
Hari ini cuaca cerah. Suara kicau burung mengalun merdu mengiringi sinar mentari yang perlahan merangkak naik. Seperti semangat yang jua tengah berkobar pada Kania.
Gadis berperawakan jenjang nan berparas ayu itu, sengaja bangun lebih pagi hanya untuk membuat sarapan untuk keluarganya. Bahkan kakak iparnya pun belum terlihat turun dari tangga.
Dengan semangat luar biasa seperti hari-hari sebelumnya, Kania sengaja memasak dalam jumlah banyak. Bahkan menyiapkan dua rantang sekaligus untuk ia bawa dan di persembahkan pada ayah dan bunda Niko, calon mertuanya.
Huahahahaha...
Percaya dirimu terlampau tinggi Kania.
Tak lama, suara Nawal menuruni anak tangga dengan penampilan yang sudah rapi. Disusul Anjani di belakangnya, mereka berjalan beriringan layaknya sepasang sahabat. Penampilan dan tubuh Nawal yang sering di rawat, membuat ia terlihat lebih muda dari usianya.
"Pagi, ma. Pagi, kak Anja". Ucap Kania menyapa mama dan kakak iparnya. Mereka tersenyum dan nampak menghampiri Kania.
"Pagi adik ipar". sahut Anjani, Nawal hanya tersenyum tipis membalas sapaan putrinya pagi ini.
Sesaat mereka terkejut dan saling tatap. Mereka berpikir, mengapa Kania memasak hingga sebanyak ini? Seluruh masakan hampir selesai. Namun, hari masih pagi.
"Kania, kamu masak banyak banget? Apa temen-temenmu mau main kesini?", Tanya Nawal tak habis pikir dengan putrinya itu
Kania menggeleng.
"Enggak kok, ma. Aku masak buat tiga orang diluar. Nanti ini di rantang mau aku bawakan buat mas Nik sama ayah dan bundanya. Kebetulan kemarin calon mertua aku datang. Kali aja kan mau lamar aku! Doain yang terbaik aja deh". Jawab Kania enteng tanpa beban. Senyum lebar menghiasi wajah cantiknya.
Nawal dan Anjani terperangah.
"Kania, kamu serius?", Tanya Anjani histeris. Nawal syok. Wajahnya memutih seputih kapas. Nafasnya tertahan.
Belum sempat Kania menjawab, Fandy muncul dari lantai atas menuruni tiap anak tangga berniat untuk lari pagi di sekitar komplek.
"Pagi semua". Sapa Fandy dengan senyum khas kebapakan. Di usianya yang sekarang, Fandy masihlah nampak menawan. Tak terlihat seperti kakek-kakek pada umum hinya meski ia telah memiliki cucu.
"Papa....." Jerit Nawal setelah kembali bisa menguasai diri. Semua mata menatap Nawal bingung.
"Ada apa sih, ma? Pagi-pagi kok udah teriak-teriak. Sana masak gih", kata Fandy lembut.
"Semua makanan udah Mateng, pah", jawab Anjani. Fandy pun mengangkat tangannya, melihat waktu apakah sekarang sesiang ini? Padahal rencananya Fandy berniat lari pagi dulu.
"Ini masih pagi". Sahut Fandy keheranan.
"Pa, kayaknya Kania beneran gila deh pa. Mama khawatir. Ayo pah, periksakan Kania. Bawa dia ke psikolog. Mama nggak mau punya anak cantik-cantik gila".
__ADS_1
Tersangkanya mengernyitkan kedua alisnya.
Gila? Siapa yang gila? Kania merasa sehat dan dirinya baik-baik saja.
"Mama ngaco, pah. Mana ada Kania gila? Kania sehat kok." Jawab Kania serius dengan meletakkan makanan-makanan hasil masakannya tadi ke dalam rantang.
"Maksud mama, apa?" Tanya Fandy yang sedari tadi tidak tau ceritanya. Nawal melirik pada Anjani. Menyuruh Anjani memberikan penjelasan.
"Kania masak banyak pagi-pagi untuk mas Niko, pah. Kata Kania kemarin ayah dan bunda mas Niko datang dari kampung. Jadi, Kania sengaja mau anter makanan buat mereka". Fandy terkesiap karna penjelasan menantunya. Bagaimana mungkin putrinya sekarang sudah sedekat itu dengan Niko dan keluarganya? Fandy mulai pening di buatnya.
"Kamu nggak berangkat kuliah?" Tanya Fandy pada Kania.
"Kuliahku nanti siang jam 10 pah. Tenang aja. nggak bakalan ganggu waktu belajarku kok. Yaudah ini kak Anja minta tolong bawain ini ke meja makan yah. Dua rantang ini mau aku bawa buat mas Niko. Sekalian aku sarapan disana aja entar.". Ungkap kania yang sudah mulai beranjak ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Nawal hanya bisa mengomel dengan diikuti Fandy di belakangnya yang memijit pelipisnya yang terasa pening.
