
Malam ini, makan malam di kediaman Fandy tengah berlangsung. Percakapan hangat antara Fandy, Kenan danAnjani sesekali terlontar. Mereka membahas tentang Anjani yang akan di lanjutkan pendidikan. Meski Anjani menolak, tetap saja Ken ngotot untuk menyekolahkan Anjani lagi dan Fandy yang terus membujuk Anjani.
"Nja, Kamu harus Yakin. Kehadiran Vanya, Jangan kamu jadikan alasan untuk berhenti mengejar impianmu. Kamu harus yakin aja dengan diri kamu", Ucap Fandy dengan menatap menantunya yang juga ikut makan malam.
"Iya pah".
"Jadi? kapan kamu segera mendaftarkan istrimu, Ken?"
"Secepatnya, pah".
"Bagus. Oh ya, Gimana Sama usaha yang kamu kelola? Apa ada masalah?".
"Lancar pah. Rencananya aku mau desain kaos dan jaket untuk bulan depan. Kayaknya sih.... dengan banyak tulisan yang syar'i dan agamis gitu".
"Wah... bagus itu. Papa setuju banget. Papa cuma bisa bantu dan support kamu dari belakang. Selanjutnya ya, kamu harus tetep fokus dan yakin sama usaha kamu. Mungkin, ini juga rejeki Vanya".
"Iya pah. makasih banyak", Kenan tersenyum kecil ke arah papanya. kemudian melirik ke arah adik dan mamanya yang s dari tadi enggan bicara. "Mama sama Kania kenapa? mogok bicara apa sariawan massal?"
Sontak Fandy dan Anjani juga mengalihkan pandangannya pada Nawal dan Kania.
"Mama lagi ngambek, mas". Jawab Kania, sedang Nawal menoleh ke arah putrinya dengan mata menajam.
"loh, ngambek kenapa? Udah lah Kania, kamu jangan banyak tingkah. Mama nggak mungkin marah kalau kamu nggak banyak gaya".
"Banyak gaya apa sih, mas? Emang aku banyak tingkah ya selama ini? Bukannya aku anteng-anteng aja? Aku selama ini nurut kok sama apa yang di bilang mama. Giliran aku punya keinginan, mama bersikeras menentang".
Mata Kania berkaca-kaca. Fandy dan Kenan menangkap apa yang sebenarnya tengah di rasakan Kania. Kania benar-benar menginginkan untuk menikah di usia muda. Tapi ini kedengarannya sungguh gila.
"Apa mama salah kalau menentangnya, Ken? Mama cuma mau yang terbaik untuk anak-anak mama. Bahkan kamu dan Anjani saja belum mama adakan resepsi".
Nawal berbicara dengan pelan. Kemudian beranjak meninggalkan meja makan tanpa ekspresi. Sepertinya, kali ini Fandy benar-benar harus turun tangan.
"Kania sayang, besok pulang sekolah jam berapa? Nanti papa jemput".
"Jam 9.30 pah. Besok Kania ujian".
"Ya udah, jangan kemana-mana kalau papa belum datang". Kania hanya mengangguk. Ken dan Anjani saling tatap.
"Pa..." Anjani mencoba mengutarakan maksudnya pada Fandy.
__ADS_1
"Iya?".
"Kalau Anja bawain mama makanan ke atas, Apa mama mau ya?". Fandy tersenyum.
Dalam hati, Fandy bersyukur bahwa menantunya ini memiliki kedisiplinan dan kedewasaan dalam bersikap. Berbeda dengan Kania yang lebih cenderung kekanakan.
Kalau saja Kania bisa bersikap sedewasa Anjani, pasti lah keinginan menikah di usia muda tidak mungkin melintas begitu saja pada Kania.
"Nggak apa-apa bawain aja".
..................
Keesokan harinya, Sepulang Kania dari sekolah, Niko datang ke rumah Ken untuk membicarakan perihal pesanan jaket dan kaos yang saat ini tengah melejit.
Entah keberuntungan macam apa yang berpihak pada Kania kali ini.
Kania turun dari tangga dengan menggunakan dress warna moca. Dari arah pintu, Ken masuk dengan Niko dengan pakaian kasual. Anjani yang mengajak Vanya di ruang tengah pun beranjak hendak menyambut suaminya yang baru datang.
Entah bermimpi apa Kania semalam.
