PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 32


__ADS_3

Sepagi ini, Anika turun dari tangga dengan masih mengenakan piyama tidurnya yang tampak kusut. Wanita itu menyapa Vio yang sejak tadi merengek dan meminta digendong olehnya. Tak lupa, Anika juga meraih putrinya dan dibawanya ke dalam gendongannya.


"Vio sudah Sapan, Sis?" Anika memandang Siska, pengasuh putrinya yang mengangguk.


"Sudah, Bu. Tapi kata Bu Kania, Vio mau diajak Bu Kania dan Pak Niko untuk keluar jalan-jalan." Ujar Siska.


"Ya udah. Kamu pasti masih ada sisa lelah kemarin-kemarin. Maafkan aku, ya?"


"Nggak apa-apa, Bu. Oh ya, Bu. Di ruang tamu, ada adiknya pak Dewa datang, juga . . . sama ibunya pak dewa, Bu." Anika gak akan terkejut lagi mendengar pengakuan Siska.


Seperti biasa, Anika yang selalu disambut baik oleh keluarga Dewa, termasuk mama dan papa Dewa, juga Diana Dwi Sinatra yang selalu menyayangi Anika selayaknya saudari kandung, bukan layaknya ipar.


"Sejak kapan?" Tanya Anika kemudian.


"Agak baru sih, Bu. Itu juga sebenarnya Bu Kania mau jalan, tapi berhubung ada keluarga pak Dewa datang, jadi ditunda. Ibu mau menemui mereka?" Tanya Siska kemudian.


"Ya. Tapi saya mau bersihkan diri dulu. Bawa Vio jalan-jalan dulu sebentar di taman belakang."


"Baik, Bu."

__ADS_1


Anika berlalu, kembali ke dalam kamar, sembari merasakan hatinya nyeri membayangkan keluarga Dewa yang sangat menyayanginya, juga ikut terluka. Anika tak bisa membayangkan, akan seperti apa hubungan mereka setelah ini.


Setelah lama Anika membersihkan diri, wanita itu keluar kamar mandi, berganti pakaian dengan mengenakan dress rumahan berwana putih tulang yang pas di tubuhnya. Tak lupa, wajahnya yang sembab itu ditutupi dengan make up ringan dan natural.


Setalah menghembuskan nafas beberapa kali, Anika segera keluar rumah. Tampak sekali wanita itu menahan kesedihan dengan terus mengulas senyum palsu.


"Teh Nika......" Diana, adik Dewa dengan tubuh tinggi semampai dan kulit putih bersih seperti Anika itu, bangkit dari kursi dan memeluk Anika dengan erat. Sungguh, meski mereka bukan keluarga sedarah dan hanya sebatas ipar, namun itu tak membuat rasa sayang keduanya seperti orang lain.


"Diana, kamu kapan datang?" Tanya Anika yang kuasa menahan tangis, sambil disusul Diana yang juga terseguk.


"Semalam, teh. Mama dan papa maksa ikutan meski mama lagi sakit. Semenjak mendengar kabar perbuatan aa', mama sakit, teh." Diana memeluk erat, seolah tak ingin melepaskan Anika begitu saja.


Tak lama, Diana melepas pelukannya sambil menangis. Anika yang menghampiri ibu mertua sekaligus ayah mertuanya itu, kembali memecahkan tangis.


"Ma, pa....." Anika memeluk mama dan papa Dewa bergantian. Inilah yang membuat Anika tak rela, melepas orang tua Dewa. Bila melihat bagaimana kelakuan Dewa yang keterlaluan, Anika tak akan pikir panjang untuk melepaskannya. Tapi tidak dengan keluarga Dewa yang sudah sangat menyayangi Anika.


"Sayang, ya ampun. Maafkan mama, maafkan papa yang nggak bisa mendidik Dewa dengan baik." Sonya, mama Dewa memecahkan tangis. Matanya yang sembab, seolah semakin sipit. Maklum saja, Anika adalah menantu kesayangan Sonya yang tak pernah berulah.


"Bukan salah mama dan papa. Semua yang terjadi atas kehendak Dewa, ma. Mau bagaimana lagi? Anika pun nggak akan mau kalau untuk bersaing dengan sepuluh sendiri." Ungkap Anika sambil mengusap pelan punggung ibu mertuanya itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Anika melepaskan pelukan ibunya dan memeluk ayah mertuanya yang sangat mengkhawatirkannya.


"Anika, atas nama Dewa, papa minta maaf. Papa janji, papa akan beri dia pelajaran. Papa mohon, nak. Jangan membenci kami. Papa mohon agar kamu berbesar hati tetap menerima kami sebagai orang tua meski kamu membenci Dewa." Roy Sinatra menggenggam lembut kedua jemari Anika.


Tentu saja hati Anika selalu rapuh jika sudah dihadapkan dengan keluarga Dewa.


"Mari duduk ma, pa. Ayo Diana. Kita duduk." Anika menuntun keluarga Dewa yang menangis sesegukan, terutama mama dan adik Dewa, Diana.


"Anika sayang mama, papa, Diana juga. Tolong, meski harus seperti ini, meski nanti Anika pisah sama Dewa, tolong tetap sayangi Anika, dan jangan sampai putus silaturrahmi. Anika sayang sama mama, papa, juga Diana. Anika janji, Anika akan sering berkunjung kesana jika sedang rindu."


Sonya yang semula duduk di dekat Anika, kini merapatkan tubuhnya dan semakin menangis mendengar permintaan Anika. Tak peduli ada Niko dan juga Kania yang menatap sendu ke arah putri dan juga besannya yang sangat menyayangi Nika dan Vio.


"Terkutuk si Dewa." Batin Roy menggeram marah.


Baru saja Niko hendak membuka suara, Dewa datang mengetuk pintu. Lelaki itu benar-benar berat pada Anika meski Anika sudah mengizinkannya menikahi Vanya. Terlebih, papa dewa juga menyusul ke kota istrinya.


Setelah mengucap salam yang hany dijawab oleh Anika dan Niko, Dewa melangkahkan kakinya.


"Anak durhaka. Kau biadab!!" roy meraih Dewa, menghajar Dewa habis-habisan untuk melampiaskan kemurkaannya.

__ADS_1


Roy memukul bagian perut Dewa, sebelum ia menghadiahi pukulan di rahang dewa. Di saat bersamaan . . . .


**


__ADS_2