
Seorang ibu muda tengah duduk bersandar di sofa sembari memegangi putrinya yang asik memainkan boneka bunga ukuran kecil di tangannya. Pagi ini cuaca cukup panas, namun berbeda dengan suasana hatinya yang sebeku kutub, hatinya yang lama merindukan ketulusan. Sesuatu yang sulit ia dapatkan dari pernikahannya saat ini.
Hari telah mulai sore. Matahari perlahan turun di ufuk barat, bersiap untuk kembali ke peraduan.
Anika Humaira Mahardhika......
Seorang ibu muda yang merasakan kekosongan dalam jiwanya, akibat sang suami yang jarang menemaninya, juga nyaris tidak pernah memperhatikannya bagaimana pun keadaannya. Entah ia sakit, entah telat makan, entah bagaimana pun Anika, Dewa seolah tidak peduli dan menganggap Anika hanya seperti pajangan porselen mahal yang di biarkan terpajang begitu saja.
Tidak cintakah Dewa padanya?
Bukannya dulu dewa datang sendiri padanya tanpa paksaan Anika sama sekali? Menawarkan rumah tangga damai dan kesejahteraan hidup tanpa kekurangan. Hanya itu saja.
Sekejap, Anika mengerjapkan matanya beberapa kali. Membiarkan otaknya kembali berputar keras. Bukannya dulu Dewa memang tidak pernah menawarkan cinta padanya? Lalu, mengapa lantas Nika menerimanya begitu saja tanpa banyak pertimbangan? Ah, Anika merasa terlalu polos saat itu. Penampilan dan wajah dewa yang rupawan, juga latarbelakang keluarganya yang memiliki predikat keluarga besar konglomerat, membuat Nika muda terbuai saat itu.
Perlahan, Putrinya yang baru bisa berjalan itu, merangsek hendak meminta di turunkan. Sesekali, bibirnya yang mungil itu mengolah tak jelas dan entah apa yang di bicarakan.
Elvionika Sadewa Sinatra....
Sosok putri kecil yang terlahir dari rahimnya, dan berasal dari benih milik Dewa. Sesaat, perih kembali hadir menggelayuti jari Anika. Saat menatap wajah polos putrinya bersama Dewa, Anika tak tau apa yang membuat dewa berubah belakangan ini.
"Maaf Bu, biar non Vio sama saya, bapak sudah sampai. Mungkin ibu mau menyambutnya?"
Mbak Yuni, Pengasuh Vio muncul dengan membawa mp-asi dan sebotol susu hangat untuk Elvio. Beberapa hari ini, mbak Yuni kerap kali menemukan majikan perempuannya sering menghabiskan waktunya dengan melamun seorang diri, dengan wajah murung tentunya.
"Oh, sudah datang ya, mbak. Ya udah, aku kedepan dulu. Titip Vio ya, mbak." Anika lantas menyerahkan Vio pada mbak Yuni.
"Mas, sudah pulang?"
Anika datang dengan senyum mengembang. Wanita putri Kania dan Niko itu demikian pintar menyembunyikan lukanya.
__ADS_1
"Ya. Mana Vio?" Dewa berjalan mendekat ke arah Nika dengan senyum tipis. Senyum palsu yang ia paksakan, sayangnya Anika terlalu peka jika suaminya sedang tidak baik-baik saja.
"Sama mbak Yuni masih mau di suapi. Mau langsung mandi?"
"Ya."
"Ya sudah, aku siapkan air dulu."
Lihatlah, Anika bahkan menutup sakit hatinya dengan sikap lembut nya terhadap Dewa. Dewa sempat meringis ngilu saat ini, Karena ia merasa menjadi pria paling brengsek sepanjang hidupnya, hanya karena Vanya yang menurutnya telah mengkhianatinya. Sayangnya, wanita yang ia harapan cintanya hingga saat ini, terus menyangkal apa yang ia tuduhkan.
Sekali lagi, Dewa menghembuskan nafasnya kasar.
Dewa kemudian menyusul langkah istrinya menuju kamar untuk mandi, setelah sesi melamunnya baru saja.
