
Niko menatap nanar deretan kalimat demi kalimat yang tertera pada berkas pemberian Sila. Ia tak langsung pulang dan mampir di sebuah kedai tak jauh dari rumah Sila.
Sebuah deretan kalimat berisikan rencana Sila, rencana Dira bukan hanya untuk menghancurkan rumah tangga Kenan dengan cara menggoda Ken, tapi juga memiliki motif untuk menyingkirkan Anjani dan anak-anak nya, demi bisa menguasai seluruh harta kekayaan Mahardhika. Tak hanya itu, beberapa transaksi yang Dira lakukan pada beberapa orang suruhannya untuk mencelakai Anjani nyaris terproses.
Tak hanya itu, Dira juga bukan wanita bersih tanpa cela seperti yang terlihat. Ada banyak cacat di masa lalu yang dia lakukan terhadap keluarganya. Bahkan, wanita rubah itu tak segan membunuh anak dari adiknya, hasil hubungan gelap adiknya dan mantan suaminya di masa lalu.
Ya tuhan!!
Dari sekian banyak hal keji yang bisa Dira lakukan, mengapa ia tega menghabisi nyawa keponakannya sendiri? Mengapa harus mengorbankan anak tak berdosa demi melampiaskan dendam?
Dan Niko hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali karena linglung. Jadi, inilah alasan Kania membuat Dira tersiksa. Melempar Dira pada lelaki yang memiliki kelainan aseksual. Tak memberi kesempatan pada Dira untuk melukai Anjani dan anak-anak Kenan.
Setelah di rasanya emosi Niko cukup stabil, lelaki itu lantas kembali mengemudikan mobilnya untuk kembali menuju ke rumah Sila. Hari ini juga, hari ini juga Niko harus bisa bertemu dengan Kania. Meminta maaf dan bersujud di kaki wanita yang telah di lukainya.
"Sila.... Silaaaa!!"
Niko menggedor rumah Sila seperti orang kesetanan ketika sudah sampai di rumah Sila. Sila yang memang hari ini meliburkan diri dari pekerjaannya, bergegas membuka pintu dan berdecak sebal.
"Apa lagiiiiiii?"
Jawab Sila setelah pintu terbuka. Matanya mendelik kesal pada Niko yang mengganggu acara liburnya kali ini.
"Antar aku ke Kania".
"Nggak mau".
"Antar, atau aku buat kamu di pecat dari pekerjaanmu.
Aku bisa melakukan apapun yang aku mau, seperti kamu yang juga bisa melakukan apapun yang kamu mau!!".
Mata Niko berkilat penuh emosi. Setiap katanya tidak mengandung nada main-main.
"Huh. Semua orang memang cenderung menggunakan kekuasaan untuk menekan orang kecil sepertiku".
Mata Sila memandang Niko dengan pandangan tak suka.
"Tunggu sebentar".
__ADS_1
Niko terkesiap ketika Sila sama sekali tak menolak permintaannya. Semudah itu kah mengancam Sila?
"Kamu serius?"
Tanya Niko.
"Memangnya aku punya pilihan lain selain menuruti kemauan kamu?"
Ucap Sila setengah membentak sambil berlalu meninggalkan Niki yang terbengong. Dalam hati Sila menyumpah serapah suami sahabatnya ini. Mana mungkin Kania yang barbar itu bisa tunduk sekaligus bucin pada Niko yang seperti orang dungu?
Tragis memang nasib Kania.
Niko dan Sila kemudian berangkat bersama u tuk mendatangi tempat persembunyian Kania selama ini. Siapa sangka, dari sekian banyak tempat yang Niko kira pasti di datangi Kania, istrinya itu lebih memilih pedesaan yang asri dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan yang penuh polusi.
Sepanjang perjalanan, Niko menginterogasi Sila. Mencecar Sila dengan berbagai macam pertanyaan seputar kejadian setahun yang lalu, kepergian Kania secara diam-diam, yang ada andil Sila yang memberi Kania bantuan.
"Jam berapa kamu jemput Kania malam itu?".
"Sebelas malam".
"Apa yang dia ceritakan sama kamu waktu itu?"
"Banyak".
"Ceritakan!!"
"Dia nggak tahan dengan semua perlakuan keluarganya. Juga...... kamu yang mengabaikannya."
"Aku menyesal".
Niko bergumam lirih yang justru di sambut gelak tawa ejekan dari Sila.
"Elu memang bego. Dari awal, andai gue jadi elu, lebih baik gue cari semua informasi yang akurat mengenai Dira. Juga alasan Kania melakukan hal se-drastis itu. Sebagai suami, harusnya elu bimbing istri lu. Bukannya justru di abaikan gitu aja tanpa memberi kesempatan Kania untuk menjelaskan."
Niko tak menyahut. Kenyataannya, apa yang Sila ucapkan tentangnya memang benar adanya. Kepergian Kania dan alasan yang mendasarinya, adalah sebuah alasan yang masuk akal. Dira memang memiliki niat jahat. bukan hanya pada Kenan, tapi juga berniat melenyapkan Anjani dan kedua Anak Kenan.
"Aku janji aku akan memperbaiki semuanya".
__ADS_1
Celetuk Niko kemudian setelah hening panjang.
"Bagus. Kalau sampai elu nggak niat buat memperbaiki semuanya, gue jamin Kania bakal di persunting pria lain yang lebih baik dari elu."
**
**
Fandy tengah menatap istrinya yang terbaring lemah di atas ranjang. Selang infus yang bertengger di lengan kirinya, membuat Fandy dilanda rasa nyeri di ulu hatinya.
Semenjak kepergian Kania, Nawal sering jatuh sakit dan tak jarang, Nawal nyaris seperti orang gila akibat sering meracaukan nama Kania. Penyesalan bertubi-tubi yang Nawal rasakan, ia rasakan seorang diri dan tak mengijinkan siapapun menghiburnya. Nawal selalu menutup diri dan sering melamun.
Akibatnya, inilah yang terjadi sekarang.
"Ken belum dapat kabar dimana adiknya, mas?
Aku kangen sama Kania. Aku nyesel udah nggak peduli sama dia. Aku mohon, mas. Cari putri kita sampai dapat".
Lirih Nawal. Lagi-lagi, air matanya tumpah ruah.
"Sabar, sayang. Ken pasti akan menemukan Kania, secepat mungkin." Fandy berusaha menenangkan.
"Ini karma, ini karma kita, mas".
Nawal menangis dan terseguk dalam.
"Dulu, aku harus jauh dari kamu ketika aku mengandung Kenan. Ken juga sudah membuat Anjani merasakan pedih akibat di campakkan ketika hamil.
Dan Kania..... dia pergi akibat kebodohan kita yang nggak mau mendengar keluh kesah nya".
"Maafkan aku, sayang".
"Ayo bawa serta aku untuk mencari Kania, mas".
"Tentu. Apapun.... apapun yang kamu mau".
🍁🍁🍁
__ADS_1