PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 12


__ADS_3

Dalam diam yang membersamai kesunyian malam, Vanya duduk seorang diri di dapur rumah kontrakannya. Kedua orang tuanya telah mengetahui bagaimana siang tadi ia di debat oleh Anika, saudaranya.


Kini, terungkap sudah alasan Vanya yang pergi menghilang dari peredaran berita di hadapan Anika dan semua keluarga besarnya. Meski tak bertemu secara langsung, dengan keluarga besar, namun cepat atau lambat berita ini pasti menyebar dan di ketahui oleh keluarga besar Vanya.


Sepenggal janji yang dulu Dewa ucapkan padanya, kini seolah kembali terngiang dalam telinga Vanya. Tapi apa yang bisa Vanya lakukan? Vanya hanya bisa mengenang dan meratapi semuanya.


Satu tanya yang kini menggeluti hati Vanya, mengapa harus ada Dewa di hatinya dan Sulit di hilangkan begitu saja?


Kini, Vanya hanya bisa menyendiri dan mengunci dirinya sendiri di dalam kamar. Kepala Vanya terasa mau pecah. Dadanya seolah bergemuruh setiap saat ketika ia mengingat tangis saudaranya.


Sedangkan Kenan dan Anjani, sepasang suami istri itu tengah berada di dalam perjalan menuju kediaman Dewa. Satu hal yang perlu Ken dan istrinya lakukan adalah, menemui keponakan dan meminta maaf atas semuanya. Meski Vanya tak sepenuhnya bersalah, namun tetap saja Anjani dan suaminya merasa ia perlu meminta maaf secara pribadi.


Setibanya di kediaman Dewa, Dewa dan Mba Yuni, pengasuh Vio sangat terkejut akan kedatangan Kenan dan Anjani. Dua orang itu bukan tidak mengenal siapa Anjani dan Kenan.


"Om, Tante," raut segan tentu tampak di wajah Dewa. Tetapi pria itu tentu bisa mengendalikan dirinya, seolah antara ia dan dua orang paruh baya dihadapannya ini tak ada apapun diantara mereka.


"Anika ada?" Anjani seperti biasa, bertanya dengan lembut. Sikap santun Anjani, menurun pada putri sulungnya, Vanya. Sedang Kenan, kakak Kania itu tampak diam dan memasang mode datar pada ekspresi wajahnya.


"Ada, Tante. Sebentar Dewa panggilkan dulu. Mari masuk."


Biasanya, Dewa enggan repot-repot mempersilahkan tamunya masuk. Hanya Anika yang begitu peduli dirumah ini. Tetapi kali ini, Dewa tentu tak bisa mengabaikan kedatangan sepasang suami istri yang sangat ia hormati itu.

__ADS_1


Tak ada pembicaraan. Suasana canggung kini mendominasi ruang tamu kediaman Dewa yang cukup megah. Seperti biasa, pembantu dirumah Dewa membuatkan Ken dan Anjani minuman. Hingga kemudian Anika datang menghampiri keduanya.


Sontak saja Anjani dan Kenan berdiri menyambut keponakannya. Anika, tak bisa dikatakan baik-baik saja. Wajahnya yang tampak sembab, serta hidung yang memerah, pertanda bahwa Anika menghabiskan sebagian besar waktunya hari ini dengan banyak menangis.


Sebagai seorang wanita, tentu Anjani tak kuasa menahan sesaknya di dada. Siapa yang patut di salahkan bila sudah seperti ini? Bahkan putri Anjani pun juga merasakan sakit yang sama pedihnya.


"Tante, sudah dari tadi?" Meski Nika bersedih dan hatinya terasa hancur, akan tetapi lihatlah, wanita itu bisa mengendalikan dirinya dan emosinya dengan baik. Sikapnya masih biasa saja, seolah tak ada sesuatu yang buruk yang terjadi diantara mereka.


"Enggak, baru aja. Hai Vio" Perhatian Anjani dan Kenan tertuju pada Vio yang berada dalam gendongan Anika. Putri kecil Anika bersama Dewa itu, begitu imut dan mengemaskan.


Sengaja Anika membawa Vio agar Kenan dan Anjani tersentuh setelah melihat Vio. Harapan satu-satunya Anika, ia ingin mempertahankan pernikahannya dengan Dewa, semata karena ada Vio yang masih sangat kecil.


"Duduk, Tan....." Anika menatap putrinya sebelum kemudian kembali menatap Anjani dan Kenan bergantian. "Bagaimana kabar om dan Tante?"


