
Kenan tengah menimbang-nimbang putranya. Putra yang baru berusia hampir satu bulan semenjak di lahirkan. Di sisinya, Anjani tengah menyuapi Vanya dengan pelan dan penuh kehati-hatian. Sedang di sofa di sudut ruangan, Nawal dan Fandy memandang mereka dengan pemandangan takjub.
Seperti itulah keseharian mereka. Kebahagiaan melingkupi seluruh keluarga yang tinggal di sana. Hanya saja, perasaan Fandy di dera rasa tak lengkap bahagianya, ketika menyadari bahwa Kania sudah seminggu ini tak mengunjungi kediamannya.
Hampir sebulan. Hampir sebulan sudah keluarga Mahardhika mendiamkan Kania dengan maksud, memberinya pelajaran akibat tindakannya yang sebenarnya, masuk dalam tindakan kriminal. Baik Niko, Nawal maupun Fandy, hanya ingin membuat Kania jera dan menyesali semuanya.
Ini adalah pekan ke tiga setelah pembebasan Dira yang di lakukan Fandy. Dan ini juga menjadi pekan ke tiga ia mengabaikan putri bungsu nya itu.
Ada harapan yang demikian besar yang Fandy dan Nawal pupuk untuk Kania sadar dan memperbaiki diri. Meski ini terasa menyakitkan bukan hanya bagi Kania, melainkan juga bagi mereka selaku orang tua. Beruntung, Niko menjalankan apa yang Fandy perintahkan. Toh semua maksud dan tujuan atas keputusan ini, demi kebaikan Kania juga.
"Gimana, pa? Apa Kania bener-bener nggak datang udah seminggu ini?"
Kenan sejujurnya sangat prihatin atas kejadian ini. Sebagai seorang saudara satu-satunya, Kenan cukup menyayangi Kania. Ia juga sangat paham bila di balik tindakan yang Kania ambil, memiliki maksud.
"Adekmu benar-benar nggak datang lagi, Ken. Mama sebenernya pusing banget sama Kania. Mama nggak ngerti lagi dengan jalan pikirannya. Andai Kania dulu jadi mau kuliah di luar negeri, mungkin tak akan seperti ini jadinya". Keluh Nawal.
"Yang sabar ya, ma. Kania pasti akan berubah lebih baik lagi".
Anjani menenangkan yang mendapat anggukan dari Nawal. Sejujurnya, jika boleh Nawal meminta, ia ingin Kania yang dulu lolos dan ceria, di kembalikan. Tali entah, perkembangan Kania yang menakutkan ini, membuat Nawal menjadi terkuras emosinya hanya pada seorang putri nya.
"Dan sepertinya, dalam kurun waktu yang cukup lama ini, mama dan papa udah cukup memberinya hukuman. Bagaimana pun, Kania masih muda dan emosinya masih labil.
Sebenernya, Anja nggak tega juga melihatnya sehancur itu. Biar bagaimana pun, niat dan motifnya juga untuk kebaikan kakaknya".
Sambung Anjani lagi dengan lirih.
Ada rasa iba sekaligus khawatir yang merayapi hati Anjani ketika ingat bahwa, belakangan Kania semakin murung. Dan kesehatannya juga seperti nya sedikit terganggu.
"Mama dan papa seperti ini karna kami sayang sama Kania. Hanya saja, Kania juga yang menyebabkan mama dan papa seperti ini".
Nawal meratap dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Tapi bukan hanya Kania yang salah, ma. Mama dan papa juga udah keterlaluan memperlakukan Kania.
__ADS_1
Sudahi saja ego kalian yang terlampau tinggi.
Bagaimana pun, Kania butuh kita semua untuk menjadi tempatnya berkeluh kesah."
Kenan bersuara dengan bijak.
Sebenarnya, belakangan Ken diam-diam mengunjungi Kania sebanyak dua kali. Sayangnya, Kania terlihat lebih berjarak.
Tanpa Kenan sadari, bahwa alasan Kania memasang jarak diantara dirinya dan Kania, adalah karena kesalahan yang Kania lakukan demi Kenan.
Kania seperti membenci Kenan secara tak langsung.
"Baiklah. Papa dan mama akan mengunjungi Kania besok."
Tegas Fandy. Membuat Kenan dan Anjani menarik nafas lega.
**
**
Terdengar hembusan nafas kasar beberapa kali dari Niko. Menghukum istri yang di cintai, nyatanya bukanlah perkara mudah. Tiga Minggu bukanlah waktu yang sebentar baginya tidak berinteraksi seperti biasanya dengan istri yang amat sangat di cintainya itu.
