PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 37


__ADS_3

"Fatih, mama mu mana?"


Niko muncul dari ambang pintu, matanya menangkap keberadaan Fatih yang sibuk membongkar mainan yang Nawal bawakan untuknya.


"Tutu.........."


Fatih menunjuk ke arah dapur, sebelum kemudian anak itu fokusnya kembali pada mainan yang di pegang ya sejak tadi.


"Jangan lupa nanti setelah selesai mainan, jangan lupa mainannya di clean up, ya. Jadi anak baik dan jangan nakal."


Ucap Niko yang mendapat anggukan dari putranya. Senyumnya merekah indah setelah setahun lamanya, ia sama sekali tak pernah tersenyum.


"Kan.... kamu di mana?"


Teriak Niko sambil melangkah ke arah dapur. Matanya seketika berbinar ketika mendapati Kania tengah menggendong Anika sembari menggoreng kacang tanah.


Kania yang merasa namanya di panggil, seketika menoleh dan mendapati Niko muncul dengan membawa pisang raja. Sudah paham akan kebiasaan dan kesukaan Niko, bisa di tebak kalau Niko berniat untuk memintanya di buatkan pisang raja.


Huh, enak saja. Memangnya Niko pikir Kania tidak marah? Yang ada Kania saat ini Kania masih dongkol karena Niko yang setahun lalu mengabaikannya. Terlebih, Niko tak kunjung pulang meski berulang kali Kania mengusirnya.


"Aku mau di buatkan bolu pisang, dong. Nih, di kasih pisang raja sama mbak Sri. Buatin ya sayang, ya? Ya? Ya? Please..... oke?!?"


Niko sengaja memasang tampang imut yang dulu pernah Kania sukai. Sayangnya, sekarang Kania nggak akan pernah mudah tergoda.


"Nggak tau malu!! Bikin aja sendiri".


Hardik Kania. Matanya masih menyiratkan amarah, dan raut wajahnya garang seperti seekor harimau Jawa.

__ADS_1


"Jangan gitu, dong. Kan aku masih suamimu".


"Jangan mimpi. Secara agama, kita bukan lagi suami istri!!"


"Oke, kalau itu alasan kamu. Baik. Tunggu sebentar di sini".


Niko berlaku pergi mengambil ponselnya yang ia charge sejak tadi. Kemudian berbincang yang entah apa dengan Nawal di halaman depan, Kania tak begitu jelas mendengarnya. Kemudian berlalu pergi dengan berjalan kaki.


Diam-diam, Kania sebenarnya merasa bersalah dan menyadari, sikapnya ini, tak layak di sebut sebagai istri. Tapi mau bagaimana lagi? Semua telah terjadi dan Kania tidak serta Merta begitu saja bisa memaafkan Niko. Setidaknya, Kania harus memberikan pelajaran dan efek jera pada suaminya itu, agar nanti di masa depan, kasus serupa tidak di terulang lagi.


Usai meniriskan kacang tanah yang tadi di gorengnya, Kania lantas mematikan kompor dan menatap pisang raja yang cukup besar dan matang sempurna. Dulu, Niko gemar sekali makan bolu pisang buatannya. Bahkan tak pernah bosan melakukannya.


Meski tadi di depan Niko, Kania menolak keras permintaan Niko untuk membuatkan bolu pisang, namun kali ini Kania diam-diam akan membuatkannya untuk Niko. Biarlah, yang Kania ingin, Niko bisa makan lahap lagi seperti dulu. Bila melihat tubuh kurus Niko, membuat Kania hati Kania merasa sakit. Se-tersiksa itu kah Niko saat ia tinggalkan?


Kania berjalan menuju kamar, ketika Nawal menghentikannya sambil membantu Fatih membereskan mainannya. Matanya menunjukkan binar bahagia yang terlihat aneh di mata Kania.


Nawal bertanya dan melangkah mendekati Kania.


"Belum".


Meski Kania masih menyimpan rasa marah terhadap Nawal, namun Kania kini sudah lebih luluh dengan mengijinkan ibunya untuk menggendong Anika. Meski sikapnya masih tak berubah, dingin dan berjarak.


"Mama udah menghubungi mas mu, papa, mba Anja, dan mertuamu untuk datang. Mungkin habis Maghrib mereka datang".


Ucap Nawal sambil tersenyum lebar dan membawa Anika ke dalam dekapannya.


"Uh, cucu Oma nggak bobok, ya? Mau main smaya mas Fatih, kah?"

__ADS_1


Dan Kania sama sekali tidak mempedulikan ocehan Nawal yang mengajak Anika dan Fatih yang berbincang. Mereka nampak akrab sekali dan sesekali melempar tawa. Kania hanya ingin membuatkan bolu pisang kesukaan suaminya secepatnya. Mumpung Niko tak ada di sini, begitu pikirnya.


Lama Kania berkutat dengan semua alat dan bahan-bahan untuk membuat bolu pisang. Ia rindu akan kehebohan Niko di masa lalu, ketika bolu pisang tersaji indah di meja makan. Lama-lama, senyum Kania terbit ketika menyadari, bolu pisang buatannya sudah hampir matang sempurna.


Hingga bolu buatannya selesai di masak, di saat yang bersamaan Niko datang dengan senyum sumringah. Matanya luar biasa berbinar dan menatap Nawal dengan pandangan sukacita. Firasat Kania tidak baik saat ini. Entah apa yang Niko dan Nawal rencanakan, Kania tidak tau.


"Wah, makasih sayang, kamu memang istri yang the best banget lah".


Puji Niko yang membuat perut Kania serasa mual dan ingin muntah. Sumpah demi apapun juga, Kania tak tau sejak kapan Niko bertingkah aneh seperti ini. Maka, Kania memutuskan untuk masuk ke kamar.


"Bodo amat". Kania menimpali kalimat Niko, dengan suara ketus. Bukannya marah, Niko justru terkekeh dan menikmati bolu pisang buatan istrinya itu.


"Papa udah di kabari, ma?"


Rungu Kania tiba-tiba mendengar Niko tengah berbicara dengan Nawal.


"Udah, mas mu juga sudah. Ibu dan ayah kamu, gimana?"


"Udah, ma. Aku juga udah pesen makanan untuk syukuran nanti di resto papa dan akan datang nanti sekalian sama ibu kayaknya. Sederhana aja".


"Iya, yang penting kamu nggak berlarut-larut dalam kesedihan. Begitu juga Kania, mama harap, cinta kalian bisa semakin kuat ke depannya."


"Makasih, ma..... makasih atas doa restu mama. Niko janji bakal jaga mamanya Fatih dengan sepenuh jiwa. Niki mencintai putri mama, sangat".


"Mama seneng kalau akhirnya anak-anak mama bahagia".


Entah mengapa, jantung Kania serasa berdentum hebat ketika mendengar kalimat demi kalimat yang mereka luncurkan dan menakutkan. Firasat Kania menjadi semakin tak karuan, namun tak berani menebak, secara kasar sekalipun.

__ADS_1


__ADS_2