Kania merasa..... ia tengah bertemu dengan pangeran impiannya.
Dengan susah payah Kania menelan ludahnya. Jantungnya berpacu dengan sangat cepat. Darahnya berdesir hebat, dan hatinya bergemuruh seperti petir.
Sesaat Anjani dan Kania saling pandang. Merasa heran dengan reaksinya kali ini.
Aneh, ini benar-benar sangat aneh. Tidak biasanya Kania akan bertingkah seperti ini, terlebih lagi, saat ini sedang ada tamu.
"Mas".
Ken hanya tersenyum sembari mengulurkan tangannya untuk di cium Anja. Anjani pun mengecup sekilas punggung tangan suaminya.
Taukah kau apa yang sedang Kania pikirkan saat itu?
Kania membayangkan ia tengah menjabat dan mencium punggung tangan Niko. Dengan refleks, Kania meraih tangan Niko dan segera mengecupnya.
Niko yang baru pertama mendapat perlakuan seperti ini dari Kania pun hanya bisa melongo melihat tingkah adik dari sahabatnya itu. Begitu juga dengan Kenan dan Anjani yah memasang tampang bodoh. Meeka masih berusaha mencerna tentang sikap Kania yang terasa aneh ini.
"Mas Niko datang", Kania tersipu malu karena Niki tidak menolak uluran tangannya. "Mau minum apa, mas Niko? Biar Kania yang buatin".
__ADS_1
"Heh...?", Niko bingung dan, entahlah...... Otaknya mendadak lambat dalam mencerna apa yang di katakan Kania baru saja.
"Eh bocah bengek.... Gue yang Kaka Lo nggak Lo tawari minum, nah ini ada orang lain Lo tawari minum. Mana pake senyum-senyum lagi".
"Mas kan udah ada kak Anja yang buatin. Lagian mas bukan tamu. Beda sama mas Niko yang tamu di sini", Kania senyum-senyum ke arah Niko.
Jujur saja, Niko merasa aneh dengan tingkah Kania. Dari dulu, semenjak bersahabat dengan Kenan, Niko memang sudah sering ke rumah Ken, tapi baru kali ini Kania memperhatikannya dengan sangat manis.
Niko bingung. Lama-lama, Niko merasa ada yang tidak beres pada sikap Kania.
Apa jangan-jangan.... Kania suka sama dia?
Tidak tidak. Kania nggak mungkin suka dan Niko juga sebaliknya. Niko menggeleng kepalanya dengan kasar.
"Maas, jadi mau minum apa?".
"Apa aja deh...." Jawab Niko. Kania pun berlalu menuju dapur berniat untuk membuatkan minum untuk dua laki-laki yang baru tiba itu.
"Mas, kayaknya Kania suka sama mas Niko deh", Anjani berbisik lirik ke arah Ken. Kenan pun mengangguk tanpa kata sembari meletakkan tangannya ke bibir istrinya. mengisyaratkan agar diam dulu.
"Nik, Ayo duduk dulu". Kenan mempersilahkan temannya yang terbengong itu. Setelah duduk, tanpa basa-basi lagi, Niko segera bertanya pada Kenan.
"Si cerewet itu, kenapa tiba-tiba berubah, Ken? Apa adek Lo kesambet?" Anjani yang tak jauh dari mereka sontak terkikik geli karna mendengar pertanyaan Niko yang tanpa basa-basi. Dengan menggendong Vanya, Anjani pun berjalan ke arah Kenan karna Kenan meminta Anjani untuk mendekat dan duduk di sampingnya.
"Dari sikapnya gue bisa nyimpulin, kayaknya adek gue suka sama Lo". ucap kenan.
"Apa?" Mata Niko melotot sempurna. Anjani yang menyaksikan reaksi Niko tak mampu lagi menahan tawa, begitu juga dengan Kenan.
"Biasa aja kali. Lo over banget", lanjut Kenan lagi di sela-sela tawanya.
"Anjani.... suami Lo nggak lagi gila kan?"
"Ya enggak lah mas Niko. Mana ada orang gila bisa kerja?" jawab Anjani lembut.
"Masa iya gue di sukai cewek labil? Mampus gue!"
🌹🌹🌹🌹🌹
Derita elo tuh Niko 😄😄
__ADS_1
Hayyo yang setuju kalau Kania di pasangkan dengan Niko, komen yah....😂😂