.....................
Kania, membelah jalanan kota Banyuwangi sepagi ini. Di pagi seperti sekarang ini, jalanan terasa lengang dan tak terlalu ramai. Udara masih terasa sejuk karna tak banyak kendaraan berlalu lalang.
Sebenarnya, Kania bukannya tidak sakit hati atas penolakan Niko yang kesekian kalinya. Ia adalah gadis yang rapuh, sama seperti gadis lainnya. Namun, ia hanya bisa menebalkan muka untuk menutupi kerapuhan yang ia miliki.
Sesampainya di halaman rumah kost Niko yang tak besar itu, Kania turun dari mobil yang di kendarainya. Dengan membawa dua rantang yang ia bawa dari rumah, Kania dengan percaya diri melangkah mendekati rumah Niko. Seperti tak terjadi apa-apa kemarin.
"Assalamualaikum", Sapa Kania canggung pada ayah Niko yang saat itu berdiri menyambutnya. Pria paruh baya itu, bahkan rela menghentikan aktifitasnya membersihkan halaman dari rumput liar.
"Wa'alaikum salam. Nak Kania.....datang sepagi ini?".
"Iya ayah..." Bahkan Kania merubah panggilannya yang kemarin memanggil pak, kini menjadi ayah. Ayah Niko tersenyum merasa aneh di panggil ayah oleh gadis asing yang tak pernah ia temui ini. "Kania bawain sarapan buat ayah sama bunda."
"Buat Niko, tidak ada?".
"Ya ada dong, yah....." Jawab Kania lembut, "Spesial malah". Lanjutnya dengan senyum lebar. Ayah Niko hanya tersenyum menanggapi tingkah calon menantunya ini.
"Kamu bisa aja",
"Ngomong-ngomong, kok sepi. Bunda sama mas Nik, kemana?", tanya Kania sambil mengedarkan pandangannya.
"Mereka pergi ke pasar. Biasa lah belanja untuk masakan. Ehh....itu sudah datang si Niko". ujar ayah Niko sembari menunjuk ujung jalan.
Kania tersenyum lebar.
__ADS_1
"Assalamualaikum.... eeh ada calon mantu to ini?" Kelakar bunda Niko sembari melirik putranya yang memutar bola matanya dengan malas setelah tau Kania datang sepagi ini.
"Iya, bunda. Ini Kania bawain makanan buat sarapan bunda, ayah sama mas Niko".
"Waduh, jadi ngrepoti. Maaf ya nak. Tapi ya nggak apa-apa deh. Mumpung bunda belum masak juga. Pasti enak nih masakan calon mantu". Sahut ayah Niko yang begitu antusias .
"Aku masuk. Capek, mau tidur lagi". ungkap Niko sembari nyelonong masuk tanpa menyapa Kania yang memandanginya sedari tadi.
"Mas Niko, mandi dulu gih, sarapan".
"Kamu siapa ngatur-ngatur?", Tanya Niko dengan nada ketusnya.
"Calon mantunya bunda, iya kan Bun?", jawab Kania cepat sembari mengalihkan tatapannya pada bunda Niko yang mulai salah tingkah.
Tak ada jawaban dari siapapun. Tanpa menunggu lagi, Niko masuk dan Kania segera meletakkan dua rantang tadi diatas meja di teras rumah, berniat mengejar Niko.
"Mas nik kalau nggak mau mandi dan maunya tidur lagi, aku temenin loh tidurnya. Aku seriusan loh ini. Nggak ada kan sejarahnya Kania main-main?". Kata Kania setengah berteriak.
Niko pun reflek menghentikan langkahnya dan melotot ke arah Kania.
"Kita belum nikah Kania." Jawab Niko dengan erangan frustasi. Lama-lama, Niko bisa terkena serangan jantung ataupun stroke di usia muda jika harus menghadapi Kania setiap hari.
"Kalau gitu, halalin aku!".
Bunda yang mendengar perdebatan itu mendadak syok dan menjatuhkan kantong kresek yang di bawanya dari pasar tadi.
"Ayah, kayaknya bentar lagi kita bakalan punya mantu beneran", ucap bunda dengan jerit tertahan.
"Ayah pusing bunda. Gimana kalau orang tua gadis itu tak menerima Niko?".
"Dicoba saja dulu, pak. Daripada mereka seperti ini terus?".
🌹🌹🌹🌹🌹
Kakak reader, menurut kalian, harus diapakan gadis bengek kayak Kania ini?😄
Salam segalanya dari neng Tia.....😚
Jangan lupa mampir juga ke karya terbaruku yang penuh dengan kata puitis ya....
Luka di balik Jelita
__ADS_1