Kondisi Kania bisa di bilang tidak baik-baik saja selama kurang lebih dua Minggu ini. Bukan hanya fisiknya saja yang kekurangan asupan makanan, bahkan psikisnya juga mengalami tekanan yang amat dahsyat. Hingga membaut Kania mau tak mau, kini menutup diri selama seminggu terakhir.
Awalnya, Niko hanya meminta mbak Sari, sang pengasuh Fatih, untuk mengawasi Kania dan memperhatikan aktifitas dan kebutuhan istrinya itu. Tapi semakin kesini, mbak Sari justru menyampaikan bahwa Kania sedang tak baik-baik saja.
Niko tau. Sangat tau.
Waktu telah menunjukkan pukul 23.00, dan Niko masih setia menyendiri di ruang kerjanya. Ia memutuskan untuk kembali membangun hubungan baik dengan Kania esok hari. Pagi-pagi sekali, ia akan menghampiri istrinya itu di kamar putra mereka, membangunkan Kania dan mengecupnya lembut.
Untuk malam ini, biarlah Niko menghabiskan waktunya untuk merenung dan memilah kata-kata yang tepat untuk berbicara pada istrinya itu besok.
Dan Niko kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaan.
__ADS_1
Di kamar Fatih, mbak Sari dan Fatih tidur dengan sangat lelap. Kania memandang wajah putranya dengan sangat intens, menciumi nya dengan penuh kasih sayang seiring dengan air matanya yang kian deras menetes.
"Maafkan mama, Fatih. Kalau Tuhan mengijinkan, pasti Fatih bisa ketemu mama lagi. Mama janji, suatu saat mama akan jenguk Fatih. Doa kan mama biar terus sehat dan bisa ketemu Fatih lagi, ya.
Mama titip papa, Fatih harus selalu jaga papa.
Mama ingin belajar jadi mama dan istri yang baik buat Fatih dan papa. Nanti, kalau memang Tuhan mengijinkan, kita bisa bersatu lagi seperti keluarga.
Maaf karena mama nggak bisa menahan sakit mama kalau harus selalu disini. Maaf karena mama, kita harus pisah.
Fatih harus baik-baik di sini sama papa.
Mama sayang Fatih".
Ucap Kania lirih. Ia menangis tertahan demi tidak membangunkan mbak sari.
Dengan langkah berat dan rasa tak rel, Kania melangkah pergi keluar rumah tanpa sepengetahuan Niko. Tidak banyak pakaian yang ia bawa. Hanya beberapa potong baju dan beberapa kartu identitas dan berkas-berkas miliknya yang ia bawa.
Tak lupa, Kania juga membawa seluruh perhiasannya. Kania hanya berpikir realistis. Tentu hidup di luar ia butuh banyak uang untuk bekalnya. Maka, satu-satunya ide adalah, dengan menjual semua perhiasan.
Kartu ATM dan kartu kredit yang Niko dan Fandy berikan, sengaja Kania tinggal. Begitu juga ponsel. Kania tak mau meninggalkan jejak sedikitpun atas kepergiannya kali ini.
Setibanya di halaman belakang, Kania segera membuka pintu belakang yang hanya berukuran kecil. Di sana, Sila sudah menunggunya dengan harap-harap cemas. Setelah Sila melihat Kania keluar dengan membawa tas ransel yang cukup besar, Sila segera membantu Kania untuk membawakan tas nya, kemudian meletakkan tas Kania di sepeda bagian depan.
"Kan, Lo yakin? Lo yakin buat nggak bawa anak Lo?"
Tanya Sila yang cukup prihatin.
"Dia butuh kehidupan yang layak, Sil. Gue mau memulai hidup gue dari nol. Suatu saat, gue pasti kembali. Meski mungkin, saat mas Niko sudah memiliki istri lain".
Kania Kembali menangis ketika motor Sila, sudah mulai. Tak peduli bahwa kini, Niko sudah menjelajahi seisi rumah demi mencarinya.
Kania pergi dengan membawa rahasia besar yang tak di ketahui oleh suami dan keluarga besarnya.
__ADS_1
Yang ia tahu, Niko dan kedua orang tuanya bahkan tak akan peduli lagi pada keadaannya saat ini. Kania merasa terlalu menyedihkan dan tak perlu memberi tahukan Niko, tentang bagaimana dirinya saat ini.
🍁🍁🍁