PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 33


__ADS_3

Hari ini, Kania sengaja bangun pagi-pagi untuk meminta bantuan Anjani untuk mengajarinya masak. Entah apa yang di rencanakan Kania kali ini. Hanya Kania yang tau.


Dengan sengaja menghidupkan alarm Kania bangun pagi-pagi sekali. Membersihkan diri secara kilat dan menggedor-gedor pintu kamar kakaknya demi untuk bisa belajar masak.


Hingga berlangsunglah drama pagi itu dengan masak memasak.


"Mau masak apa, Kania?" Tanya Anjani yang juga sudah Samapi di dapur.


"Masak apa aja dek kak. Yang penting jangan pedes ya. Ntar sama buatin sambel aja".


Nawal datang dengan raut wajah terkejut. Bagaimana tidak? Kania tiba-tiba sudah mulai berkutat dalam dapur. Pemandangan yang sangat langka ia dapatkan di pagi hari seperti ini.


"Kania....? Ngapain kamu di dapur pagi-pagi begini?" Nawal bertanya dengan heran. Kania tersenyum lebar ke arah sang mama.


"Belajar jadi istri idaman lah ma". Jawab Kania enteng. Anjani melongo mendengar jawaban sang adik ipar.


"Di usia kamu yang masih memasuki Delapan belas tahun, harusnya kamu belajar yang rajin buat pendidikan mu. Bukan malah belajar jadi istri. Jangan buat ribut deh Kania. Ini masih pagi". Nawal mendengus kesal ke arah sang putri. Sedang Anjani mengatupkan bibirnya serapat mungkin untuk Manahan tawa.


"Bukannya mama ya yang ngajakin ribut? Udah ah mama mending kembali ke atas mesraan sama papa. Biar Kania dan kak Anjani yang masak".


"Iya ma. mending mama nyantai aja. Anjani bisa tangani di sini. Lagian ini juga ada bi surti yang bantuin Anja masak", Anjani yang sedari tadi hanya diam kini mulai ikut bersuara. Bi surti adalah pembantu pengganti bi Tarsih yang sudah tiada.


"Haduh lama-lama pusing mama". Ucap Nawal sembari memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri. Nawal pun berlalu dari dapur dan kembali ke atas ke kamar utama untuk menemui suaminya.


Berlama-lama berinteraksi dengan Kania hanya akan membuat tekanan darah Nawal naik.


"Dek, kamu jangan suka bikin Mama sedih dong. Bener kata mama kalau kamu harusnya lanjutin kuliah. Aku aja mau lanjutin sekolah yang ke tunda. Emang kamu nggak mau ya sukses seperti wanita karir umumnya? Kamu cantik loh. Kalau kamu sukses tanpa bergantung sama orang tua nanti, pasti banyak kok cowok-cowok yang bakalan ngantri jadi suami mu. Usia kamu kan masih muda", Anjani mulai menasehati adik iparnya.


"Kak Anja mulai deh. Udah ah biarin aja. Aku maunya gitu kak. Keputusan aku udah bulat kok, kak. Aku mau kuliah. Tapi nanti, setelah aku punya anak. Biar apa? Aku pengen di jagain suami saat aku mulai kuliah nanti".


"Kok bisa gitu?" Tanya Anjani yang heran dengan cara berpikir sang adik.


"Pokoknya, untuk sekarang, Aku maunya nikah dan punya anak. Aku capek belajar terus. Ini pengennya aku istirahat dulu. Nah, dalam masa istirahat ini aku mau nikah sampai punya anak. Setelah siap untuk mulai menempuh pendidikan lagi, Baru aku mau kuliah". Jawab Kania dengan wajah berbinar.


"Emang udah ada calonnya?"


"Ada".


"Apa nanti setelah nikah, suami mu bakalan ijinin kamu kuliah? Kalau enggak ngasi ijin, gimana Hayyo?".


"Mas Niko nggak mungkin gitu!" Sahut Kania sebal sembari memotong wortel dengan keras.

__ADS_1


"Hah!? Niko?" Anjani terbengong mendengar penuturan adik iparnya ini.


....................


Seorang pria tampan yang tengah berusia dua puluh empat tahun, tengah fokus menatap layar di depannya. Pria itu tengah fokus pada Tabel-tabel angka yang tertera pada layar laptopnya.


