
"Lain kali, kalau mau cari perhatian, main cantik ya. Dan cari tau dulu latar belakang calon mangsa kamu. Kamu bukan tandingan aku. Dan kalau kamu benar-benar baru dalam melonthe, sini aku kursusin!!".
Tanpa menunggu jawaban wanita itu, Kania lantas bergegas pergi dengan menarik lengan Niko yang masih tercengang. Setengah terkejut bercampur was-was, Niko lantas menghentikan langkah mereka, ketika mereka sudah tiba di depan meja kasir.
"Apa!?!?".
Kania menatap garang pada Niko. Ia kesal sekaligus jengkel lada suaminya yang bisa-bisanya, mudah di manfaatkan orang lain.
"Astagaaaa sayang, kamu ini kenapa sih? Aku cuma niat bantuin tadi. nggak lebih". Ucap Niko lirih dengan menekan intonasi suaranya.
"Kamu tulus bantuin dia, tapi dia sengaja memanfaatkan keadaan. Jadi kamu nggak usah sok baik." Tandas Kania. Niko sudah menyerah dan angkat tangan bila Kania sudah mengeluarkan tatapan tajamnya. Bukan karena Niko takut pada istrinya bukan. Tapi saat ini situasinya mereka tengah berada pada lingkup keramaian. Niko tak mau mempermalukan dirinya dan istrinya.
....................
....................
Senja mulai menyapa ketika Nawal saat ini tengah di sibukkan dengan mengasuh Vanya, cucunya. Fandy baru saja tiba dari resto cabang yang usai di kontrolnya hari ini. Dengan wajah letih, Fandy tiba-tiba merasakan dirinya kembali bugar ketika Zhivanya yang berlari sembari berteriak-teriak menghambur ke arahnya.
"Opa...Opa......."
Balita putri pertama Kenan itu lantas menabrakkan dirinya ke tubuh Fandy, menyambut kedatangan sang opa dengan antusias.
"Wah.... cucu opa sudah bersih dan wangi, ya......
Sini, opa kasih hadiah ciuman".
Vanya terkikik geli saat Fandy menggelitik perut dan pinggang cucunya.
Nawal yang melihat interaksi keduanya, hanya tersenyum simpul.
"Mas, udah. Nanti Vanya sakit semua badannya".
Ucap Nawal sembari membawa makanan Vanya dan menghampiri suaminya.
__ADS_1
"Ya udah, aku mandi dulu. Oh, ya. Gimana keadaan Anja? Apa kata dokter?".
"Ken bilang Anja nggak apa-apa. Cuma kelelahan dan perlu istirahat total kata dokter".
Fandy tersenyum. Lantas jemarinya terulur membelai pipi istrinya lembut penuh sayang.
"Ya udah, kamu bersiap gih. Habis Maghrib, kita kerumah Kania. Ayah dan bunda Niko datang katanya tadi pagi".
"Iya, Kania juga udah ngabarin tadi".
Lantas Fandy menghilang menuju kamarnya melewati tangga. Seharian ini, ia merasa penat setelah seharian beraktifitas, seiring dengan banyak Resti miliknya yang berkembang cukup pesat.
Di lantai dua tepatnya di kamar Kenan dan Anjani, terjadi perdebatan di antara sepasang suami istri itu. Anjani yang enggan memakan se-suap pun makanan, sedang Kenan yang bersikeras agar istri nya makan.
Sebagai ibu muda yang tengah mengandung anak ke dua, Anjani kali ini tiba-tiba merasakan, dirinya tak ingin makan apapun, meski usia kandungannya kini telah memasuki trimester ke tiga. Padahal, awal-awal ia mengandung tak se aneh ini.
"Nja, kalau kamu nggak mau makan, anak kita dapat nutrisi dari mana?"
Keluh Kenan yang sudah beberapa kali membujuk Anjani untuk makan.
Anjani menjawab dengan nada suara lemas.
"Aku udah makan dua kali hari ini. Tinggal kamu yang belum makan. Ayo makan dulu, yuk".
"Mas, aku udah bilang nggak mau makan".
"Nja, please".
"Nggak mau, mas".
"Kamu nggak sayang aku, ya?"
"Kamu yang nggak sayang aku. Kalau kamu sayang, kamu jangan maksa, dong".
__ADS_1
Kenan menghembuskan nafasnya kasar dengan wajah lelah.
"Kalau kamu nggak makan, nanti nggak sembuh-sembuh, loh".
"Ya udah aku makan sedikit, tapi ada syaratnya".
"Apa? Apapun itu asal kamu mau makan meski dikit".
Anjani tersenyum licik ke arah Kenan. Entah mengapa, dirinya tiba-tiba ingin mengerjai Kenan saat ini.
"Aku mau makan bebek goreng rica-rica, tapi kamu yang masak ya, mas?".
Kenan melotot dengan menahan nafasnya beberapa detik sebagai bentuk keterkejutannya kali ini. Pasalnya, Kenan sangat benci dengan hewan yang satu itu. Di, sewaktu usianya delapan tahun, ia pernah bermain di ladang eyang Uti nya di Pasuruan, dan berakhir ia dikejar-kejar bebek piaraan tetangga eyang Uti.
Dan hal itu Anjani ketahui, ketika Nawal menceritakan kejadian beberapa tahun lalu itu pada menantunya.
"Kamu jangan ngadi-ngadi, nja. Kita beli aja di resto papa, ya. Di sana di masak sama chef yang berpengalaman. Aku nggak bisa masak. Bisa gosong entar bebeknya".
Kenan berusaha membujuk istrinya demi pertahannya.
"Apapun hasil dan bentuknya, tetep aku makan kok mas. Biar kayak kopi gosongnya, aku seduh nanti pakai air panas".
Aneh. Apa yang di minta Anjani pada suaminya ini, termasuk dalam definisi permintaan teraneh yang pernah Kenan ketahui.
"Tapi......"
"Aku maunya sekarang, mas. Kalau kamu menolak, aku nggak akan makan". Ucap Anjani manyun.
Berhasil. Hal itu terbukti berhasil membuat Kenan mau tak mau menuruti permintaan istrinya yang membuatnya bergidik sendiri.
"Ya udah. Aku buatin buat kamu. Demi kamu".
Ungkap Kenan dengan lesu.
__ADS_1
.........
Hayyo, di part berikutnya bakal ada keseruan Kenan dan Anjani, ya. Yang penasaran, di tunggu aja. 😘😘❤️🥰