PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 13


__ADS_3

"Apa yang kamu katakan di depan om Ken di dan tante Anja, Anika? Kamu sengaja mau mempermalukan aku?" Dewa mendengus kasar saat mendapati kenyataan bahwa Anika bertanya tentang sebuah pilihan yang ada untuk Dewa.


Dewa tak mau gegabah dan menyakiti hati dua wanita sekaligus. Tetapi agaknya Anika cukup keras kepala dan sulit untuk ditebak, apa maunya.


"Aku hanya bertanya, mas. Tidak lebih. Apa salahnya aku bertanya? Toh semua juga demi kepastian rumah tangga kita. Jika kau tega membuat prahara dalam rumah tangga kamu sendiri, tentunya kamu juga pasti akan tega membuat Elvionika tersakiti demi Kak Vanya." Anika menatap tajam suaminya.


"Ah, sudah lah, mas. Lagu luka sudah jelas. Om Ken dan Tante Anja sudah tau semuanya. Jadi, tak ada gunanya menutupi apa pun dari mereka. Aku tidak masuk dalam golongan mereka yang akan dengan tega menutupi kenyataan bertahun-tahun dari keluarga besarnya. Akhirnya, aku yang kalah dan menjadi pihak yang bodoh."


"Nika... Oh ayolah, mari bicara baik-baik dan kita harus tetap menjaga keutuhan rumah tangga kita."


"Apa?" Anika menatap tajam Dewa. "Menjaga keutuhan. Justru sikap kamu yang begini, malah membuat rumah tangga kita runtuh. Aku menyesal sudah terbuai sama bujuk rayu kamu. Pada akhirnya, aku menjadi korban dan hanya sekedar pelampiasan atas Maslah kamu dan kak Vanya."


Rasanya kemarahan Anika tak pernah ada habisnya. Untuk dewa, entah mengapa bawaannya membuat Anika selalu ingin marah.


"Anika. Aku......"


"Apa lagi? Sudah cukup, mas. Aku ingin sendiri dan menenangkan pikiran. Kamu sudah tau aku bagaimana lelahnya mengurus Elvio, belum lagi kamu yang masih belum bisa bebas dari masa lalu kamu."


"Hentikan semua ini, Nika. Sudah cukup kamu menguji kesabaranku. Aku tau, aku bukanlah orang baik. Tapi terlepas dari semua masa lalu aku dan Vanya, Kita tetaplah suami istri yang tak bisa berpisah begitu saja. Sudahlah. Aku lelah dan jangan mendebatku lagi."


"Aku tak mendebat. Kau sendiri yang datang dan mendebatku."

__ADS_1


Anika berlalu pergi, sambil menggendong vio dengan perasaan yang campur aduk. Anika hanya takut jika hal ini di dengar oleh ibunya, Kania. Semua akan berakhir berantakan dan rumah tangganya bisa tercecer tak terselamatkan.


Duduk di balkon kamar dengan Vio yang sedang bermain, Anika terperanjat ketika Dewa rupanya menyusulnya dan duduk di sampingnya. Anika hanya diam, tak berniat memulai pembicaraan. Sejujurnya Anika lelah, lelah dengan semu kejadian yang menimpa dirinya itu. astaga, andai saja Dewa mau mengerti.


"Aku memang mencintai Vanya, Nika. Tapi maaf, aku tak berniat sama sekali untuk meninggalkanmu." Ungkap Dewa lirih dengan tangannya yang terulur pelan berniat menggenggam tangan Anika.


Sayangnya, Anika justru menepis kasar tangan Dewa.


"Tapi kamu juga menginginkan kak Vanya, mas. Sudah cukup dan sudahi saja. Pilih salah satu agar tak ada yang tersakiti, meski di awal, harus ada yang di korbankan."


Apa yang Anika katakan, menjadi tamparan keras untuk dewa.


"Kamu adalah seorang pemimpin di perusahaan. Tapi sayangnya, kamu tidak bisa sama sekali memimpin hatimu sendiri dan rumah tanggamu. Kamu tau definisi bodoh? Tolol? Goblok?"


Buah memang tidak jatuh dari pohonnya. Sedikit banyak, kebar-baran Kania menurun pada Anika. Tidak banyak. Hanya sedikit.


Tentu saja Dewa yang merasa egonya terlukai oleh seorang wanita, merasa marah, namun tak ingin semakin menambah panas suasana.


"Akan aku pikirkan." Dewa kembali bangkit dan berlalu pergi, menenangkan hatinya yang serasa kacau dan tak berdaya. Mungkin, ini adalah ujian dari keharmonisan rumah tangganya bersama Anika, tapi juga bisa jadi bahwa ini adalah jalan untuk bersatunya cinta Dewa dan Vanya.


Dengan perasaan tak menentu, Anika memandang bahu lebar dan tegap Dewa yang selama ini menjadi sandaran kala penat melandanya saat mengurus Vio.

__ADS_1


Hati wanita mana yang tak rapuh?


'Bahkan sudah ada vio diantara kita, mas. Tapi kamu malah lebih mencintai kak Vanya dibanding aku. Mustahil tak ada cinta, jika Elvio hadir diantara kita.' Bisik hati Anika.


Dewa yang hatinya merasa kacau, lelaki itu kini menuju ke sebuah bar yang cukup ternama, dengan menghubungi sahabatnya, Anton. Meski ia jarang-jarang nongkrong hanya berdua dengan Anton, namun tak Dewa pungkiri, Anton adalah orang yang cukup mengerti dengan cerita antara dirinya, Vanya dan Anika.


Setibanya di bar yang sudah Dewa tuju, dewa segera memarkirkan mobilnya di area parkir. Tak diduga, Anton justru datang lebih cepat dari yang Dewa kira.


"Wow, sudah lama menungguku, bung?" Dewa menyapa anton dan sekilas mereka saling adu kepalan tangan.


"Lumayan. Hanya saja, aku menangkap sesuatu yang nggak nyaman dari kamu." Anton menimpali dengan gayanya yang khas dan jenaka.


"Mari masuk dan akan aku beri satu informasi, surga dunia yang sesungguhnya."


Anton menuntun masuk Dewa yang mengerutkan kening.


"Maksudnya?"


"Akan aku beri solusi dari semua masalahmu, jika kau terbuka sepenuhnya padaku nanti. Aku tau apa yang sedang menimpa kisah cintamu." Anton tersenyum penuh arti. Entah mengapa, ada sesuatu yang menakutkan dalam hati Dewa. Hanya saja, kekalutan Dewa malam ini, cukup membuat Dewa tak bisa berpikir jernih.


**

__ADS_1


Peluk cium dari aku. Doakan aku update tiap hari untuk Vanya, Dewa, dan Anika. 🥰


__ADS_2