PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 57


__ADS_3

"Benarkah itu, Seyna?", Tanya Roby geram. Matanya penuh dengan kilat kemarahan terpendam.


Sekuat tenaga Seyna mengumpulkan keberaniannya.


"Be... be-benar, pa".


~Part sebelumnya~


Plakk....


Robby tidak bisa menahan dirinya saat itu.


Semua orang menatap keluarga yang di Landa kehebohan itu. Irma syok. Ia hampir saja meluruh ke lantai kalau saja Nawal tidak sigap menolong nya.


"Anak tak tau diri. Tidak tau di untung. Kau.... Mengapa harus mengaku orang lain yang melakukannya padamu, sey? Kurang apa papa dalam mendidik kamu? Kamu sudah melempar kotoran ke wajah papa dan mama!!" Ucap Roby penuh emosi.


"Ma maaf pah" jawab Seyna gemetar. Ia sangat ketakutan. Bahkan tubuhnya sudah sangat gemetar saat ini.


"Stop om. Jangan sakiti perempuan, apalagi Seyna anak om. Kasihan dia, om Seyna sedang hamil".


Kali ini Ardi bersuara. Sebejad dan seburuk apapun Ardi, ia tetap tak akan tega melihat wanita di sakiti fisiknya.


"Kamu juga sialan. Berani-beraninya kamu.....


Aaarrrggg....."


Robby frustasi.


"Ayo, ku nikahkan kalian setelah itu enyahlah dari hadapanku".


...................


Pernikahan Seyna berlangsung lancar. Acara pun tidak berlangsung lama karna Robby mendadak masuk ke dalam rumah dan tak keluar lagi setelah ijab Qabul selesai.


Kini, Seyna resmi menjadi istri Ardi.


Seyna lebih banyak diam dan tak berani mengeluarkan kata apapun. Terlebih saat menatap Kenan yang berbahagia dan saling menyuapkan makanan satu sama lain, Seyna memandang Kenan dengan tatapan nyalang.


Hancur.....


Hancur sudah impiannya untuk dapat hidup dengan Kenan meski hanya sebentar saja.


"Kamu menyesal, sey". Tanya Ardi tiba-tiba. Seyna hanya mengalihkan tatapannya pada Ardi sekilas kemudian menunduk. Tak keluar satu katapun yang keluar dari bibir Seyna. Seyna sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan konyol Ardi saat ini.


Ardi hanya tersenyum tipis menanggapi tingkah Seyna yang mendadak menjadi pendiam.


Tak jauh dari mereka, Kania nampak bahagia dan tengah menikmati makanan yang di sediakan. Dengan Niko yang di sampingnya, Kania di penuhi rasa suka cita menyuapi sang suami.


"Udah stop Kania, Malu di lihatin orang", Ujar Niko pelan. Kania benar-benar memperlakukan Niko seperti anak kecil. Memalukan!!


"Biarin aja lah, mas. Pengantin baru emang lagi hot-hot nya.....", Jawab Kania ringan. Sungguh, Niko benar-benar malu di buatnya.


"Iya,, tapi kan nggak gini juga, Kania".

__ADS_1


"Kalau nggak kayak gini, terus gimana? Apa kayak semalem di ulang lagi? Pahaku masih sakit", Ucap Kania seraya terkekeh pelan.


blushh.....


Wajah Niko memerah malu. Bagaimana mungkin Kania membahas malam pertama tadi malam?


Niko bingung harus bersikap bagaimana.


"Iya. Nanti nyampe rumah, habis kamu", Jawab Niko sekenanya. Ia tak tau lagi harus berkata apa lagi.


"Idiiih..... yang lagi doyan-doyannya...."


Sambung Kania dengan tidak tau malunya.


"Adek ipar, mending Lo pulang aja, deh. Dari pada Lo pusing Gegara nahan entar makin pening.", seloroh Kenan yang tiba-tiba muncul di samping Niko.


Jangan di tanya lagi seperti apa wajah Niko. Sudah pasti rasa malunya naik hingga ke ubun-ubun. Kania ini memang ceplas ceplos tanpa filter. Malang lah nasib mu kedepan Niko......


Di waktu yang bersamaan, Anjani datang dengan menggendong Vanya.


"Ta ta ta tatttaaaaa" Vanya berceloteh riang. Sepertinya, anak itu terlalu aktif dan cerdas.


"Uuu anak papa mau gendong ya...", Kata kenan gemas dengan mengambil alih Vanya dari gendongan istrinya.


"Mas... udah? Pulang yuk", Ajak Anjani kemudian.


"Bentar mama.... nunggu opa sama Oma", Jawab Kenan dengan menirukan suara anak kecil seraya melambaikan tangan Vanya ke arah istrinya.


