PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 2. 36


__ADS_3

Kania baru saja terlelap dan hendak mengistirahatkan seluruh tubuhnya, ketika Niko dengan tidak tau malu, mencium keningnya. Kania tak ingin di sentuh-sentuh oleh Niko untuk saat ini. Dan dengan gerakan gesit akibat perasaan murkanya, Kania menampar suaminya dengan kekuatan penuh tenaga.


Plakkkk.......


Kania meradang. Matanya berkilat penuh amarah. Bisa-bisa nya Niko ini mengambil kesempatan dalam keadaan seperti ini.


Niko yang merasakan panas menjalari sekujur lili kirinya, mendesis pelan. Tamparan Kania sangat kuat meski tubuh Kania lebih kurus dari setahun yang lalu.


"Apa yang kamu lakukan? Aku baru akan tidur dan kamu mau mengambil kesempatan. Mengijinkan kamu tidur di sini itu adalah suatu keajaiban yang langka, tapi kamu sudah melewati batasanmu.


Keluar!!"


Hardiknya dengan suara kasar. Beruntung Fatih hanya menggeliat dan kembali memejamkan mata.


"Tapi kita masih suami istri".


"Hanya di atas kertas, jangan lupa itu!! Tiga bulan lebih kamu nggak nafkahi aku, kita bukan lagi suami istri, mas."


"Kalau gitu, ayo kita rujuk".


"Aku nggak Sudi!"


"Lalu, harus dengan cara apa aku mempertahankan rumah tangga kita, Kan.....?"


Niko tampak tersenyum lemah. Matanya menatap sendu ke arah istrinya. Bayangan dulu Kania begitu memujanya, kembali memenuhi rongga kepalanya. Niki rindu saat-saat hangat seperti itu.


"Aku tau kesalahanku begitu fatal dan nggak bisa di maafkan olehmu, tapi aku nggak pernah bisa kalau sampai kamu menyerah dan berhenti berjuang untuk keutuhan rumah tangga kita".


Imbuh Niko lagi, sebelum kemudian ia berlalu pergi dari sana. Meninggalkan Kania yang mematung di tempatnya, dengan air mata yang belakangan ini, demikian murah untuk tumpah. Kania menangis lagi.


**


**

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Kania dan putrinya, mas? Ya tuhan, hidup sendiri tanpa suami ketika mengandung hingga selesai melahirkan, bukan lah sesuatu yang mudah".


Anjani menatap suaminya dengan perasaan yang berkecamuk dan tatapan sendu. Bayangan ketika dirinya dahulu yang hidup sendiri ketika Kenan mencampakkannya, kembali berkelebat di kepalanya.


"Nggak cukup baik. Adikku itu makin kurus dan kulitnya sedikit lebih eksotis. Tapi tetep secantik dulu, sih. Kamu tau, sayang...... putrinya bernama Anika Humaira. Wajahnya sangat mirip dengan Niko. Benar-benar mirip".


Kenan nampak antusias ketika menceritakan tentang keponakannya yang lucu dan imut itu.


"Sayangnya, baik mama, papa, aku dan Niko nggak di ijinkan ya untuk menyentuh anaknya sedikitpun. Hanya saat Kania pingsan mama punya kesempatan untuk menggendong cucunya."


Anjani bisa memahami bagaimana terguncangnya Kania. Meski keluarga Mahardhika memiliki alasan mendiamkan Kania setahun lalu, namun tindakan itu bagi Anjani tak bisa di benarkan juga.


"Aku paham perasaan Kania, karna aku juga seorang ibu, mas. seorang wanita, dan seorang istri. Andai aku mengalami apa yang terjadi pada adikmu, mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Jadi, aku harap kita nggak putus harapan untuk mendapatkan maaf darinya".


Tambah Anjani lagi. Kenan semakin tersenyum dan menimang-nimang putranya yang terlelap dalam gendongannya. Bayi yang berumur setahun itu, begitu nyaman berada dalam dekapan ayahnya. Bayi yang Kenan beri nama Arkan Dwija Mahardhika.


"Aku nggak tau kala akhirnya, masalah Dira yang di jual Kania itu, membongkar semua uneg-uneg dan beban batin yang selama ini Kania miliki, nja. Aku merasa papa dan mama juga sebenarnya sayang sama Kania. Hanya saja, mungkin cara mereka di mata Kania memang terlihat berbeda. Yang jelas, aku sama sekali nggak merasakan hal yang aneh, sih.


Entahlah, aku hanya ingin Kania kembali ceria seperti dulu lagi".


"Yang sabar ya, mas. Kania pasti akan kembali seperti dulu. Hanya perkara waktu saja yang mampu membuat Kania mungkin berubah pikiran."


"Ya. Semoga saja".


**


**


Di rumah Kania, Nawal tengah menyapu halaman rumah putrinya itu, setelah menyirami tanaman bunga di sudut halaman Kania. Rumah yang begitu asri dan menyejukkan itu, begitu mampu membuat Nawal betah berada di sini untuk berlama-lama.


Mbak Sri yang kebetulan baru tiba dari ladang, menyapa Nawal dengan wajah ceria. Kemarin ketika Kania pingsan, Nawal bahkan banyak bercerita tentang Kania pada mbak Sri. Bahkan, alasan kepergian Kania yang meninggalkan keluarga besar, anak dan suaminya.


"Bu Nawal, bersih-bersih, ya?".

__ADS_1


Sapa mbak Sri untuk pertama kali.


"Iya, mbak Sri. Mbak Sri dari ladang?"


Nawal menjawab dengan wajah tak kalah ramah.


"Iya, ini saya bawakan ubi sama pisang raja yang matang di pohonnya. Biasanya kalau ada pisang raja, sama ubi, mbak Kania suka bikin bolu pisang. Katanya, bolu pisang itu kesukaan suaminya, ya?"


Niko yang sedang mengecat pintu toko Kania, sontak tertarik ketika dungunya menangkayo kalimat yang baru saja mbak Sri katakan.


"Iya bener. Mantu saya memang suka bolu pisang. Makasih ya, mbak Sri".


Nawal menimpali dengan perasaan hangat. Rupanya, kepergian Kania sejak setahun lalu, tidak serta Merta membuat Kania lupa kebiasaan dan kesukaan suaminya.


"Iya sama-sama, Bu. Lho, pak Fandy nya, dimana?".


"Pulang, mbak Sri. Besok ada pekerjaan yang Ndak bisa di tinggal. Saya dan mantu saya, untuk sementara akan tinggal disini dulu."


Mbak Sri manggut-manggut mendengar penjelasan Nawal.


"Ya sudah, saya masuk dulu".


"Injeh, Bu....."


Nawal hendak masuk ke dalam rumah, ketika Niko menghentikannya.


"Ma, pisangnya biar Niko yang bawa. Nanti Niko minta mamanya Fatih buatkan bolu pisang. Sementara Kania sibuk, mama bisa deh gendong Anika nanti".


Ucap Niko yang tentu mendapat binar bahagia di mata Nawal.


"Ide bagus. Mulai hari ini, kita harus kerja sama membaut Kania kembali sama kita".


Niko mengangguk kan kepalanya. Dalam hati, ia bertekad akan membuat Kania nya luluh dan kembali padanya. Tak peduli berapa lama ia menunggu, Niko pasti sanggup menjalani. Niko berjanji pada dirinya sendiri.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2