
Satu tahun kemudian........
Mentari bersinar terang pagi ini.
Anjani tengah menatap layar ponselnya dengan serius. Ia tengah mempelajari buku management bisnis sesuai arahan Kenan.
Dulu, Ken juga sudah di ajari tentang pelajaran bisnis oleh papanya, Fandy. Kali ini, Ken berencana ingin memberi pengetahuan serupa pada sang istri.
Bukan tanpa alasan.
Anjani ingin belajar tentang bisnis. Dirinya ingin memiliki usaha kecil berupa butik kecil pakaian muslimah yang ia kelola sendiri. Itulah mengapa kenan mendukung keinginan istrinya itu.
Saat ini, Anjani sudah benar-benar hijrah. Setiap harinya, ia selalu mengenakan Khimar baik di dalam maupun di dalam rumah. Terkecuali dikamar, Ken suka istrinya berpakaian daster ala ibu-ibu komplek.
Entahlah, kenan memang aneh.
Di saat di luaran sana banyak para suami yang suka istrinya berpakaian modis dan cantik, Ken malah suka istrinya hanya mengenakan daster dengan rambut di gulung ke atas.
Vanya saat ini telah berusia tujuh belas bulan. Putri sulung Kenan ini sangat lah aktif. Dia di juluki si pengacau kecil oleh tantenya, Kania.
"Nja, Hari ini aku ada pertemuan sama temen kuliahku dulu. Namanya Faruq. Dia sedang menjalani bisnis di bidang fashion muslimah. Rencananya mau mengajukan kerjasama sih. Kamu nanti bisa belajar banyak sama dia".
Ucap Ken tiba-tiba, dia tengah berjalan pelan dari kamar mandi menuju meja rias, hanya mengenakan handuk dari pinggang sebatas lutut.
Rambutnya yang basah membuatnya nampak mempesona setiap saat. Sejenak, Anja berpikir betapa beruntungnya dia.
"Kenapa harus laki-laki sih, mas?", Tanya Anjani manja.
Bukan apa-apa, Anjani hanya malas bila dia harus berurusan dengan laki-laki.
Suaminya hanya tersenyum simpul menanggapi.
"Yang penting professional, kan? Jangan khawatir, dia nggak lebih ganteng dari aku kok", Ucap Kenan dengan percaya diri.
Anjani tersenyum mengejek ke arah Kenan.
"ganteng sih iya. Tapi jangan lupa....
__ADS_1
Di balik suami yang tampan, selalu ada istri yang andil merawat nya". Jawab Anjani berbangga diri.
Sontak, Mereka berdua tertawa terbahak-bahak di kamar.
Pintu di ketuk dari luar. Suara Nawal melengking memanggil menantunya, Anjani. Kenan pun segera bergegas berganti pakaian setelah mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Nja.... Bukain pintunya, sayang. Aduh mama mau minta tolong". Kata Nawal seraya menggendong Vanya. Dalam gendongan pun, Vanya enggan diam. Dia selalu meronta ingin turun dan tidak sabar untuk menghancurkan seisi rumah.
"Iya ma, bentar".
Setelah pintu terbuka, Nawal segera menyerahkan cucunya pada Anja. Nafasnya naik turun dan rambutnya yang di sanggul, kelihatan sedikit berantakan.
"Ma.... mama kenapa? Kok......??". Anjani bertanya dengan wajah bingung. Pasalnya, ibu mertuanya ini, selalu nampak berpakaian rapi dan selalu ingin terlihat sempurna.
"Mama ampun deh nja. Zhivanya nakal banget, nja. Kamu tau nggak? Dia buka seisi lemari bawah dan berantakin semua baju mama dan papa. Semua di keluarin. Pas mama gendong dan bawa keluar, dia malah ngacak-ngacak rambut mama."
Suara Nawal nampak memelas.
Kenan yang mendengar mamanya pun terbahak dari dalam kamar.
"Sukurin. Belum lagi bentaran Kania lahiran. Pasti tuh calon cucu mama kalau nurun dari Kania, nakalnya di jamin level tinggi. Sukur-sukur kalau kayak Niko, banyak diamnya". Ucap Kenan di sela-sela tawanya.
Nawal pun menggerutu seraya berlalu dari kamar putrinya.
