
Musim penghujan sudah tiba. Dingin yang melapisi udara di belahan bumi ini, kian menyengat setiap pagi mulai datang. Embun mulai menetes pelan di setiap pucuk dedaunan yang kian segar.
Tanpa terasa, genap setahun sudah Kania pergi meninggalkan keluarga besar, suami dan anaknya beserta kota kelahirannya. Dirinya benar-benar mengasingkan dirinya ke sebuah esa terpencil yang sangat minim teknologi. Jangan tanyakan Bagaimana tentang keadaannya, Kania hidup dengan layak dan sangat baik beserta anak keduanya.
Empat bulan lalu, Kania melahirkan seorang bayi perempuan yang lucu, Anika Humaira namanya. Di sini, Kania dan Anika melangsungkan hidup. Mengaku sebagai wanita yang berpisah dari suaminya, dan membuka sebuah toko kecil sebagai sumber penghidupannya bersama Anika, Kania bisa sedikit mengalihkan pikirannya yang selalu melintaskan bayangan Niko, Fatih, dan keluarga besarnya.
Ada berapa ribu kenangan dan kerinduan bersama keluarganya, yang berusaha Kania tepis? Nyatanya Kania masih saja menghadirkan rindu untuk mereka.
Sayangnya, Kania menyimpan kerinduannya seorang diri, tak mengijinkan siapapun mengetahuinya.
Sebuah desa terpencil yang sulit di jangkau oleh tekhnologi, adalah sebuah tempat yang di pikir keluarga Mahardhika, tak memungkinkan Kania berada di sana. Kania tak lagi membutuhkan kenyamanan hidup dengan segudang gaya dan bergelimang harta. Yang Kania butuh adalah tempat asri dan ketenangan batin di sini. Meski desa ini adalah desa kecil, tapi semua penduduknya bersikap ramah dan memiliki ketulusan yang murni pada Kania. Jauh dari kata penyakit hati dan intrik kotor.
Dan hari ini seperti biasa, Kania membawa Anika keluar rumah dengan menggendong Anika. Mengunjungi tetangganya yang tepat di samping kanan rumahnya. Mbak Sri namanya. Wanita dewasa yang telah banyak menolong Kania. Menjadikan Kania sebagai saudara meski ia dan suaminya tak tau darimana Kania berasal. Yang mereka tau, Kania berasal dari kota.
"Mbak Kania, hari Minggu besok kang Jaka mau ke kota sekitar dua hari untuk mengurus sesuatu. Mbak Kania nginep di sini, ya?"
Mbak Sri, wanita yang punya satu anak di usianya yang masih tiga puluh empat tahun.
"Boleh, mbak. Memangnya, kang Jaka ada perlu apa?"
Kania berjalan mendekati mbk Sri sambil mengayun-ayunkan Anika.
"Katanya ada urusan dengan bos besarnya di kota yang jauh. Kota apa ya namanya?
Entah, mbak Sri lupa".
Kania tersenyum kecil menanggapi. Wanita itu, memiliki kebiasaan lupa, bahkan untuk beberapa hal kecil.
"Mbak Kania kenapa?"
Tanya mbk Sri yang mendapati wajah Kania yang murung, meski Kania menutupinya dengan senyum lebar.
__ADS_1
"Memangnya, kelihatan banget ya, mbak Sri?"
"Iya".
"Aku kangen anak pertamaku, mbak Sri. Juga..... papanya anak-anak". Dan Kania tak mampu lagi menahan air matanya yang tiba-tiba membanjiri wajah nya yang kian cantik di usianya yang kian matang.
Kania menunduk, menyembunyikan kepedihan hatinya.
"Aku kangen... Kangeeeeenn sekali".
Bahu Kania bergetar. Ada pedih dan sarat akan kepiluan yang tak coba Kania sembunyikan. Hanya mbak Sri, hanya pada mbak Sri Kania menumpahkan keluh kesahnya. Nyatanya, mbak Sri bahkan lebih mengerti Kania di banding dengan keluarganya. Keluarga yang sama sekali tak mengindahlan bagaimana Kania berusaha bangkit dari kehancuran yang mereka ciptakan.
Kania meratap pedih. Apa yang ia lakukan, nyatanya tak memiliki arti di mata keluarga Mahardhika.
