
Jika kalian mengira bahwa Kenan akan termakan dan mudah terjebak, kalian salah, ya.
Yuk baca cerita detailnya, biar nggak pada salah paham. Si Ken mah, nggak kayak papahnya yang terlalu lembek😘
Selamat membaca....
Terima kasih buat kalian-kalian yang udah dukung, Aku tanpa support kalian, bukanlah apa-apa........
**
Cafe yang Fandy limpahkan pada putri dan menantunya, Kania dan Niko, kini terlihat nampak ramai dan memperlihatkan kemegahannya. Cafe itu berkembang pesat di bawah pengelolaan Niko. Banyak para tamu undangan yang seolah berlomba-lomba untuk menampilkan yang terbaik.
Sedari pintu masuk hingga memasuki bangunan utama, pernak-pernik lampu dan hiasan bunga dekorasi di designer demikian menawan. Tentu saja hal itu tak luput dari andil Kania.
Ketika Niko memintanya untuk turut andil dalam mendekorasi gedung, maka jiwa glamour Kania muncul ke permukaan.
Niko dan Kania tengah menyambut tamu yang mulai berdatangan. Semua dari kalangan pebisnis, tentu saja. Tak jarang, banyak para pengusaha-pengusaha muda sebenarnya, mengincar posisi Niko untuk menjadi menantu Fandy, suami Kania.
Ahahahaha.....
Mereka hanya tidak tau saja, seberapa sulitnya menaklukkan hati Kania. Seberapa rumitnya memberi perawatan pada Kania yang barbar dan keras kepala suka menang sendiri. Seberapa sulitnya menjinakkan singa betina bila sudah mengaum keras.
Di sisi sepasang suami istri itu, Nawal dan Fandy nampak sibuk berbincang-bincang dengan kolega bisnisnya. Nawal yang mendampingi suaminya, juga turut serta mendampingi sang suami.
Tak lama, mobil Kenan dan Anjani tengah memasuki pelataran cafe. Semua mata tentu saja tertuju pada kedatangan sosok putra sulung Fandy dan Nawal itu, beserta Anjani. Tak lupa, seorang pengasuh terpercaya juga mengekor di belakang Anjani, membawa Zhivanya berada dalam gendongannya.
"Mas, ayo gabung sama yang lainnya".
Ajak Niko lembut. Nadanya syahdu dan mampu membuat semua orang terbius.
__ADS_1
"Ya, terima kasih". Jawab Kenan. Kemudian matanya menatap sang adik yang hanya memandangnya datar. Kenan mengernyit bingung. kemudian Ken berlalu begitu saja dari sana.
Anjani dan Ken kini tengah duduk di kursi tamu, ketika seorang pelayan laki-laki datang memberikannya minuman. Tanpa pikir panjang, Ken meraih dan menenggaknya sedikit, setelah pelayan itu pergi.
Entah lah, ada yang terasa aneh pada tubuh Kenan. tiba-tiba saja darahnya terasa berdesir hebat, dan suhu tubuhnya meningkat. Padahal, sebelumnya baik-baik aja.
"Nja, aku ke toilet sebentar". Pamit Kenan pada sang istri. Anjani mengangguk dan hanya di temani pengasuh. Melepas Kenan yang berlalu dengan perasaan campur aduk. Entahlah, perasaan Anjani tiba-tiba tidak enak.
Sesampainya di toilet, Kenan berusaha menetralkan jantungnya yang berdegub liar. Entah apa yang terjadi, Ken setengah linglung, hingga sebuah tangan menariknya, dan membekapnya, membawa Ken menjauh dari tempat pesta.
**
Kenan terhempas pada sebuah ranjang yang begitu empuk ber tilam putih. Mata Kenan kemudian menangkap sosok seorang wanita dengan gaun tidur seksi. Diantara kesadaran Kenan yang mulai terkikis, Ken melihat dengan jelas sosok wanita itu.
Dialah, Wandira. Mantan designer yang bekerja di bawah naungannya. Seseorang yang Ken pecat setelah Dira menggodanya secara terang-terangan.
"Ka--kamuu??"
"Ya, mas Ken merindukanku? Aku akan memberi solusi untuk semua kebutuhan kamuas, malam ini".
Dira mendekat dan menggoda Kenan dengan bisikan-bisikan sensual, membuat Ken seolah semakin terbakar oleh api gairahnya yang semakin membara. Jemarinya seolah telah handal bermain pada area-area sensitif bagi Kenan.
"Bre***ek.... sialaan......."
Tentu saja Ken menggemeletukkan giginya, Di sisa-sisa kesadaran yang masih tersisa, namun mulai menulis itu, Kenan berpikir cepat agar segera terbebas dari belenggu wanita iblis yang sedang menggamit lehernya ini. Sebisa mungkin Ken tak akan meladeni sedikitpun godaan Dira. Tidak. Itu tidak akan pernah terjadi.
"Sssttt..... jangan berontak, mas. Diam dan nikmati permainan panas kita malam ini. Biarkan aku yang mendominasi ya hingga selesai. Kamu.... kamu hanya.... perlu menikmatinya saja."
Tambah Dira dengan mendesah penuh kenikmatan yang menuntunnya untuk segera mencecap kenikmatan itu sendiri.
__ADS_1
Pe**ralihan....
Yah, gue butuh mengalihkan pikiran gue. Dengan apa? Tapi dengan apa?
Rasa sakit, yah..... dengan rasa sakit.
Kenan membatin.
Maka, mata Kenan tanpa sengaja menangkap keberadaan sebuah gunting yang tergeletak di atas meja rias. Kenan sudah tak kuat lagi.
Tanpa pikir panjang, Kenan segera meraih gunting tersebut, kemudian menusukkan gunting itu pada lengan kirinya. Membaut darah segar mengucur deras dan Ken mendesis kesakitan.
Hanya begini. Hanya dengan cara ini Ken bisa membuat efek obat sialan yang Dira berikan itu, kalah dengan sendirinya. Kenan tak akan memberikannya celah untuk berhasil, meski sedikit.
"Aaaaaaaaaaaa....
Mas... mas Ken... ma--maas.... Ya tuhan. Bagaimana ini? Bagaimana ini? Mas...kenapa kamu.... melakukan ini?"
Dira histeris dan tak bisa lagi menyembunyikan rona panik di wajahnya.
Darah mengucur deras dari lengan Ken yang tertusuk gunting. Bibirnya mendesis kesakitan seiring dengan wajahnya yang mulai membiru. Saat kesadaran Kenan mulai terkikis, kelebat wajah Zhivanya dan Anjani melintas di pelupuk matanya. Melambai dengan sayang dan meminta Kenan untuk bertahan.
Nja, Vanya.... papa sayang kamu dan mama.
Tolong aku, ja.... tolong..... tolong bebaskan aku.....
Dalam hati Kenan merintih.
**
__ADS_1
Sampai jumpa di part berikutnya. Part berikutnya, mungkin kemarahan Anjani mulai bangkit, ya. Dan Dira akan benar-benar ketiban sial🤭