"Kami baik. Kamu bagaimana?"


"Tidak baik-baik saja".


Jawaban Anika sontak membuat Anjani dan Kenan saling pandang. Kenan tersenyum simpul. Ia begitu paham apa yang tengah Anika rasakan saat ini.


"Tante minta maaf", ucapan Anjani yang secara tiba-tiba, membuat Anika tersenyum. Wanita dihadapan Anika ini, tak pernah berubah. Anja selalu meminta maaf pada seseorang meski kesalahan tidak ia lakukan.

__ADS_1


"Nggak perlu, Tan. Semua udah terjadi. Hanya saja, saat ini Nika perlu menenangkan pikiran dan mengevaluasi semua yang menimpa pernikahan Nika dan papanya Vio."


"Nika....." Dewa hampir saja mengatakan sesuatu ketika ia di tatap sedemikian tajam oleh Anika.


"Nika tak ingin ambil pusiang, Tante. Nika juga nggak akan menyalahkan kak Vanya, papanya Vio, atau siapapun. Hanya saja, coba tempatkan posisi Nika pada kak Vanya, sebentar saja. Bagaimana rasanya ketika suami yang di cintai, rupanya menaruh hati pada mantan kekasihnya hingga kini?"


"Itulah sebabnya kami datang kemari, Nika. Om ingin meluruskan semuanya." Kenan dengan bijak berusaha meredam aura yang tampaknya mulai akan memanas. Ia tak mau kedatangannya kemari justru memancing keributan yang tak perlu.


"Saya minta maaf sebelumnya, om dan Tante. Saya minta maaf atas ketidak nyamanan yang saya ciptakan. akan tetapi sungguh, saya tidak berniat menyakiti siapapun".


Dewa berkata dengan tenang. Raut wajahnya datar dan tidak menampakkan riak emosi apapun.


"Sekarang jawab, mas. Siang tadi kamu bilang kamu masih sangat mencintai kak Vanya dibanding aku. Kalau seandainya kamu harus memilih, siapa yang akan kamu pilih?" Kalimat Anika, mendapat lemparan tatapan tajam dari Dewa. Tetapi sudahlah, Anika hanya ingin tau, seberharga apa dirinya dan Vio Dimata Dewa.


Di hadapan Kenan maupun Anjani, Dewa tertegun dan tak bisa menjawab pertanyaan Nika. Cinta dihati Dewa hanya untuk Vanya hingga saat ini, Dewa tak akan memungkiri itu. Hanya saja kesalahan terbesarnya ialah, ia terlalu gegabah mengambil keputusan.


"Diantara aku dan kak Vanya, tawa siapa yang paling berharga Dimata kamu?" Anika bukan wanita bodoh yang akan mempertahankan pernikahan yang sakit ini. Alih-alih mempertahankan Dewa, Anika lebih tertarik melepaskan demi batinnya dan Vio di masa depan. Terlebih Vanya adalah saudari Nika. Nika tak Sudi sedikitpun berebut lelaki dengan saudarinya.


"Apa yang kamu katakan, Nika?" Dewa geram sendiri mendengar kalimat lanjutan Nika yang seolah memojokkannya. Alih-alih menjawab, Dewa justru memilih bungkam dan mengalihkan pembicaraan. Ia tak mau bila harus jujur dan menyakiti Anika. Tetapi di sudut hatinya yang lain, Dewa sangat mencintai Vanya.


"Maaf, Tante dan om Ken datang kemari untuk meminta maaf pada kamu, Nika. Akan tetapi sepertinya kami datang di saat yang tak tepat. Om dan Tante pamit dulu. Sebaiknya, selesaikan masalah kalian. Dan kamu, dewa," Kenan ganti menatap dewa, "Tolong tinggalkan dan lupakan Vanya yang sudah susah payah menjauh dari kehidupan kamu. Vanya gadis yang baik dan tidak mau terlibat apapun lagi dengan rumah tangga kalian. Bahkan dia rela menjauh agar tidak lagi bertemu dengan kamu, hanya demi sebuah keinginan agar kalian bahagia".

__ADS_1


Kenan pamit pergi. Ia rasa tak akan ada gunanya berbicara dengan Nika yang saat ini masih di gulung emosi. Akan ada pertemuan-pertemuan berikutnya yang bisa Ken pergunakan untuk mendapatkan maaf Anika untuk putrinya.


**


__ADS_2