"Yang sabar ya mbak Kania.....Aku bukan orang kaya. Tapi, kalau mbak Kania butuh tempat untuk berkeluh kesah, percayalah, mbak Sri selalu ada buat kamu".
Di sinilah Kania berada, di tempat yang jauh dari keluarga, tapi merasa memiliki keluarga yang sesungguhnya.
**
**
Niko, tak mampu lagi menahan kesakitan di hatinya. Rasa rindu kian menyeruak dan mengikis kekuatan tubuhnya yang semula tegap, kini menjadi lebih kurus. Bila matanya kian cekung, pipinya kian tirus, dan lengan-lengan kokohnya kelihatan lemah tak bertenaga.
Tepat setahun sudah semenjak kepergian Kania. Meninggalkan berjuta luka tanpa ujung dan penyesalan tanpa akhir. Niko tak pernah lelah dalam meluangkan waktunya demi mengorek berbagai informasi mengenai keberadaan istrinya.
Kini, Niko menyadari bahwa tanpa Kania nya yang barbar, hidupnya semakin terpuruk dan tak berdaya. Tanpa nilai tanpa arti.
"Kemana lagi aku harus mencarimu, sayang? Dimana kamu sekarang? Bagaimana keadaanmu? Bagaimana keadaan anak kita? Apa dia lahir dengan selamat? Jangan meninggalkanku terlalu lama.
Jangan menghukum ku terlalu kejam. Tak genap satu bulan aku mengacuhkanmu, tapi kamu bahkan menghukum ku dengan nggak bisa melihatmu selama setahun ini. Ku mohon. Pulanglah....."
__ADS_1
Rintihnya dengan air mata yang seolah tak pernah kering. Beragam sikap buruknya yang dingin dan berjarak pada Kania, kini kembali bertebaran dalam otaknya, seperti ribuan lebah yang mengitari kepalanya.
"Ku mohon pulanglah, sayang. Aku menyesal. Sudahi hukuman ini. Maaf kan aku. Ayo kita mulai semuanya dari awal. Beri aku kesempatan sekali lagi".
Ibu Niko yang memang tinggal di sini demi membantu mengasuh Fatih, muncul ketika mendengar rintihan Niko yang luruh ke lantai. Kebetulan pintu kamar Niko tak tertutup sepenuhnya. Hati seorang ibu, akan jatuh ke dasar bumi ketika melihat kehancuran anak lelaki yang di banggakannya.
"Bangunlah, nak".
Ucapnya sembari merangkul kedua bahu putranya. Niko yang mengetahui ibunya tiba-tiba ada di sampingnya, terkesiap.
"Bu.... aku mau Kania kembali, Bu. Aku mau dia kembali. Apa dia nggak rindu aku dan Fatih? Bantu aku menemukannya, Bu".
Tangis Niko. Dia sama sekali tak bisa lagi menjadi sosok tangguh saat Kania pergi seperti ini.
"Kania tidak sepenuhnya salah, nak. Dia memang meninggalkanmu. Tapi kepergiannya ini, adalah andil dirimu yang membuatnya nggak tahan berada di rumah."
Ibu Niko tersenyum sembari mengusap pelan kedua bahu putranya.
"Ibu marah sama kamu. Sama seperti kamu yang marah pada Kania. Tapi ibu tau batasan ibu. Bedanya, kamu melewati batasanmu. Kalau kamu kecewa sama istrimu yang bersalah karna membuat kesalahan, bahkan ibu jauh lebih kecewa karna kamu memperlakukan seorang wanita, dengan tidak baik."
Ibu Niko ikut menangis, membayangkan Kania melahirkan dan merawat anak keduanya hanya seorang diri.
"Niko menyesal, Bu". Niko terisak.
"Bersumpah lah pada ibu, Niko. Jika nanti Kania kembali, jangan lagi membuatnya sendiri dan kamu abaikan. Karna sebesar dan sefatal apapun kesalahan seorang istri, maka kewajiban suami adalah meluruskan dan mendidiknya, menuntunnya menuju surga bersama-sama. Bukan justru meninggalkan nya sendiri, bahkan tak menganggapnya.
Itu bukan pelajaran yang sesungguhnya".
"Niko bersumpah, bu. Niko ingin memperbaiki semuanya".
🍁🍁🍁
__ADS_1
Lanjut nggak? Lanjut nggak?🥰🤣