PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 13


__ADS_3

plakk.......


"Apa yang kamu lakukan pada Anjani Ken? Jawab mama! Apa pernah mama ngajari kamu untuk tidak bertanggung jawab atas apapun yang kamu lakukan? Jawab!", Nawal berteriak marah pada putranya yang saat ini menunduk dihadapannya. Tangisan Nawal pecah begitu saja.


Bahkan diantara semua orang, Nawal lah yang paling histeris setelah mengetahui fakta yang sebenarnya. Fakta tentang putranya yang telah menghamili seorang gadis yang masih SMA.


"Jawab Kenan Nayaka!? Kenapa hanya diam?", Ken masih tak bergeming. Lidahnya terasa kelu. Jika Ken boleh memilih, Ken lebih suka menghadapi papanya dari pada sang mama. Karna sesungguhnya, kelemahan seorang Kenan adalah sang mama.


Nawal berjalan kembali hendak melayangkan pukulannya lagi pada sang putra.


plak


plak


plak


dugh


duak


plak


duak


pyar


Sebuah vas bunga ingin di lempar ke arah kepala sang putra, namun Kenan tidak menghindar. Hampir saja vas bunga itu mengenai Kenan jika saja Kania tidak segera menghadang vas yang melayang tadi dengan menggunakan nampan hingga vas itu jatuh mengenaskan ke lantai.


Nawal mengamuk seperti kesetanan di rumahnya sendiri, air mata tak henti-hentinya mengalir dari pipinya. Kalau saja Fandy tak memeluk Nawal untuk menenangkanya, mungkin seluruh isi rumah akan hancur lebur ditangan Nawal.

__ADS_1


"Sayang, sudah sudah.... kita bisa membicarakan masalah ini dengan kepala dingin. Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, tapi akan membuat semuanya makin runyam. Kamu tenang ya?". Nawal segera mengurai pelukannya dengan kasar. Menghentakkan tangan Fandy begitu saja.


"Kamu juga turut andil atas kenakalan anak kamu yang keterlaluan itu mas! Kamu yang selalu memanjakan Kenan dan sekarang, Kenan menjadi anak yang seenaknya sendiri tanpa aturan. itu semua karna kamu!". Fandy yang terkena imbas kemarahan Nawal pun memijit pangkal hidungnya. Bingung dengan apa yang hendak ia bicarakan. Takut salah dalam berkata.


"KANIA!", panggil Nawal pada putrinya yang duduk tak jauh dari Kenan.


"I iya iya ma, k ka Kania di di sini", Kania mendadak gemetar ketakutan karna Nawal yang marah seperti orang kesetanan.


"Panggil Anjani dan bi Tarsih kesini, SEKARANG!".


"I iiya ma, ka Kania panggil". Kania seketika berlari terbirit-birit untuk memanggil Anjani dan ibunya.


Nawal melirik jam dinding sekilas. Jam menunjukkan pkl 21.37 malam. Alih-alih tidur dan beristirahat, keluarga Mahardhika justru di buat tegang karna ulah putra sulung mereka.


"Sayang, kamu harus tenang. Ayo duduk dulu", Fandy berdiri meraih tubuh istrinya dan segera mendudukkannya di sofa.


"Bagaimana pun, aku kepala keluarga disini. Kamu boleh murka. Kalau bisa, aku juga ingin melakukan hal demikian. Tapi percayalah, aku berusaha menahannya. Jika semua orang menyikapi segala masalah dengan kemarahan terlebih lagi kekerasan, apakah itu bisa menyelesaikan? Tidak, sayang. Percayalah. Mari kita perbaiki semuanya dari awal. Mari kita bimbing anak kita dan didik mereka lebih baik lagi. mari kita bawa mereka kembali pada jalan benar". Jawab Fandy lembut.


Sesungguhnya, hati seorang ayah saat ini telah terluka. Kepercayaan yang selama ini ia berikan pada putra sulungnya, nyatanya telah di hancurkan.


Fandy ingin marah pada Kenan, melampiaskan kemarahan dan kekesalan. Tapi, sebagai kepala keluarga, Fandy harus lebih bijak dan menggunakan akal sehatnya. Berpikir logis agar tidak semakin memperumit persoalan.


Jika Fandy saat ini diam, ia hanya sedang mengendalikan dirinya. Bukan karna ia lemah ataupun tak peduli pada keluarganya. Namun, lebih pada dirinya sendiri yang tengah introspeksi diri, tentang apa yang kurang dari dirinya hingga putranya berani mengambil keputusan dan sikap amoral. Sikap yang bukan dari aturan yang ia terapkan.


