PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 18


__ADS_3

"Saya mohon, om. Saya mohon untuk bisa menikahi Vanya. Perlahan namun pasti, saya akan memberikan pengertian pada Anika bahwa saya lebih mencintai Vanya. Duduk permasalahannya juga sudah jelas, Vanya dulu difitnah hingga membuat saya harus berpisah dengannya."


Dengan berani, Dewa meminta restu pada Kenan, dan Anjani. Tentu saja bukannya restu yang Dewa dapat, tapi justru kemurkaan Kenan dan Anjani.


Harusnya Anjani dan Kenan sudah hampir mencapai separuh perjalanan pulang, namun harus putar balik karena Dewa yang memintanya. Hingga tiba di indekost Vanya, Emi tentu terkejut dengan kedatangan Ken dan Anjani yang harusnya sudah pulang.


Saat ini, Dewa dengan beraninya duduk di depan Kenan. Berhadapan dengan lelaki yang sudah gatal ingin sekali menghajarnya.


"Apa yang kamu harapkan?" Kenan masih berusaha tenang, meski sebenarnya dalam hatinya sudah menggelegak kemarahannya.


"Saya tak mau saya dan Vanya terpisah lagi. Kami saling mencintai dan ingin bersatu, om. Dewa mohon." Pinta Dewa dengan tegas.


"Tapi cinta saja tidak bisa serta Merta menjadi alasan untuk menikah dan mengkhianati pasangan kamu, wa. Sedikit pun Tante nggak akan setuju dengan ide gila kalian. Tante dan om Ken nggak akan memberikan restu." Anjani masih berkata lembut dan santun. Meski ia marah pada Vanya dan juga Dewa, namun Anjani tidak mau terbawa emosi.


"Apa benar kamu dan Dewa saling mencintai, Vanya?" Kenan menatap tajam putrinya yang dirasa tak tau malu.


Namun apa yang terjadi? Vanya tak mengiyakan, juga tidak menyangkal itu sama sekali. Tentu saja Dewa gemas dibuatnya. Harusnya Vanya mengangguk mantap tanpa keraguan. Padahal Vanya tadi sudah menolak dengan keras bahwa ia tak mau bersatu lagi dengan Dewa.


"Jawab, Vanya." Anjani mendesak putrinya, masih dengan suara halus. "Jika kau benar mau dinikahi oleh Dewa, bersiaplah, mama nggak akan menganggapnya sebagai anak mama lagi."


Sorot kecewa jelas terpancar dari raut wajah Anjani. Sekian lama ia membesarkan Vanya, menjadikan Vanya segalanya dan menjaga hati gadisnya itu, namun yang ada kini Vanya justru mengecewakan Anjani.


Dewa tak akan berhenti berjuang. Ia akan terus mendesak Vanya dan harus mendapatkan Vanya, bagaimana pun caranya.

__ADS_1


"Pergilah, Dewa. Apa yang dikatakan Tante Anja, sudah jelas. Om tidak akan menjelaskan untuk yang kedua kalinya. Biarkan Vanya tinggal disini. Om harap pernikahanmu langgeng seumur hidupmu dan Anika. Kemungkinan, om akan membawa Vanya untuk kembali ke kota kami." Ungkap Kenan. Sayangnya, Vanya yang sejak tadi hanya diam, kini menolak dengan tegas.


"Nggak. Biarkan Vanya disini, pa. Vanya nyaman tinggal disini."


"Dan kamu nyaman menyaksikan sepupu kamu dikhianati? Lepaskan Dewa, Vanya. Ikutlah pulang dengan kami, keluargamu. Papa janji, kamu akan menemukan lelaki yang tepat untuk kamu. Dewa memang sudah tak berjodoh denganmu. Jika memang Tuhan memberi jodoh untuk kalian, Papa yakin, kalian bisa bersatu suatu saat nanti, tanpa harus ada pihak yang tersakiti. Tolong, nak. Jangan membuat kegaduhan yang tak perlu dalam keluarga besar kita."


Kenan sebagai seorang Ayah, tak mau putrinya tersesat.


"Ya, sebelum terlanjur jauh, Vanya sebaiknya ikutlah dengan mama dan papa pulang, nak." Anjani menimpali.


"Om, tante......"


Dewa berusaha menawar kali ini. Ia benar-benar mencoba peruntungan dan akhirnya Kenan dan Anjani menolak keras permintaan restunya.


"Vanya akan menjaga diri dengan baik, pa. Jika papa nggak memberikan restu, Vanya nggak akan memaksa. Tapi mohon untuk jangan paksa Vanya untuk pulang. Karier Vanya sangat bagus disini. Biarkan Vanya mendapatkan pengalaman."


Vanya yang sejak tadi hanya diam, kini berani menjawab. Tak hanya itu, Vanya juga berani mengusir Dewa dari sana.


"Pulanglah, mas Dewa. Kumohon." Dewa pamit dan berlalu pergi, meninggalkan Vanya yang setengah berlari ke kamarnya, dan juga Kenan dan Anjani yang tak kalah emosi.


Vanya menangis tersedu-sedu. Ia sangat mencintai Dewa, bahkan dalam lubuk hatinya, Vanya tak ingin Dewa menjauh dan meninggalkannya lagi. Rasa yang dulu sangat menggebu pada Dewa, kini telah berganti, bukan berganti benci, namun justru semakin tumbuh rasa ingin memiliki seutuhnya.


Emi yang ada di kamar sebelah, sama sekali tidak mendengar Apa yang terjadi pada Vanya baru saja. Gadis itu bahkan sudah hanyut dalam mimpi.

__ADS_1


Sedang di seberang jalan sana, Dewa memajukan mobilnya beberapa meter, berjalan mengendap dan menerobos hingga Dewa sampai tepat di depan jendela kamar Vanya.


Dewa sangat tau, karena tirai berwarna ungu muda dibalik jendela lah sebagai tanda, itu kamar Vanya. Sejak dulu, Vanya menyukai warna ungu muda.


"Nya, Vanya.... buka jendelanya. Aku Dewa. Cepat buka jendelanya."


Vanya terperanjat dan menuju jendela, saat telinganya sayup-sayup mendengar suara Dewa. Wanita itu yakin, Dewa tak akan pernah melepaskannya. Hati Vanya yakin akan hal itu. Tapi disisi lain, Vanya sangat takut untuk menyakiti hati sepupunya. Apa yang harus Vanya lakukan?


"Ikut aku sebentar." Paksa Dewa. Lelaki itu benar-benar tak tahu diri. Ia bahkan lupa pada Vio dan juga Anika yang menunggunya.


"Tapi, ini udah larut malam. Bahkan nyaris tengah malam. Kamu mau bawa aku kemana?"


"Kita ke suatu tempat. Ayo."


"Bilang dulu kamu mau bawa aku kemana?"


"Nanti kamu akan tahu. Udah, jangan bantah terus. Ayo cepetan."


Dan Vanya yang menurut, membuat Dewa tersenyum menang. Entah apa yang sedang Dewa rencanakan saat ini. Yang jelas, ia tak ingin kehilangan Vanya lagi, dan juga tak ingin membiarkan siapa pun bisa memiliki Vanya, selain dirinya.


**


Kok aku jadi ikutan sebel sama si Dewa ya?!?

__ADS_1


Ada yang samaan, nggak?


__ADS_2