PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 18


__ADS_3

"Saat ini, dia tengah terguncang atas kabar tentang meninggalnya ibunya. Sungguh, dia sebenarnya, meski terlihat kuat, nyatanya ia tak sekuat yang orang bayangkan. Anjani butuh sosok keluarga yang menyayanginya saat ini, mbak yu. Aku takut, nanti terjadi sesuatu dengan dia dan kandungannya. Keadaannya mendadak drop dari semalam. jadi bagaimana ini mbak yu?".


......~part sebelumnya~......


"A... aa.. Anjani?", Nafas Ken tercekat. Semua mata tertuju pada Kenan yang tidak mampu mengendalikan dirinya lagi. Ia ingin segera melihat kabar Anjani. "Anjani di mana, Tante?". Mata Kenan sudah nampak berkaca-kaca. Nadanya melemah seiring nafasnya yang tengah memburu.


"Anjani Ndak mau menginap disini. Empat bulan yang lalu, Tante menemukan Anjani di pos kamling di pertigaan jalan mau kesini. Waktu itu, Perut nya sudah nampak buncit. waktu tak tanya, dia nya bilang Ndak tau harus kemana. Pas tak tawari kamar di pesantren, Anjani sempat menolak dan bilang, takut lingkungan di sini Ndak mau menerimanya. Apalagi keadaannya yang begitu..... Hamil tanpa suami?".


Kenan sekuat tenaga menahan air matanya agar tak terlihat cengeng. Meski hatinya menyimpan banyak penderitaan selama Anjani pergi, nyatanya Kenan masih mampu menguasai diri dan mampu mengontrol emosinya.


"Lalu, Apa yang terjadi, Diajeng?", Nawal bertanya dengan suara bergetar. Fandy yang duduk tepat sang istri, meraih dan membawa tubuh ringkih Nawal ke dalam pelukannya. Di saat-saat seperti ini, Fandy lah orang yang paling di butuhkan Nawal.


"Dengan setengah memaksa, akhirnya Anjani mau ikut ke pesantren meski sedikit terpaksa. Dan Alhamdulillah, mas Arsyad juga menerimanya dengan baik. Saat itu, wajah Anjani nampak pucat. Setelah tiba di sini, Aku mengajaknya makan ke dapur. Meski awalnya menolak, tapi akhirnya, dia mau makan dengan lahap seperti Ndak makan beberapa hari. Penampilannya sangat lusuh. Aku bener-bener Ndak te.....".


"Cukup Tante. Sekarang, dimana Anjani?" Kenan terlihat tidak sabar lagi. Ia terpaksa menyela kalimat seseorang yang lebih tua darinya. Biarlah Ken di hujat karna tidak sopan, Kenan hanya enggan mendengar keadaan Anjani yang sangat menyedihkan karna ulahnya.


"Dia tinggal di kamar kosong dekat kantin, karna yang biasa mengisi kantin waktu itu orangnya pindah ke Magelang. Jadi, dari pada Ndak ada yang menempati, Anjani lebih baik disana. Anjani juga tiap hari membuat kue untuk di jual di kantin para santri. Kalau pagi, dia berjualan ayam potong di pertigaan depan jalan menuju pasar".


Deggg.....


Kenan merasa terpukul luar biasa. Jadi, selama ini, Anjani hidup serba kekurangan dan bekerja keras demi sesuap nasi? Sedang Kenan sama sekali tidak kekurangan apa pun?


"Ayo, Tante antar".


Tanpa kata, mereka segera menuju ke kamar Anjani. Kamar yang tidak terlalu besar, Namun tampak bersih dan rapi. Sesampainya di dekat pintu, Kenan enggan masuk. Dirinya terlampau malu untuk bertemu Anjani.


Ken terpaku di ujung pintu. Bukan hanya Kenan, bahkan Nawal dan Fandy pun merasa ragu. Jika nanti mereka bertemu dan bertatap wajah, Apa yang akan mereka katakan pada Anjani?

__ADS_1


"Ayo Ken, Masuklah. Kalau kamu Ndak berani menemui Anjani, bagaimana kamu bisa berdamai dan menebus dosa-dosa kamu sama dia?", suara Galuh mengalun lirih di telinga Kenan .


Ken meraup oksigen sebanyak-banyaknya, kemudian menghembuskannya perlahan. Ia berusaha menguatkan hatinya untuk bisa menemui Anjani. Wanita yang dengan tulus mencintainya.


