PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 44


__ADS_3

"Seburuk dan sejahat apapun bentuk dan sifat anak, tidak ada orang tua yang akan membenci darah daging mereka. Seburuk dan sebesar apapun kesalahan orang tua, mereka tetap orang yang membuat anak hadir ke dunia, membesarkan dan melimpahi banyak kasih sayang terhadap anak-anaknya. Jangan terlalu lama memendam luka dan kecewa, terlebih pada keluarga. Cobalah berdamai agar hati kamu nggak lagi sakit. Biar bagaiman pun, keluarga memiliki peran yang sangat besar untuk Kania. Coba cerna, apa yang baru saja ayah katakan pada Kania".


"Kalau memang ada kesenjangan pendapat dalam keluarga, tolong.... ayah minta tolong bicarakan baik-baik, nak. Jangan di pendam, dan di simpan sampai membuat kamu nggak kuat. Ayah tau kalau ayah juga, kadang nggak sempurna dalam mendidik Niko. Tapi tanyakan pada papa Fatih itu, apa pernah Niko berselisih dengan kakaknya di kampung?


Bukannya ayah berbangga diri karena berhasil mendidik anak-anak ayah. Tapi cobalah lihat dari sudut pandang yang berbeda. Saling terbuka dan saling memahami, itu satu-satunya kunci keutuhan dalam keluarga." Sambung ayah lagi.


Bunda yang menyadari bahwa Kania sedari tadi hanya menunduk, merasa curiga. Dan benar saja, ketika bunda meraih kedua bahu Kania, Kani mendongak dan matanya sudah berlinang kembali dntgan air mata.


"Menangis lah, tumpahkan semua emosi Kania hari ini. Tapi ingat, nggak boleh kalau untuk lain kali, ya".


Bunda menambahkan. Wanita bertubuh gemuk itu memeluk erat Kania, seperti ia memeluk putrinya sendiri.


Sebenarnya, ide untuk jalan-jalan hari ini adalah ide bunda. Dimana bunda dan ayah ingin menasehati Kania, namun juga sekaligus menghibur menantu kesayangannya itu.


Bukannya ayah dan bunda tidak percaya pada Niko dalam mengurus dan mendidik istrinya. Namun kali ini, ayah merasa bahwa harus membantu anaknya untuk menyadarkan menantunya. Bukannya mau ikut campur, tapi semua ayah lakukan demi membuat Kania tidak salah jalan akibat durhaka pada mama dan papanya.


"Makasih ayah, bunda. Kania janji akan memperbaiki diri Kania. Meski Kania nggak bisa janji, bisa melakukannya dalam waktu dekat."


"Syukurlah. Ada kemauan saja untuk menantu bunda agar berubah, sudah membaut ayah dan bunda bahagia". Kemudian bunda beralih menatap ayah.


"Iya kan, yah?".


"Iya. Kamu benar-benar anak yang hebat. Kamu.... mantu kesayangan ayah dan bunda".

__ADS_1


**


Nawal dan Fandy tengah memandangi Vanya yang kini bermain di ruang keluarga lantai atas. Kemudian mereka menatap Anjani yang baru keluar dari kamarnya, dengan mengendong putra bungsu Kenan.


Di belakang Anjani, Kenan muncul dengan menari sebuah koper besar berisi pakaiannya dan Anjani. Di dalam kamar, juga masih ada beberapa koper yang akan ia bawa keluar.


"Kamu yakin nggak nunggu sampai renovasi rumah yang baru kamu beli selesai, Ken?".


Mama Nawal bertanya yang entah untuk yang ke berapa kalinya. Kenan tersenyum dan menyadari bahwa Nawal begitu berat melepasnya dan Anjani untuk tinggal terpisah dari Nawal dan Fandy.


"Yakin lah, ma. Mama udah tanya ribuan kali dari kemarin. Lagian ini hari baik buat pindah rumah. Dan kita di sana juga ada art dan pengasuh anak-anak."


Ucap Kenan sedikit jengah dengan pertanyaan mama yang berulang kali.


Nawal menghembuskan nafasnya kasar. Sedang Fandy mencoba memperhatikan putranya dengan pendanaan sendu. Ada rasa berat yang menimpa nya ketika harus melepaskan Kenan untuk tinggal terpisah darinya.


"Iya, pa."


Mereka kemudian duduk berdampingan sambil memperhatikan Vanya yang sedang asik bermain.


"Hati-hati kalau kalian sudah menempati rumah yang jauh dari papa dan mama. Papa harap, kalian tetep jaga diri baik-baik selama jauh dari kami.


Jujur, papa sama sekali nggak menyangka akan seperti ini. Kamu dan Kania.... sama-sama anak papa".

__ADS_1


Fandy memandang Kenan dengan wajah teduhnya. Tatapan matanya sendu.


"Kadar rasa sayang papa dan mama ke kalian, itu sama, Ken. Tapi entah, tanpa sadar papa memang menyadari tentang perbedaan perlakuan kami ke kalian, setelah Kania memuntahkan segala uneg-uneg nya beberapa hari yang lalu.


Jujur, papa sebenarnya nggak punya muka untuk ketemu sama putri papa yang dulu manja itu.


Tapi biar bagaimana pun juga, papa akan tetap mengunjungi adikmu". Imbuhnya lagi.


"Papa kalau ke sana aku ikut ya, pa. Biar bagaimana pun, cuma Kania saudari Ken satu-satunya. Ken akan berusaha bagaimana pun caranya untuk mengembalikan keceriaannya."


Kenan menimpali.


Anjani hanya diam. Lebih tepatnya melamun dan tak menyimak apa yang suami dan mertuanya katakan.


Ia teringat dan begitu rindu pada sosok ibunya. Semenjak Kania menunjuknya sebagai perebut perhatian Nawal dan Fandy, Anjani merasa tak enak hati.


Memang benar Nawal dan Fandy memanjakan Anjani selama menjadi istri Ken, namun Anjani tidak tau jika itu justru menjadikannya sebagai pihak yang di salahkan.


Bel pintu berbunyi. Nawal segera bangit dan menuju pintu utama. Keningnya berkerut heran ketika tak ada asisten rumah tangga nya yang membukakan pintu.


Tenggorokan Nawal tercekat ketika melihat putrinya berdiri di sana dengan senyum hangat.


Benarkah ini Kania? Bukankah terakhir kali ia bertemu Kania, Kania mengamuk dan kalap. Akhirnya dia pulang tanpa berpamitan pada Kania.

__ADS_1


"Ma.... Kania datang, ma. Kania kangen sama mama papa, dan.... mas Ken".


🍁🍁🍁


__ADS_2