"Mandilah, mas..... Aku mau menyiapkan baju kamu, sekalian mau ke dapur lihat bik Ani menyiapkan makan malam".
"Hmm ya sudah".
Dan tangan Anika bergerak lincah memeriksa dompet Dewa, setelah ia memeriksa ponsel suaminya yang tak di temukan chatting mencurigakan. Biarlah. Sekalipun nanti Dewa memakinya karena lancang, Anika akan meminta maaf. tapi ia perlu tau dulu dan berusaha mencari petunjuk, apa yang membuat suaminya itu berubah perlahan dalam bersikap terhadapnya.
Dada Nika terasa sesak seiring dengan air matanya yang menetes deras tanpa bisa di cegahnya. Foto sepupunya, Vanya dengan senyum manis, memperlihatkan betapa kecantikan Vanya sungguh menakjubkan. Apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Mungkinkah mereka memiliki skandal, mengingat Dewa belakangan ini seakan berjarak darinya.
Dan terakhir Nika bertemu Vanya, ketika lamarannya bersama dewa dua tahun lalu. Sejak saat itu, hingga pernikahannya dengan Dewa sekalipun, Vanya bahkan tidak hadir dan menghilang begitu saja, alasannya karna Vanya mengejar kariernya dan sudah tinggal di kota yang berbeda dengan keluarganya.
'Apakah dulu mbak Vanya dan mas Dewa memiliki hubungan?'
Dan suara pintu kamar mandi yang terbuka, nyatanya tidak serta Merta membuat Nika terjaga dari lamunannya. Ia terlalu sibuk mengaitkan benang merah yang terkait satu sama lain dari kejadian demi kejadian di masa lalunya.
"Nika......"
__ADS_1
Dewa menghampiri istrinya dan mendadak pamit, ketika seisi dompetnya tersebar di sepenjuru atas ranjang mereka. Dan yang membuat Dewa merasakan sesak, Anika menggenggam foto Vanya yang selama ini ia sembunyikan.
Serapat apapun kau menyimpan bangkai, tidak akan selamanya bisa tersimpan, bukan? Akan ada saat-saat dimana busuknya akan di cium oleh dunia.
"Apa hubungan kamu dengan mbak Vanya, mas? Apa mbak Vanya yang menjadi penyebab kamu menjaga jarak dariku, istri kamu sendiri?"
Anika sudah menangis di depan Dewa.
Jangan kira Nika akan sebbar-bar mamanya dan mudah meledak-ledak. Nika justru mewarisi sifat ayahnya dan juga, sejak kecil orang tua Niko lah yang mendominasi dalam mendidik Anika.
"Nika kamu jangan salah paham. Aku... hanya berteman saja dengan dia, nggak lebih." Sanggah dewa dengan teman.
"Nggak ada status teman yang begitu detail menyimpan fotonya di dalam dompetnya yang paling dasar."
Dewa risau. Ia berharap masalah ini tidak merembet kemana-mana, mengingat dirinya masih harus mengurus masa lalunya bersama Vanya yang ia anggap belum usai.
"Sudahlah, Nika. Aku nggak ingin berdebat". Tangan Dewa dengan gesit meraih isi dompetnya dan kembali merapikannya. Dengan handuk yang masih melilit di sepanjang pinggang hingga lututnya.
"Jangan bohongi aku, mas. Aku nggak mau di bohongi karena aku nggak pernah membohongi kamu. Katakan apapun sejujurnya meski itu menyakiti aku". Lirih Nika.
"Kamu yakin?". Anika mengangguk.
"Aku sangat ingin tau kebenaran. jangan tutupi apapun karena itu lebih menyakitkan". Ungkap Nika yang membuat Dewa menghirup udara sedalam-dalamnya. Perlukah ia mengungkapkan kebenaran?
"Vanya kekasihku, bahkan sebelum aku melamar kamu".
Kalimat keramat Dewa, seperti petir yang menggelegar di waktu senyap.
....
__ADS_1
....