
"Temui Ardi dan paksa dia nikahi Seyna. Gue nggak mau ya gue yang nikahi Seyna. Gue nggak mau tau gimana cara kalian, Yang penting calon suami Seyna itu Ardi, bukan gue. TITIK!", Ucap Kenan pada kedua sahabatnya, Rio dan Niko.
Malam ini, seusai makan malam di rumahnya, Ken dengan sengaja mengundang Rio dan Niko untuk mmbantu Ken mangatasi Seyna.
Saat makan malam tadi, Nawal dan Fandy sudah di beri tahu perihal rencana Ken untuk menjadikan Ardi sebagai pngganti Kenan. Biar bagaimanapun, Ardi lah yang menghamili Seyna, bukan Kenan.
Niat Seyna untuk mencelakai Anjani, nyatanya Seyna lah yang terjebak dalam rencana Seyna sendiri.
Sepulang dari rumah Ken tadi, Nawal bahkan melihat wajah Seyna yang berbinar bahagia. Nawal sudah merasakan ada yang janggal, itu pasti karna Seyna terlalu bahagia saat mendengar Kenan akan menikahinya seminggu lagi.
"Gue tau yang bakal gue lakuin", Rio berujar dengan santai. Sepertinya, Rio memang tidak lah menyukai adik dari calon wanita yang akan di jodohkannya.
"Gue pasti bantuin".
"Enggak!", Sahut kena dan Rio bersamaan.
"Loh, kenapa?", Tanya Niko penuh tanya. Tadi..... bukankah Ken yang memintanya.
"Adik ipar mending nyiapin diri buat hari H pernikahan nanti. Latihan ijab Qabul kek. Kalau gue pikir-pikir mendingan Lo nggak usah terlibat dulu masalah Seyna. Lo fokus aja pikirin gimana caranya bahagiain Aek gue", lanjut ken memberi petuah pada calon adik iparnya itu.
Niko tersipu malu mendengarnya.
"Ciye ciye..... calon manten ah..... Aku kok berasa jadi pengen juga", Sahut Rio menimpali.
"Makanya kawin. udah di kasih jodoh sama bokap juga", jawab Niko balik meledek Rio. Agar Niko terhindar dari godaan kedua sohibnya itu.
"Ken, Rio, Niko.... ayo minum dulu", Nawal datang dengan membawa nampan berisikan tiga gelas teh hangat.
"Makasih Tante, maaf ngerepoti", Ucap Niko sungkan. Kenan dan Rio saling pandang kemudian tertawa terbahak-bahak. Niko memandang Kenan dan Rio seketika merasa bingung. Apa yang mereka tertawa kan? batin Niko heran.
"Jangan Tante.... Calon mertua juga. Panggil mama gih....", Tukas Ken kemudian di sela-sela tawanya. Niko menunduk malu. Sumpah serapah dalam hatinya Niko lontarkan untuk Ken yang bicara seenaknya itu.
"Bener itu, Niko. Mulai sekarang.... biasakan panggil mama dan panggil om Fandy sama sebutan papa. Biar terbiasa nanti setelah menikah nggak kaku", lanjut Nawal.
Niko tersenyum canggung kemudian mengangguk paham, "Iya, tan..... ehhh iiya ma". Rio dan Niko terpingkal melihat reaksi Niko yang super canggung itu.
__ADS_1
Kania tiba-tiba muncul dari atas tangga. Dengan gaya anggunnya, dia menghampiri mamanya dan membisikkan sesuatu. Nawal hanya manggut-manggut saja. setelah beberapa saat, Nawal tersenyum ke arah putrinya.
"Boleh, tapi jangan larut malam pulangnya", Tukas Nawal kemudian berlalu dari sana. Ketiga pria yang duduk di sofa itu menatap bingung ke arah Kania.
"Ayo mas Niko berangkat sekarang", Kata Kania ke arah Niko.
"Mau kemana?" tanya Niko.
"Jas mu udah jadi, mas. Kita ambil jas dulu. Setelah itu kita nonton yuk. Aku udah minta ijin sama mama. Tenang aja, mama ngijinin kok". Jelas Kania.
"Eh bocah, Mau kawin janga sering keluarlah. Pamali", ucap Ken memperingati adiknya. Yang di peringati hanya tersenyum seraya mngannguk.
"Sebentar aja kok, mas. Nggak lama", Jawab Kania seraya berlalu dengan menarik tangan Niko pelan menuju pintu.
.....................