"Mas Niko.... kerja lebih keras lagi ya..... Biar bisa bikin yang lebih gemesin dari Vanya....


Inget...


Target kita punya anak 9 loh"


Ucap Kania tanpa beban. Anjani dan Kenan pun melongo karenanya.


"Gila.... Planning Lo punya anak 9 adik ipar?", Tanya Kenan pada Niko yang sudah salah tingkah.


"Ii itu....itu anu... emmm" Jawab Niko gugup.


"Udah lah, mas. Jangan suka godain mas nik sama Kania ih", tegur Anjani.


Di saat yang bersamaan, Fandy dan Nawal datang seraya celingukan.


"Ma, pa, nyari apa sih kok kayak kebingungan gitu?" Tanya Anjani.


"Nyari om Roby sama istrinya. Niatnya mau pulang ini tapi tuan rumahnya nggak ada. Mesti pamit ke siapa dong?" jawab Nawal.


"Mungkin om Roby sama Tante Irma masih terpukul atas kejadian ini, ma. Kita pamit sama Seyna dan suaminya aja ya", Ajak Kenan.


"Iya deh, ayo". Jawab Fandy.


...............

__ADS_1


Sepulang dari kediaman Roby, kini fandy dan anak-anaknya sudah tiba di rumah. Kania tengah berkemas barang keperluannya untuk berangkat ke Bali. Sungguh.... Hati Kania begitu bahagia dan menantikan momen ini. Berdua saja selama tiga hari bersama suami di Bali.


Sedang di luar, Fandy tengah berbincang dengan Niko dan istrinya. Kenan dan Anjani sudah masuk lebih dulu ke kamar dengan membawa serta Vanya. Hari ini, ken tidak berangkat ke distro. Distro ia percayakan pada Sasa untuk membukanya. Rencananya, Ken akan mengontrol distro sore nanti setelah mengantar adiknya ke pelabuhan penyebrangan.


"Niko... papa titip Kania ya. Sebisa mungkin kamu harus sabar menghadapi tingkah konyolnya. Meski begitu, Kania gadis yang baik", Ucap Fandy mengawali pembicaraan.


"Iya, pa. Tenang aja. Sudah jadi tanggung jawab Niko untuk menjaga istri Niko. Niko tau Kania orang baik", Jawab Niko dengan mengulas senyum tipisnya.


"Inget pesan papa, temui papa setelah kalian pulang dari Bali. Ada yang mau papa bicarakan sama kamu".


"Iya, pa."


"Oh ya, ayah sama bunda kamu kapan pulang ke kampung halaman?", Tanya Nawal tiba-tiba yang datang dengan membawa nampan yang berisikan dia cangkir teh hangat.


"Mungkin seminggu mereka di rumah Niko, ma. Katanya nunggu Niko sepulang dari Bali.", Jawab Niko.


"Kalau sekiranya sepi di sana suruh main kesini, ko. Mama seneng kalau bisa lebih dekat dengan bunda kamu. Beliau ramah dan pembawaannya mudah bergaul. Mama suka".


"Nanti Niko sampein mah".


Baru selesai Niko bicara, Kania sudah tiba dengan senyum yang seperti biasa selalu mengembang di bibirnya


"Mas, udah aku packing semua. Mau di masukin ke mobil sekarang apa nanti?".


"Sebentar dulu. Habis ini aja biar aku yang angkut ke mobil."


"Oh ya.... aku udah pesen jamu. Bentar lagi nyampe.".


"Jamu?", tanya Niko seraya mengernyitkan kedua alisnya. "Jamu apa?".


"Mas Niko lupa apa pura-pura lupa? Katanya mau punya anak 9?", sahut Kania malu-malu.


glegh....


Niko menelan ludah nya dengan susah payah.


Sedang Fandy dan Nawal melotot sempurna ke arah sang putri.


'Sesampainya di plabuhan nanti, kayaknya aku perlu menenggelamkan diriku ke laut deh. Ampun deh aku ya Rabbi punya istri kayak Kania yang nggak punya filter sama sekali bibir manisnya itu'


Batin Niko merasa gusar.


"Kalian sudah punya planning buat anak 9?". Tanya Nawal tak percaya.


"Iya lah, ma. Nggak kayak mama mampunya punya anak dua doang. Papa kurang jamunya, kali?".


"Kania....", ucap Fandy lembut menengahi perdebatan antara putri dan istrinya sebelum mereka melantur dan bertengkar lagi.


"Maaf pah".


Sumpah.... Niko tak tau lagi bagaimana cara mengendalikan ke bar bar an istri labilnya ini. Pening kembali melanda Niko.


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2