"Assalamualaikum..." Galuh memasuki kamar Anjani yang sedikit terbuka. Anjani mendongak dan masih mengenakan mukena di tubuhnya. Meski tubuh Anjani lemah, tapi Anjani memaksakan diri untuk sholat dan berdoa untuk mendiang ibunya, meski dengan rebahan di ranjang.


"Wa'alaikum salam....". Anjani terkejut bukan main saat di belakang Galuh, muncul tiga orang yang sangat tidak ingin ia temui. Masa lalu yang memberinya banyak luka yang sampai saat ini pun masih belum mengering.


Anjani terpaku. Ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata apapun lagi. Tiba-tiba rasa takut menyelimuti hatinya. Dengan wajah memerah menahan takut, Anjani memeluk perutnya yang membuncit.


"Tu tu... tuaaan... Nyo..nyonya... Jangan... jangan bunuh bayi saya... ja.... jaangan sakiti bayi Anja....tolong ja....",


"Anjani, Saya tidak akan berbuat jahat apalagi menyakitimu. Saya sekeluarga minta maaf atas kecerobohan saya waktu itu. Berhentilah menangis. Bagaiman pun, Bayi kamu adalah cucuku juga", Fandy mendekat dan mengusap-usap pelan perut buncit Anjani.


"Nja, Kamu tenang ya... Saya nggak akan mungkin menyakitimu dan bayimu. Bagaimana pun, bayimu adalah cucu kami. Saya minta maaf. Tolong jangan berfikiran buruk dulu, ya". Nawal mendekat dan menghampiri Anjani.


Mata Nawal beralih menatap Fandy yang menunduk, Nawal tau, putranya kini tengah menahan air matanya agar tak tumpah begitu saja.


"Ken... Selama ini, Kamu nyari Anjani kan? Lihat, Sekarang Anjani ada di depan kita.....", Nawal beranjak dari duduknya dan menyuruh Kenan untuk bicara dengan Anjani, "Sekarang, Ini kesempatan kamu untuk ngomong sama Anjani".


"Mah, pah, Tante..... Ken mau bicara berdua dengan Anjani". semua orang berlalu meninggalkan kamar.


Anjani membuang pandangannya ke arah lain. Ia berusaha menahan diri agar tidak menatap mata Kenan. Se-benci apapun Anjani, jika sampai ia menatap Kenan, pertahanannya bisa di pastikan akan runtuh tanpa sisa.


Sudah berapa banyak hari yang ia lalui tanpa Kenan?


Sudah berapa banyak menit Anjani lalui dengan menahan rindu yang hanya untuk Kenan?

__ADS_1


Sudah berapa banyak malam-malam Anjani lalui dengan hati yang sudah terlampau hancur?


"Nja... Maaf", Suara Kenan bergetar. Anjani masih enggan untuk menjawab.


"Aku sadar aku salah. Sejak kamu pergi, Sejak saat itu lah aku hancur. Aku mencarimu kemana-mana, Tapi nihil. Nggak satupun petunjuk untuk aku menemukanmu", Anjani masih di am. Enggan membalas kalimat Kenan.


"Aku... Aku butuh kamu, nja!".


Secepat kilat, Anjani menoleh dan menyahut ucapan Kenan untuk pertama kali dalam pertumbuhannya kali ini.


"Untuk? Untuk memuaskan nafsu kamu maksudnya? Pergi lah, mas. Aku nggak mau ketemu sama kamu lagi. Tolong jangan ganggu aku dan anakku. Aku sudah bahagia sekarang. Andai ini semua nggak terjadi, Aku nggak akan mungkin kehilangan ibuku secepat ini.". Kemudian, Anjani kembali membuang pandangannya ke samping.


"Kamu boleh marah sama aku, Nja.... Kamu berhak marah. Tapi tolong, maaf kan aku. Beri aku kesempatan sekali saja", Tangan Ken mencoba meraih tangan Anjani, Namun, Anjani segera menepis tangan Kenan.


Sakit hati yang selama ini ia pendam, tidak mudah untuk sembuh begitu saja. Meski Anjani masih sangat lah mencintai Kenan.


"Pergi lah, mas. Aku nggak mau melihat kamu lagi. Biarkan Aku bahagia"..


"Tolong, nja. Tolong jangan lakukan itu", Suara Ken lirih dan tubuhnya melemas karna penolakan Anjani.


🌹🌹🌹🌹🌹


Hai kakak-kakak readers yang masihsetia mantengin cerita ini, Sekedar pemberi Tahuan ya.....


Episode 11 udah berhasil up ya... yang penasaran, boleh tuh di download lagi...


Semoga suka dan jangan lupa mohon dukungannya.....🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2