Dan di sinilah saat ini mereka berada. Niko dan kania tengah menikmati minum di sebuah cafe yang dekat dengan kampus Kania. Rencana sebelumnya untuk menonton akhirnya batal karna Kania memilih film bergenre romantis.
Tidak menutup kemungkinan akan ada adegan dewasa dan itu membuat Niko enggan. Akhirnya Niko mengajak Kania ke sebuah cafe. Meski telah makan malam, mereka lebih memilih memesan minuman saja.
"Apa, mas Niko sayang....".
"Heh?", Niko yang tadinya memanggil Kania kini terkejut sendiri karna mendengar panggilan Kania yang terdengar ekstrem di telinganya.
"Apa? Kangen? Atau mau cium?", Kania menghimbau Niko dengan kata-kata vulgar. Kini..... wajah Kania sendi memerah dan tersipu malu. Niko mendadak tak nyaman dengan kata-kata Kania yang terkesan merayunya. Biar bagaimana pun, Niko pria normal, bukan?
"Eng...enggak kok...." Jawab Niko yang mendadak gugup dan jantungnya berpacu lebih cepat.
"Terus? Mau apa? Sabar dulu ih sayang..... Sebentar lagi kita kan udah nikah.... perawan aku cuma buat mas Niko seorang....", Kata Kania ringan se ringan kapas.
Niko diam-diam merutuki sikap Kania yang kelewat bar bar. Bagaimana bisa Kania berpikiran bahwa nik meminta cium darinya? Niko tercengang karna kalimat itu muncul begitu saja dari bibir Kania yang loss tanpa filter.
"Kamu kok ngomong gitu sih?", Tanya Niko setengah gusar.
"Kenapa...? Uhh mas Niko malu ya.... itu tuh pipinya merah.... Hehehehe", Kania yang berhasil menggoda Niko, kini tergelak pelan. Perasaan bahagia ini begitu nyata, dan rasa cinta ini, begitu dalam untuk Niko.
__ADS_1
Biarpun Niko hanya seorang kaki tangan Kenan, tapi Kania sungguh tak membedakan kasta ataupun strata sosial diantara mereka. Bagi Kania, cinta Niko saja cukup. Pekerjaan apa pun itu, Niko pasti mampu membahagiakan Kania..
"Kamu apaan, sih?", kata Niko salah tingkah. "Aku cuma mau ngomong sesuatu aja, kok" Sambungnya lagi.
"Ngomong apa sih? ngomong aja".
Niko menghela nafasnya.
"Kania, setelah menikah nanti.... aku harap kamu jangan nyusahin mama dan papa lagi.... Kamu harus lebih dewasa dan memilah sikap yang sekiranya pantas dan nggak pantas saat berada di depan banyak orang. Setelah ini, kamu istriku dan segala yang menyangkut dengan mu, itu tanggung jawabku penuh".
"Karna hidup dengan ku itu pilihanmu, jadi aku mohon jangan mempermasalahkan hidup sederhana nanti dalam rumah tangga kita. Dari awal, kamu kan tau aku ini orang biasa", Lanjut Niko. Matanya menyiratkan ketulusan dan keseriusan. Kania tersenyum pada Niko.
"Aku paham, mas. Gak memandangku dari segi finansial. Kamu ganteng dan aku rasa saat punya anak nanti, pasti anak kita cakep", Jawab Kania dengan senyum lebar.
"Jadi, cuma karna ganteng?", Tanya Niko tercekat. Nafasnya tertahan karna mengatur emosi yang hampir meledak. Kania pun mengibas kan tangannya tanda tidak membenarkan.
"Bukan.... bukan cuma itu aja, mas. Aku sayang sama kamu itu tulus. Apa kah perlu sebuah alasan untuk kita hidup bersama? Alasan utamanya ya.... tentu aja aku sayang sama kamu".
Niko tersenyum lega.
"Mas, Setelah nikah nanti, kamu mau kita punya anak berapa?", Niko melotot ke arah Kania. Pernikahan saja belum di gelar, kini..... Kania sudah menanyakan tentang anak? yang benar saja?
"Sembilan" Jawab Niko asal.
"Waw....... amazing" Kania berbinar mendengarnya.
🌹🌹🌹🌹🌹
Kakak readers, jangan lupa baca juga karya ku yang lebih hot ya ceritanya.
Makasih buat yang udah dukung. Aku tanpamu bagai butiran debu😀
salam segalanya dari neng Tia❤️❤️❤️
__ADS_1