vanya diajak, di dorong pake trolly aja"
"Emhh gimana, ya....".
"Nggak usah pakai alasan, ya. Aku nggak mau di tolak".
"Tapi kerjaan aku ba......"
"Kak Anja kan bos.... Nggak mungkin bangkrut kan, kalau mendelegasikan beberapa pekerjaan ke anak buah?".
Sekali lagi, Anja tak bis berkata apapun untuk mendebat Kania.
"Ya udah, deh. Aku masih di butik".
"Ya udah. Kania jemput. Tunggu sebentar lagi. Jangan kemana-mana, Kania nggak akan lama".
Ponsel di matikan sepihak oleh Kania.
Anjani mendesah pasrah. Sesungguhnya, tidak lah mudah mendebat seorang Kania. Peluang kalah terlalu besar bagi siapapun rival debatnya.
Namun, tak lama Anjani tersenyum.
Kehidupannya terlampau bahagia sekarang.
Dulu, ia hanya anak tunggal, namun kini.....
Ia memiliki keluarga yang bahagia.
Anjani bangkit dari kursinya, dan ia keluar ruangan mencari Vanya.
Hingga Vanya berada di kasir dengan mengobrol ria bersama saah satu karyawan Anjani.
"Vanya.... Kita keluar yuk. Tante Kania ngajakin kita jalan-jalan.".
__ADS_1
"Papapa ninkan nantuhhhh".
"Papa nggak ikut, Udah hayuk, keburu Tante Kania datang". ajak Anjani kemudian.
"Vanya lucu ya, Bu. Gemes...."
Ungkap Fitri, kasir di butik Anja.
"Iya, makasih ya udah ngajakin Vanya" kata Anjani sopan.
"Iya Bu... sama-sama.
Hingga Anjani tiba kembali di ruangannya, tak lama berselang, Kania datang dengan wajah cerianya. Penampilannya cukup santai kali ini.
"Assalamualaikum....".
"Wa Alaikum salam....."
"Kak, udah siap? Aduhh ponakan Tante cantik banget. Sini.... Tante Gendong."
Selorohnya dengan mengambil alih Vanya ke dalam gendongannya.
Vanya hanya menurut, tanpa perlawanan. Anak itu sangat riang. Wajah putihnya terlihat begitu teduh, di bingkai dengan rambutnya yang di kucir dua ke atas, menambah kesan imut pada anak itu.
"Kamu.... kenapa sih pagi-pagi gini getol banget ngajakin nge-mall?"
Tanya Anjani seraya berjalan keluar butik menuju mobil Kania. Kania masih setia membawa Vanya yang lucu ke dalam gendongannya. Sesekali anak itu berontak minta di turunkan.
"Lah kalau udah jadi ibu rumah tangga itu, ya memang harus stay di rumah jagain anak. Bukankah sebelum pernikahan kamu sama Niko, mama sama papa udah berkali-kali ngingetin?".
"Iya sih, Tapi ya gitu, terlanjur bosen, mau gimana lagi?"
sahut Kania. Anjani hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah konyol Kania.
"Kalau sama papanya Fatih, bosen nggak?"
Kania menatap kakak iparnya dengan tatapan horor,
"Ya enggak lah... Mana ada bosen? Yang ada sih, aku ketagihan terus tiap malem".
Kelakarnya sambil terkekeh.
Mereka pun memasuki mobil dan melesat ke arah super market terdekat.
Sesampainya di sana, mereka segera memasuki pusat perbelanjaan yang terkenal ramai itu. Pandangan Kania tiba-tiba berpusat pada sebuah segerombolan orang berseragam putih-putih.
Terdapat acara donor darah sukarela di sana.
"Kak... Aku pengen deh, donorin darah. Nanti donor darah, ya".
"Kamu yakin?".
__ADS_1
"Iya lah....".
"Kamu kan masih menyusui Fatih?".
"Nggak aoa-apa.... nanti sampai rumah, aku minum susu sama bikin telor rebus biar tetep bertenaga.
Mas Niko nggak bakal marah kok. Justru....
Mas Niko selalu ngajarin aku untuk selalu berbagi dan jangan takut kekurangan". ujar Kania menjelaskan.
"Aku salut sama suami mu. Beruntung, meski dari keluarga sederhana seperti aku, tapi Niko selalu rendah hati dan suka menolong. Kamu beruntung deh, dapet suami kayak dia".
Kania hanya menjawab dengan anggukan.
Setelah mereka puas dan selesai dengan acara berbelanjanya, Kania mengajak Anjani untuk mendonorkan darah mereka.
Mereka pun sepakat menggendong Vanya secara bergantian.
"Aku... pilih dokter yang itu aja".
Ungkap Kania.
Anjani melihat beberapa dokter berjejer dengan masing-masing kursi santai di sampingnya, tempat rebahan para pendonor.
"Kenapa? Lah itu kan jauh.... Yang Deket aja sih biar nggak kejauhan. Lagian di sana rapet".
"Ih, kak Anja nggak ngertian banget sih...."
"Maksudnya??"
Kania mendekatkan bibirnya ke arah telinga Anjani.
"Kalau dokter yang Deket, itu tua kak, jelek, perutnya buncit, kepalanya botak. Belum ketusuk jarum aja, pasti rasanya sakit. Nah apa lagi pas ke-tusuk?
Tapi... kalau dokter yang paling ujung itu....
Dokternya ngganteng... masih bening dan lihat deh... gemes.....
Di tusuk kayak apa aja, pakai jarum Segede apa pun, sakitnya nggak bakalan kerasa." Jawab Kania dengan terkikik perlahan.
"Astaga Kania.... ku laporin nanti sama suamimu".
Ucap Anjani geram. Kania meringis saja tanpa rasa berdosa.
"Mas Niko kalau udah marah, di kasih jatah dobel aja pas malem-malem. Pasti reda tuh.
Huahahahaha... Lagian aku becanda kali, kak. Mana mungkin beneran?
Buat dapetin mas Niko itu, nggak gampang loh"
Anjani hanya geleng-geleng kepala mendengar kalimat konyol adik tirinya itu
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