PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 7


__ADS_3

Bebek goreng sebanyak satu loyang ukuran besar telah tersaji sempurna di meja makan. Ken menatapnya dengan pandangan puas, sekaligus takjub. Bisa di bilang, ini adalah kali pertama dirinya memasak untuk sang belahan hati nya. dan saat ia mencicipi sedikit tadi, rasa nya pun tak cukup buruk. Ken Menatap puas bebek goreng rica-rica hasil karya tangannya.


Di meja makan sudah ada Anjani dan Kenan. Zhivanya sedang ikut Oma dan opa nya ke rumah Kania,adik Kenan untuk mengunjungi kedua orang tua Niko yang baru datang dari kampung tadi pagi.


"Waw, rasanya nggak buruk". Anjani mengangguk-angguk anggukkan kepalanya tanda puas menikmati hasil masakan suaminya. Anja sudah seperti juri dalam kompetisi masak memasak.


"Ayo makan yang banyak. Tau kan, kalau aku udah susah-susah masaknya?"


Ucap Kenan yang baru saja tiba dari kamar mandi. Setelah memasak, ia merasa seperti bau bawang dan asap.


"He'em. Enak enak".


Sepasang suami istri itu kemudian melanjutkan makan dalam diam. Namun sayangnya, Ken memilih menu makanan yang di masak pembantu nya. Entahlah, kalau berurusan dengan bebek, Kenan benci setengah mati.


"Mas, aku punya ide deh, gimana kalau kamu buka cabang resto, tapi kamu yang masak? Masakan kamu enak loh". Ucap Anjani dengan mimik wajah tanpa dosa. Kenan melotot ke arahnya dengan wajah tak suka dan pandangan mata horor.


"Jangan gila kamu. Aku punya empat distro sudah pusing ngurusnya. Di tambah lagi satu butik kamu yang sering kamu tinggal. Ia.u pikiranku robot? Dari empat distro, aku bahkan bisa manjain kamu, membebaskan ku beli apapun yang kamu mau. Jadi nggak usah buka rencana yang enggak-enggak".


Sangkal Kenan dengan lembut. Berbicara dengan Anjani harus lembut dan tak boleh dengan suara tinggi. Bisa-bisa nanti dirinya di cap sedang membentak. Sejak hamil lagi, perasaan wanita itu cukup sensitif.


Ponsel Kenan bergetar dalam saku celananya. Kenan memilih membiarkannya saja hingga nanti selesai makan. Ken tidak mau mengganggu acara makan malam nya dengan sang istri.


"Ya udah. Lanjutkan makan" Kata Kenan ketika Anjani sudah meminum habis air yang ada di gelasnya. Padahal, Anja baru makan satu potong bebek goreng rica-rica dan sedikit nasi.


"Udah kenyang."


Kenan melotot.


"Kenapa kenyang? Kan aku bikinnya satu bebek utuh di potong-potong? Bikinnya banyak loh, nja. Dan aku masaknya susah sampai kena cipratan minyak. Kamu nggak sayang sama bebeknya? Masih banyak loh".

__ADS_1


"Aku udah nggak mau lagi, mas. Gimana lagi dong? Dah kenyang".


Kenan merosotkan bahunya. Ayah susah-susah masak, malah hanya di makan sedikit. Siapa yang nggak kecewa?


Usai makan, Kenan dan Anjani mengajak Anjani untuk kembali ke dalam kamar. Sejak hamil lagi, Kenan memperlakukan Anjani dengan sangat hati-hati dan di manja.


"Mas, aku ngantuk deh. Mau langsung istirahat, ya?"


"Boleh. Ya udah istirahat aja. Sini aku temenin".


Kenan merebahkan tubuhnya tepat di samping istrinya, menyelimuti Anjani sebatas dada dan tak lama, dengkuran halus terdengar dari bibir Anjani.


Waktu menunjukkan pukul 20.20. Kenan tidak begitu mengantuk sebenarnya, maka ayah satu anak itu memutuskan untuk mencari udara segar di luar.


Lantas pria itu segera membuka pintu balkon, menuju balkon dan menutup pintu lagi. Ia tak mau angin malam masuk dan membahayakan keadaan istrinya.


Kenan ingat, tadi ponselnya bergetar dan ia terkesan mengabaikan. Dengan pelan, Ken merogoh saku celananya dan segera membuka ponselnya.


Tanpa menunggu lama, Ken segera membuka pesan. Awal-awal memang sebuah pesan mengenai pekerjaan, lantas Kenan sedikit tak nyaman saat mendapati pesan 'Jangan lupa makan malam. Selamat malam dan semoga mimpi indah' di akhir kalimatnya.


"Aneh. Kenapa tiba-tiba mba Dira ngirim kalimat beginian, sih?"


Gumam Kenan sambil melirik istrinya dari kaca pintu balkon, yang merebah nyaman di atas ranjangnya.


~~


~~


Makan malam berlangsung dengan suasana hangat ketika Nawal dan Fandy berkunjung ke rumah putrinya, Kania. Sang besan yang baru datang lagi tadi pun, menyambutnya dengan hangat dan ramah. Meski Niko di besarkan dari lingkungan kampung, tapi masalah kesooanan dan kesantunan, orang tua Niko patut di acungi jempol.

__ADS_1


Usai makan, mereka tengha mengobrol di ruang keluarga. Sesekali obrolan seputar keseruan Fatih yang baru bisa tengkurap, dan kenakalan Zhivanya saling di ceritakan.


"Ma, gimana kabar mba Anja? Katanya kurang enak badan?"


Tanya Kania yang duduk tepat di samping Niko.


Fatih sedang dalam gendongan Fandy. Sepertinya, pria itu sangat merindukan cucunya kali ini.


"Baik. Lagi ngidam bebek goreng dan mas mu yang di minta masak sendiri". Nawal menjawab dengan senyum lebar. Ingat dengan keluhan Kenan yang tak henti-hentinya karna harus berurusan dengan hewan yang paling di bencinya.


"Apa? Uh, kanapa nggak nagabarin Kania, sih? Coba ada Kania, aku bantuin mba Anja ngerjain mas Kenan deh".


Imbuh Kania dengan terkikik geli sendiri ketika membayangkan.


"Dan mbak mu itu minta mas mu Bangkep bebeknya sendiri sampai mas mu kecebur ke kubangan bebek.".


Sontak mereka tertawa bersama.


"Oh ya, ma. Kania ada mau ngomong nih".


"Ngomong apa, nak? Ngomong aja". Ibu Niko yah sedari tadi diam, kini bersuara.


"Kania boleh hamil lagi, nggak?".


Niko melotot dan menatap istrinya dengan pandangan horor.


"Jangan gila deh, sayang. Fatih masih kecil".


Dan Kania hanya bisa cengengesan ketika suaminya menatapnya aneh.

__ADS_1


....


__ADS_2