PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 35


__ADS_3

"Apa kamu juga ingin dengar, sebuah cerita tentang Niko yang hampir gila setelah kamu tinggalkan?".


Lagi-lagi, Kania di buat terkejut akan momen-momen setelah kepergiannya. Kania hanya diam tak menjawab, membuat sang papa terkekeh ringan dan tak berdaya dengan keras kepala dan keangkuhan Kania. Kania yang duduk di sampingnya ini, adalah Kania yang harga dirinya setinggi langit, egonya sekuat baja, dan pendirian Sekokoh batu karang.


"Suamimu hampir gila, kalau kamu mau tau, nak. Selepas kepergian mu, dia juga nyaris menjadi mayat yang menyedihkan. Bayangkan, dia sama sekali tak mengkonsumsi apapun selama empat hari, dan empat hari itu pula, ia mencarimu secara membabi buta, tanpa kenal lelah dan tanpa kenal waktu. Jangan di bayangkan seperti apa, bahkan papa yakin kamu pun tak akan sanggup melihatnya.


Dalam hal ini, papa akui, semua kesalahan Niko, berakar dari papa. Jadi, bila ada pihak yang seharusnya di salahkan, ialah papa.


Papa hanya ingin, turunkan egomu demi anak-anak mu, cucu-cucu papa".


Sekali lagi, Fandy menghela nafas berat. Mengingat kehancuran menantunya, bukanlah keinginannya saat itu.


"Malam di mana kamu pergi, sebenarnya Niko malam itu memutuskan untuk menyudahi sikapnya yang mengabaikanmu. Begitu juga dengan papa yang berniat untuk memulai semua dari awal. Hingga tiba pada malam ke empat semenjak kepergianmu, Niko benar-benar jatuh dan terperosok ke dalam jurang penyesalan. Setengah bulan lamanya, dia terbaring tak berdaya, meracau kan nama mu dan tak henti-hentinya menangis seperti anak kecil. Di sanalah papa menyadari, betapa berartinya kamu untuk nya, nak.


Papa minta maaf. Papa menyesali semuanya.


Meski maaf ini, tak akan berarti apapun bagimu. Tapi seorang ayah, tetaplah manusia biasa yang tak luput dan lepas dari khilaf dosa."


Tangan Fandy tiba-tiba terulur untuk meraih jemari Kania yang terasa dingin. Mata putrinya itu berkaca-kaca. Seolah hatinya terhantam keras oleh cerita menyakitkan tentang Niko.


Sehancur itukah Niko ketika Kania meninggalkan nya?


"Kania nggak mampu, pa. Maaf".

__ADS_1


"Kamu pasti mampu, nak. Papa percaya anak papa adalah anak yang tangguh dan kuat. Demi Fatih dan Anika...... Kamu nggak mau membesarkan mereka bersamaan?"


"Kania nggak akan bisa".


"Mengapa?"


"Kania akan tetap di sini, apapun yang terjadi."


"Cintamu pada Niko, apa sudah musnah?"


Kania menggeleng dan menjeda obrolan mereka. Ia tengah memikirkan perasaanya.


"Cinta itu masih sama, pa. Hanya saja kerinduan Kania lebih besar dari sebelumnya. Namun, Kania belum bisa kembali secepat itu."


"Beri Kania waktu untuk berpikir."


Fandy mengangguk dan tak akan pernah memaksa putrinya. Apapun yang Kania butuhkan, akan Fandy penuhi, termasuk waktu yang Kania butuhkan demi kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Fandy sangat menyayangi anak-anaknya, juga cucu-cucu nya. Terlebih ketika Fatih di tinggal begitu saja oleh Kania, tentu Fandy merasa bahwa dialah akar dari semua masalah ini.


"Apapun untuk Kania, papa akan lakukan".


**


**

__ADS_1


Niko menunggu Kania lama. Entah apa yang istrinya dan ayah mertuanya perbincangkan di dalam mobil. Namun, Niko merasa bahwa perjuangan nya untuk membawa istrinya pulang, tidak lah mudah. Tak mengapa, Niko akan tetap berusaha sekuat tenaga untuk hal ini.


Tak mau kehilangan momen-momen penting bersama Anika dan Fatih, Niko lantas naik ke atas ranjang dan menemani Anika dan Fatih tidur. Di tatapnya lekat-lekat wajah mungil Nika dari jarak dekat, Niko sekali lagi serasa tersiram air panas. Wajah Nika sangat mirip dengannya. Bukan hanya itu, mungkin Kania senagaja memberi nama pada bayi mereka, dengan nama Nika, nama yang hampir mirip dengan nama Niko, tentunya.


Bagaimana Kania bisa mengandung dan melahirkan Nika seorang diri? Tidak kah istri nya itu kesusahan dan kerepotan dalam beraktifitas?


Pintu kamar terbuka dari luar. Niko tentu saja refleks bangkit dari rebahannya di samping Nika, Posisi yang tadi nya di tempati Kania.


"Sudah selesai? Tidurlah dulu. subuh masih lama".


Ujar Niko kemudian sembari pindah ke lantai, tempat tidurnya sedari tadi.


Kania tidak memberi respon sama sekali. Ia hanya melangkah pelan ke arah dipan tidurnya, kemudian merebahkan tubuhnya. Niko tak merasa tersinggung akan perlakuan Kania.


Hari ini, perjuangannya di mulai. Bila dulu Kania yang mati-matian meraih hatinya, maka kini Niko lah yang harus menaklukkan Kania. Demi rumah tangganya, juga demi anak-anak.


Lama Niko terjaga, hingga terdengar suara adzan berkumandang. Niko bangkit untuk membersihkan diri dan menunaikan kewajiban sebagai muslim. Tapi setelah beranjak, di tatapnya wajah Kania lekat-lekat, matanya terpejam rapat dengan dengkur halus terdengar.


Terdorong oleh keinginan dan kerinduannya, Niko membungkuk dan mengecup lama kening istrinya. Hingga sebuah telapak tangan, menamparnya dengan sangat keras, menyadarkannya dari sikap kurang ajarnya.


Bisakah di bilang kurang ajar? Sementara Kania masih berstatus menjadi istrinya?


Niko terkesiap.

__ADS_1


__ADS_2