Langkah kaki yang begitu lemah, tengah berjalan mendekat ke arah keluarga yang saat ini begitu tegang. Aura mencekam jelas terasa saat Anjani dan bi Tarsih baru datang.


Sedang Kania, jangan di tanya lagi. Ia segera melesat menaiki anak tangga untuk segera sampai di kamarnya. Kania bukan hanya lelah. Tapi juga merasa mengerut takut saat menyaksikan sang mama yang begitu dikuasai amarah.


"Maaf, tuan dan nyonya, panggil saya?", Suara bi Tarsih memecah keheningan. Bi Tarsih datang dengan memeluk pundak Anjani, Anjani yang terlihat lemas dan wajahnya pucat pasi. Matanya sembab, serta bibirnya bergetar.

__ADS_1


"Bi, Saya mohon maaf ya Bi mengganggu malam-malam, saya minta waktunya. Ayo bibi duduk dulu sebentar", pinta Fandy pada bi Tarsih di sertai senyum lembutnya. Di usianya yang telah memasuki usia pertengahan empat puluhan, Fandy masih nampak sangatlah menawan.


"Duduklah di kursi bi. Jangan di bawah. Saat ini, saya ingin bicara pada bibi sebagai sesama manusia, tidak sebagai pembantu dan majikan. Derajat kita, sama sekarang. Jadi saya mohon, tolong jangan merendahkan diri lagi. Ayo Anja, Kamu duduk juga". ucap Fandy lagi.


Nawal yang mendengarkan hanya menunduk sambil menangis, sama sekali tidak memiliki keberanian meski hanya menatap Anjani sekilas. Ia terlampau malu sekarang.


"Saya minta maaf, tuan". Bi Tarsih memberanikan dirinya untuk berbicara. Nawal pun mendongak menatap bi Tarsih dengan tatapan nyalang. Tidak habis fikir, mengapa justru sang korban yang harus meminta maaf.


"Untuk apa minta maaf bi? Bukannya kesalahan ini, murni kesalahan Kenan, anak saya?" Tanya Fandy yang keheranan.


"Karena Anja sudah membuat kekacauan dalam keluarga tuan", Jawab Bu Tarsih yang bergetar kembali menumpahkan tangisannya.


"Bi, bibi tenang dulu ya". Fandy menghela nafas berat sembari mengalihkan tatapan matanya pada putranya.


"Kenan, Jawab papa jujur. Sebagai lelaki, kamu di tuntut untuk bertanggung jawab atas sikap yang sudah kamu ambil. Jadi, bagaimana awal mula Anjani bisa mengandung anak kamu? Apa kamu pernah melecehkannya?", Tanya Fandy dengan lembut, meski matanya menampakkan kekecewaan yang begitu besar.


"Aku nggak pernah maksa Anjani untuk ngelakuin itu sama aku, pah. Anjani sendiri yang datang ke ranjang ku", Jawab Kenan santai, meski dalam hatinya, Ia berusaha mati-matian menahan gejolak amarah pada Anjani.


Anjani mendongak, memberanikan diri menatap Ken. Yang dikatakan Kenan tidak sepenuhnya salah. Namun, ada alasan Anjani yang tidak Ken katakan juga.


"Benar itu Anjani?" Fandy kembali menatap Anjani yang sudah berani mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Fandy.


"Iya. Memang benar tuan. Saya yang menyerahkan diri saya pada putra tuan".


"Kenapa? Apa alasannya?".


"Maaf beribu-ribu maaf tuan. Saya mencintai putra sulung anda. Saya pun tidak akan menyerahkan diri saya pada putra anda, jika saja malam itu, putra anda tidak mengatakan ia akan membalas cinta saya". Anjani menjeda kalimatnya, kemudian melanjutkan.


"Pembuktian. Saya tidak tau dari awal jika pembuktian yang putra anda inginkan dari saya, telah membuahkan hasil berupa janin yang hidup di rahim seorang pembantu seperti saya. Dan sekarang, putra anda mengatakan seolah saya terlihat begitu murahan di depan semua orang. Andai saya mendengarkan ibu saya saat itu, andai saya tidak terlena dengan janji manisnya, Saya tidak akan mungkin di lemparkan hingga ke titik terendah oleh putra anda seperti saat ini".

__ADS_1


__ADS_2