PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 1


__ADS_3

Seorang gadis masih memejamkan mata ketika bunyi jam weker mini di atas nakas, memekakkan telinga di kesunyian pagi ini. Cahaya yang semula samar, kini nampak jelas memasuki ventilasi jendela dengan sinarnya yang menyilaukan mata. Suara kicau burung samar-samar terdengar di telinga, di iringi dengan suara kendaraan bermotor yang sesekali melewati jalanan depan rumah minimalis nya.


Gadis itu, Zhivanya Nayaka Mahardhika namanya.


Putri sulung keluarga Kenan Nayaka Mahardhika dan Anjani Mahardhika.


Memilih untuk tinggal seorang diri dan mengasingkan diri ke ibukota, Vanya memiliki alasan untuk tinggal terpisah dari kedua orang tua dan adiknya, David Nayaka Mahardhika. Kecantikannya yang dulu di agung-agungkan banyak orang ini, nyatanya sungguh kontras dengan kisah cintanya yang berjalan dengan menyakitkan.


Dengan mata terpejam dan bibir mencebik tak suka, tangannya terulur meraih jam weker mini di atas nakas, berniat untuk mematikannya. Setelah bunyi nyaring dari jam weker tadi terhenti, perlahan Vanya membuka matanya.


"I hate Monday".


ucapnya dengan suara parau.


Di saat matanya tak bisa di ajak kompromi seperti ini, kenapa waktu untuknya berangkat bekerja, tiba secepat ini sih? Padahal jika boleh Vanya menawar, Vanya ingin memenuhi kebutuhan tidurnya, sedikit lebih lama. Lima menit lagi misalnya.


"Pantas saja mataku ini ngantuk berat. Drama Korea semalam, selesainya jam berapa, ya?".


Vanya menggaruk kepala bagian belakangnya, membuat rambut yang semula berantakan, kini semakin tak karuan. Sambil sesekali ia menguap dan ujung matanya berair akibat masih kurang tidur.


Baru saja Vanya berniat hendak turun dari ranjang, Pintu rumahnya di gedor dari luar.


Emi, sahabat karibnya yang selama ini menemaninya dalam suka mau pun, duka. Satu-satunya saksi atas luka yang selama ini di derita Vanya. Juga saksi kunci bagaimana Vanya menyembunyikan alasan kepindahannya ke Jakarta tanpa satu pun keluarganya yang tahu, termasuk orang tuanya.


"Van, Lo bukain pintu dong, cepet....!!"


Emi berteriak lantang. Suaranya nyaring dan bahkan menyaingi suara 27 kambing dalam satu waktu.


Mendapati hal ini, Vanya mencebik tidak suka.


"Sebentar......, dasar gila. Pagi-pagi sudah bikin orang naik darah". Vanya menggerutu.


"Lama banget sih!" Emi melotot pada Vanya yang baru saja membukakan pintu. Penampilannya sudah rapi, sangat berbeda jauh dengan Vanya yang acak adul tak karuan. Vanya hanya terkekeh ringan menanggapi dan berbalik pergi menuju kamar mandi tanpa membalas kalimat sahabatnya.

__ADS_1


Usai mandi, Vanya sudah mendapati Emi duduk di atas ranjang milik Vanya sambil memangku laptopnya.


"Sibuk banget."


Vanya melempar sebungkus coklat mini ke arah Emi.


"Hmmm... maklumlah, Lo tau sendiri kan gimana gue?"


"Ya ya ya.... loe mang karyawati yang teladan."


"Van, Lo udah denger kabar terbaru, belum?"


"Kabar apaan?"


"Dewa Sinatra ada di ibukota ini, sudah seminggu ini".


Eni berucap hati-hati. Suaranya di buat sepekan mungkin. Gadis yang suka emosi itu mengamati ekspresi wajah kawannya dengan seksama. Mencari tau bagaimana emosi Vanya selanjutnya.


Vanya yang sedari tadi sibuk menyisir rambutnya, kini menghentikan gerakannya.


"Lo udah siap ketemu dia?"


"Nggak usah di bahas. Biarin dia melakukan apapun keinginannya."


"Dan adik sepupu Lo..... juga ikut".


"Wajar, Anika istrinya".


"Lo udah siap bertemu mereka setelah dua tahun menghindarinya?"


Vanya tak tau harus menjawab apa. Nyatanya, hatinya belum siap bila harus bertemu kembali dengan orang-orang masa lalunya. Tapi ia bisa apa? Toh ia juga sudah terlalu lama menghindari dewa dan Anika, sepupunya.


"Apa gue punya pilihan lain?" Vanya menatap wajahnya sendiri di depan cermin.

__ADS_1


"Kalau Lo nggak siap ketemu mereka, Lo bisa resign dari kantor".


Mendengar kalimat sahabatnya, Vanya mengerutkan keningnya.


"Resign? Kenapa gue yang harus resign?"


"Karena posisi CEO di kantor, akan di duduki oleh dewa Sinatra setelah pak Haris pensiun."


Jantung Vanya seketika seolah berhenti berdegub saat itu juga. Mengapa pria itu harus datang lagi ke dalam kehidupannya?


"Kalau benar begitu, dia dan istrinya ada di sini, maka gue yang akan pergi."


"Sampai kapan Lo akan terus-menerus menghindari mereka? Ini udah purnama ke dua puluh enam Lo nggak pulang ke Banyuwangi untuk sekedar menjenguk kedua orang tua Lo.... Lo nggak kasihan ke mereka? Secara, mereka dan adik Lo yang selalu datang kesini. Lo udah banyak membebani kedua orang tua Lo dengan banyak pikiran. Sampai kapan Lo akan terus sembunyi?"


Vanya menunduk, menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca. Sekuat tenaga Vanya menahan laju air mata kurang ajarnya itu agar tak jatuh begitu saja. Bila berkaitan dengan dewa, maka luka hatinya seolah tersiram air perasan jeruk nipis. Perih dan menyakitkan.


Emi yang menyadari sahabatnya itu kini tengah ingin menangis, segara membalik tubuh Vanya dan memeluknya erat.


"Tenang, Van.... ada gue di sini. Lo nggak usah takut. Gua bantu Lo menghadapi ketakutan lo. Asal Lo janji nggak bakalan menangis lagi untuk pria brengsek yang udah membuat hidup Lo menderita seperti ini".


Suasana hening, hanya suara isakan kecil Vanya yang terdengar. Dan ketika tersadar bahwa waktu mereka tak lagi banyak, Vanya segera bergegas memperbaiki penampilannya untuk berangkat ke kantor. Bisa-bisa ia kena Omelan mbak Rosa, sang atasan kalau sampai ia dan e


Emi terlambat sampai kantor.


Kini, Vanya sudah bertekad, akan mempertangguh hati dan jiwanya untuk menghadapi badai apapun yang akan menimpanya di masa depan.eski ia tak yakin, prosesnya akan secepat yang Vanya bayangkan.


Lo tega, wa. Gue nggak nyangka sakit ini masih sama meski udah lebih dari dua tahun berlalu.


Batin Vanya merintih dalam pilu.


....


....

__ADS_1


Update pelan, ya....🥰 jangan lupa tinggalkan jejak.


__ADS_2