Saat ini, Kania memang tengah hamil delapan bulan. Namun, siapa sangka bahwa sifat dan sikap kekanak-kanakannya sama sekali tak luntur.
Kabar baiknya adalah, Niko berhasil merubah istrinya menjadi pribadi yang rapi serta mandiri. Segala sesuatu yang dulu tak mampu Kania lakukan, sekarang Kania lakukan demi kepatuhannya pada suami.
.................
Di sebuah rumah kontrak yang cukup besar, Kania tengah berkutat dengan alat-alat dapurnya pagi itu. Semenjak hamil, ada saja yang ia buat di dapur.
Memasak kue kering adalah hobby nya. Bahkan Niko sekarang tubuhnya lebih berisi karna seringnya memakan kue manis-manis di malam hari. Beruntungnya, Niko tetap menyempatkan diri untuk sering-sering berolah raga, Jadi tubuhnya semakin kekar berotot.
Hari ini, ayah dan bunda Niko akan datang untuk membantu Niko beberes rumah untuk kepindahan mereka. Beberapa hari yang lalu, Niko mengabari ayah bunda nya bahwa ia telah menemukan rumah yang cocok dan membelinya. Jaraknya pun tak jauh dari rumah Fandy.
Meski tak sebesar rumah kediaman Kania dulu, namun Niko bersyukur, ia bisa membeli rumah dari hasil kerja kerasnya sendiri.
__ADS_1
"Sayang, jangan terlalu capek ah. Biarin aja kalau capek jangan di terusin. Bentar lagi bunda datang. Aku nggak mau ya kena semprot Omelan bunda sepanjang hari cuma gara-gara aku ngebiarin kamu gerak terus Sampek kecapekan", ucap Niko yang baru tiba dari kamar.
Niko pun segera mendaratkan bokongnya di kursi meja makan seraya mengancingkan kancing lengannya.
Sepulang mereka bulan madu dari Bali setahun yang lalu, Fandy memberikan salah satu resto cabangnya pada menantunya itu. Fandy percaya Niko pasti mampu menjalankannya. Hingga resto itu, telah berbalik nama atas nama Niko.
Terbukti.....
Dalam waktu setahun, Niko berhasil membuat resto itu berkembang pesat. Bahkan, tanah kosong di samping resto itu, terbeli oleh Niko dan di gunakan untuk melebarkan restonya.
Niko cukup sukses diusia mudanya, di bantu dengan bimbingan sang ayah mertua, Niko mampu menjalankan resto Fandy dengan baik.
"Kalau bunda ngomel, biar aku yang bilang bunda kamu nggak salah", ucap Kania dengan senyum lebar di wajahnya.
Niko Bahagia...
Kania perlahan berubah lebih mandiri dan mampu mengimbangi gaya hidup Niko yang sederhana. Meski dulunya Kania suka nge mall, Sekarang, Kania lebih suka menghabiskan waktunya di rumah.
Bahkan kuliah pun, Niko lebih memilihkan istrinya untuk home schooling sistem belajarnya. Bukan tanpa alasan, itu karena usia kehamilan istrinya sudah menginjak angka ke delapan.
Pintu di ketuk, suara salam bunda terdengar.
"Assalamualaikum, nak?".
"Wa Alaikum salam, bunda.". Kania dan Niko segera menghampiri bundanya yang baru tiba dan menyalami bergantian dengan ayahnya. Senyum lebar tak pernah luntur dari sudut bibir kedua paruh baya itu.
"Gimana kabar mantu bunda? Kandungannya sehat, kan?", Tanya bunda lembut. Kania balas dengan senyum dan anggukan kepala.
"Syukurlah," ucap ayah seraya mengikuti Niko dan Kania masuk ke dalamnya rumah.
"Nak, Kamu kok pucat? Apa karna nggak pakai make up? Atau kamu kelelahan?", Tanya bunda khawatir.
Sontak semua mata tertuju pada Kania yang tersenyum jahil ke arah Niko.
"Gimana nggak pucat karna kelelahan, bunda? Habisnya di gmpur siang malam sih sama mas Niko", Jawab Kania ringan.
Niko, ayah dan bunda terpaku mendengar pernyataan manantunya ini.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