PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 69


__ADS_3

"Mas nik sekarang mengejar Winda dan mencari informasi tentang aktifitas Winda.


Tadi, di toilet Kania dengar Winda bicara yang agak mencurigakan.


Jadi, Kania sengaja bilang ini ke papa aja biar kak Anja dan mama nggak shock lagi.


Kania minta, papa harus bantu mas Niko memecahkan permasalahan ini".


~part sebelumnya~


Hening.


Fandy tercengang akan pernyataan putrinya.


Fandy kira selama ini, Mila dan putrinya benar-benar pergi menjauh. Nyatanya, mereka masih membayangi keluarganya, bahkan dengan berani melukai anak-anak Fandy.


Fandy menunduk, memikirkan dan mencari jalan keluar dari masalah ini. Ini tidak sesederhana yang keluarganya pikirkan.


Bila seandainya memang benar bahwa Winda lah yang telah menyabotase mobil Niko, bukankah itu artinya, Niko lah yang sebenarnya menjadi target Winda. Lantas, bila Niko yang celaka, akan seperti apa nasib putri dan calon cucu Fandy?


Fandy mendesah dan memikirkan banyak hal.


Ini hanya seandainya, belum tentu benar Winda lah dalangnya. Sebelum ada bukti nyata, Fandy tak ingin gegabah.


"Pa....?" Sebenarnya, waktu itu bukannya udah jelas ya kalau si Winda itu ngincer mas Niko? Pastilah targetnya mas Niko, Hanya saja mas Kenan lah yang tanpa sengaja kena imbasnya.


Gimana menurut papa?".


"Papa akan ke resto Niko untuk mengecek beberapa hal di sana. Papa nggak bisa menuduh orang tanpa bukti konkrit. Kamu tetep di sini. Kalau ada apa-apa hubungi papa."


"Iya deh. Papa hati-hati".


Mereka pergi dan berpisah di kantin. Kania menyusul mamanya, ingin tau keadaan kakaknya yang tak sadarkan diri.


..........


"Loh, Kania? Papa mana?" tanya Nawal yang tak mendapati suaminya kembali.

__ADS_1


"Papa langsung berangkat ke kantor ma. ada urusan mendadak katanya. Ma... Dokter apa udah keluar?", Tanya Kania dengan wajah nampak cemas.


"Sudah. Mas mu nggak apa-apa. Dokter bilang hanya trauma karna benturan yang mendadak. Katanya nggak ada luka yang cukup serius. Hanya luka ringan aja. Bentar lagi juga di pindah ke ruang rawat inap. Ini mama masih nunggu mas mu belum keluar".


Jawab Nawal dengan menenangkan putrinya. D sampingnya, nampak Anjani yang mengulas senyum tipis ke arah Kania, meski tak di pungkiri bahwa dia masih merasa cemas akan keadaan suaminya.


"Oh Alhamdulillah ma kalau gitu", kemudian tatapan Kania menyisir pada kakak iparnya.


"Kak Anja nggak pulang? Kasian Vanya kak. Lagian mungkin juga Vanya butuh asi. Kakak pulang aja gih biar Kania yang nemenin mama sama kak Anja.


Biar aku telponin mang Ujang suruh jemput kak Anja.".


Anjani menggeleng.


"Aku mau disini aja. Aku mau nunggu mas Ken" ucap Anjani menolak.


"Kak. Jangan egois deh. Mas Ken pasti baik-baik aja. Kan dokter tadi udah bilang nggak ada luka serius. Apa kak Anja cuma mikirin mas Ken dan nggak mikirin Vanya yang juga masih kecil dan butuh kasih sayang juga perhatian kalian?". Anjani nampak berpikir.


"Udah.... Nggak ada tapi-tapian deh. Pokoknya aku minta sopir jemput kak Anja". Ucap Kania tak terbantahkan.


"Apa yang di bilang Kania itu bener, nja. Kamu urus dulu putrimu. Sekalian kamu pulang bawa keperluan suamimu dan kamu.".


Apa yang di katakan ibu mertua dan adik iparnya memang benar. Ia tak boleh egois. Bagaimana pun, Vanya juga membutuhkannya.


"Iya, ma. Anja mau pulang".


Pada akhirnya, Nawal dan kania pun bisa bernafas lega.


"Kamu nggak istirahat juga, Kania? Apa Niko langsung pulang?", Tanya Nawal yang mendadak cemas memikirkan menantunya.


Bagaimana tak cemas? Kenan tengah terbaring tak sadarkan diri, Nawal takut terjadi apa-apa pula pada menantunya, mengingat saat ini Kania hampir melahirkan.


"Mas Niko langsung ke kantor sama papa ma kebetulan tadi ketemu papa di lorong menuju kantin.


Mama jangan khawatir. Nanti kalau Kania lelah Kania pulang. Lagian Kania udah janji sama mas Niko mau nunggu mas Niko jemput".


Nawal mengangguk paham menanggapi pernyataan putri nya.

__ADS_1


..............


Anjani tengah berada di ruang rawat suaminya. Hari sudah berganti malam. Satu jam lalu, Nawal berpamitan untuk pulang untuk mengurus Vanya.


Bagiku juga dengan Niko yang menjemput Kania sore tadi.


Kini, tinggallah Anjani seorang diri menunggui suaminya.


Anja menatap lekat suaminya. Meski air matanya tak berlinang, namun hatinya begitu sedih mendapati suami nya yang gagah itu, kini terbaring tak berdaya.


Selang infus dan beberapa peralatan medis lainnya, menancap di tubuh Kenan. Sejujurnya, Anjani sudah mendapat firasat tak baik. Ternyata, ini lah arti dari firasatnya itu.


"Mas.... Kapan kamu sadar? Kamu nggak kangen sama aku? Kamu nggak kangen sama Vanya?", Tanya Anjani lirih.


Meski Kenan mungkin tak mendengarnya atau pun merespon ucapannya, namun Anja yakin bahwa Kenan pasti merasakan kehadirannya.


Anja raih telapak tangan Kenan yang tak tertancap infus, ia genggam perlahan dan mengusap pipi Kenan lembut penuh kasih sayang.


Kulit putih Kenan masih selembut dulu, sehalus dan semulus dulu. Pria yang sangat ia cintai sejak dulu, meski proses kebersamaan mereka tidak lah mudah.


"Mas, aku sayang kamu...."


Ungkap Anjani. Perlahan, air mata nya luruh lagi membasahi pipinya.


Klek


Pintu ruangan terbuka. Niko memasuki ruangan dengan langkah tergesa.


"Loh,, sendirian? Kania mana?" tanya Anjani seraya bangkit dari duduknya.


"Di rumah mba.... udah pamit kok tadi.


Ini, ada hal penting yang perlu aku sampaikan ke mba Anja. Ini perihal Tante Mila dan Winda.". Anjani mengernyitkan keningnya.


"Bukannya mereka udah pergi?" tanya Anjani heran. Pasalnya sudah sekitar sebulan ini Mila dan Winda menghilang tanpa kabar.


"Iya, Dan coba tebak, apa yang mereka lakukan? Winda udah menyabotase mobilku yang dikendarai mas Ken sewaktu mengalami kecelakaan. Aku tanya.... Mbak Anja bersedia kan melaporkan Winda ke polisi? Kalau nggak gitu, Winda nggak akan kapok dan Tante Mila nggak akan tau selamanya bahwa putrinya udah nekat berbuat demikian."

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2