PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 24


__ADS_3

Hidup merupakan sebuah pertarungan. Siapa yang kuat, maka dialah yang menang. Sayangnya, dari sekian banyak pertarungan, tak sedikit pun kemenangan seolah berpihak pada Vanya.


Wanita itu duduk seorang diri dengan secangkir teh manis di atas mejanya.


Dewa telah pulang satu setengah jam yang lalu, ia juga hanya bisa sendiri di rumah Dewa ini, dengan dalih pada Emi bahwa dirinya tengah wawancara kerja hari ini.


Vanya yang biasa selalu baik terhadap banyak orang, nyatanya kini telah menyakiti semua keluarga besarnya. Vanya tak akan menyangkal hal itu.


Kali ini, Vanya benar-benar bertarung dengan isi hatinya. Putri sulung Anjani itu sudah memikirkan tentang konsekuensi dari perbuatannya ini. Selama dua tahun, ia mengalah dan tak membiarkan dirinya sedikit pun berhubungan dengan Dewa. Namun semakin kesini, ia semakin sakit melihat Dewa, namun tak bisa menyentuh dan memilikinya.


Entah apa yang membuat Vanya senekat ini. sepanjang hidupnya, baru kali ini dirinya mengambil langkah ekstrim. Tak ingin berdiam diri sendiri, Vanya bergegas membersihkan diri dan segera pulang ke rumah kontrakannya bersama Emi.


Sepanjang perjalanan, Vanya hanya bisa memikirkan jawaban apa yang tepat, jika Kenan, sang ayah menanyainya. Ia juga mungkin akan mendapatkan sanksi moral dalam keluarga di waktu mendatang.


Hingga Vanya tiba di rumah, pintu rumah terbuka dan Vanya mengerutkan keningnya. Emi tampak sibuk berkutat dengan laptop dan juga kertas-kertas di depannya.

__ADS_1


"Van, gimana? Gimana wawancaranya?" Emi bertanya dengan harap-harap cemas. Gadis itu sungguh tidak tahu lagi harus bagaimana untuk membantu Vanya agar segera mendapatkan pekerjaan.


"Udah wawancara tadi, tapi di terima atau enggak, belum tahu juga. Besok juga mau keluar dan nyari kerjaan lain. Siapa tahu rejeki, kan?" Vanya sedikit gugup. Namun ia tak bisa untuk jujur pada Emi untuk saat ini. Mungkin nanti, Vanya akan mempertimbangkan.


"Mudah-mudahan keterima ya, Van. Aku ikut sedih kalau kamu bosen di rumah terus."


"Amin, makasih ya, Em. Kamu memang sahabat aku."


Keduanya saling berpelukan, hingga sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Vanya.


"Emi, aku bentar lagi mau keluar, ada yang harus aku cari dan juga mastiin tentang kerjaan lain yang aku mau lamar disana." Vanya tampak buru-buru usai melihat pesan di ponselnya.


Sesungguhnya, Vanya tadi mendapatkan notifikasi pesan dari Dewa yang mengajaknya keluar untuk membeli pakaian. Vanya yang biasa tak berbohong, kini tak bisa menyembunyikan kepanikannya. Benar-benar sial.


"Jangan, Emi. Lain waktu. Hari ini juga kebetulan aku sedang ada janji dengan seseorang."

__ADS_1


Tak butuh orang bodoh untuk membaca kebohongan Vanya kali ini. gadis itu benar-benar tidak bisa berbohong di sepanjang hidupnya.


"Kenapa aku nggak boleh ikut? Ada janji dengan Dewa? Jangan gila, Vanya. Dewa itu suami sepupu kamu."


Toh tidak ada gunanya juga bagi Vanya, se peduli apa pun Emi saat ini. Yang ada, Vanya tetap enggan untuk berdebat dengan Emi saat ini.


"Jangan Ngadi-Ngadi, em. Aku keluar bukan sama Vanya, tapi seseorang yang udah lama banget nggak ketemu aku. Kebetulan aku melamar di kantor tempat dia kerja. Jadi please jangan salah paham, ya?"


"Oh maaf." Emi hanya bisa cengengesan.


Tak lama kemudian, Vanya sudah selesai mandi dB bersiap pergi, gadis itu keluar rumah kontrakan dengan di lepas Emi. Kini, di seberang jalan sana, Kania memandangi Vanya yang keluar rumah, sambil memotret gadis itu.


Kania sudah bertekad, ia akan menyelidiki sendiri, apa saja yang sudah Vanya dan Dewa lakukan di belakang Anika.


**

__ADS_1


Jangan lupa dukung karyaku yang lain, ya.



__ADS_2