Dering ponsel membuyarkan konsentrasi Niko. Ya, pria itu adalah Niko. Ia sengaja stay di distro yang ia kelola bersama Kenan. Tanpa pikir panjang, ia segera mengangkat panggilan telepon dari Kenan.


"Ya, hallo. Ada apa Ken?", Niko bertanya.


"Hallo, nik. Gue kayaknya nggak bisa stay di sana deh. Ada beberapa urusan yang harus aku urus hari ini juga".


"Urusan apa sih? Kok mendesak banget?".


"Mau ngurus surat-surat Anjani untuk daftar sekolah lagi. Aku sengaja masukin Anjani ke sekolah milik om Roby Sepupu papa, karna cuma om Roby yang tau tentang rahasia gue sama Anjani. Dan cuma om Robby juga yang mau menerima siswi yang udah brojol".


Kenan terkekeh kecil.


"Ya udah deh semoga aja lancar dan ceper kelar, ya. Anjani biar nggak murung lagi".


"Iya, makasih ya nik".


Baru saja Niko memutus panggilannya, pintu ruangan Niko di ketuk dari luar. Suara Sasa memanggil Niko.


Tok tok tok .......


"Permisi mas Niko....."


"Masuk". Sasa masuk dan pandangan Niko beralih pada kedatangan Sasa. "Ada apa, sa?".


"Ada mbak Kania, mas Nik".


"Loh, Hari ini Ken nggak kesini", Niko mengernyitkan keningnya, merasa bingung.


"Tapi katanya mau ketemu mas Niko. Pas saya tanya katanya udah ada janji". Sasa ikutan bingung karna merasa aneh.


"Ya udah deh suruh masuk".


Sasa mengangguk kemudian menutup pintu. Niko terlihat menghembuskan nafas kasar.


Hingga tak lama, pintu terbuka dengan memunculkan sosok Kania yang begitu berbeda penampilannya.

__ADS_1


Dengan mengulas senyum tipis dan tampang yang sangat terlihat percaya diri, Kania muncul dengan membawa rantang makanan di tangan kanan, sedang tangan kirinya membawa tas kecil yang begitu pas untuk kania.. Niko terlihat meneguk ludahnya kasar. Entah mengapa perasaannya mengatakan bahwa ini pertanda tak baik.


Kania berjalan mendekat dengan mengenakan dress selutut berwarna peach bermotif bunga tulip di bagian bawahnya, flatshoes hitam dan rambut terurai dengan jepit berbentuk pita menghiasi sudut kepala bagian kiri. Wajahnya yang di poles make up tipis dan tak berlebihan membuat Kania terlihat lebih fresh dari biasanya.


"Hai", hanya kata itu lah yang di lontarkan Kania. Suasana mendadak canggung.


"Hai". Balas Niko. Ia tidak tau harus apa. Biasanya jika bertemu dengan gadis ini saat dirumah, sudah hal biasa bagi niko menggoda Kania yang cerewet. Tapi kali ini, Kania nampak berbeda dan tidak lah cerewet.


"Aku tau mas Nik belum sarapan. Ayo sarapan". Ucap Kania tanpa basa basi lagi. Begitulah Kania. Dia tidak suka basa basi dan bukan type gadis yang mudah untuk di bantah apa lagi di tolak.


"Siapa bilang? Aku udah sarapan kok. Lagian siapa suruh kamu kesini? Pakai bilang ke pegawai udah bikin janji lagi!"


Kania hanya cengengesan mendapat sikap ketus Niko. Dalam hati Kania tetap tidak akan mundur.


'Sabar Kania. Ini hanya permulaan. Mas Niko pasti akan bisa di taklukkan. Maju terus pantang mundur'


Batin Kania berteriak.


"Yakin?", Tanya Kania tanpa menyerah. Ia membuka rantang makanan dan segera memamerkannya di depan Niko. Niko yang sebenarnya belum sarapan pun tak mampu berbohong. Pasalnya, cacing di perutnya mulai menyanyi riang saat hidung Niko mengendus harum makanan yang di keluarkan Kania.


"Ayo makan. Biar aku suapin". Kata Kania manja.


"Aku bisa sendiri!" Tolak Niko.


Namun, Kania tetaplah kania yang anti terhadap penolakan. Segera saja ia mengambil sendok dan mengisinya dengan makanan yang di rantang tadi.


Hingga makanan sampai pada bibir Niko. Niko menolak dengan mengalihkan wajahnya ke arah samping. Hingga ancaman keluar dari bibir Kania begitu saja.


"Kalau mas Nik nolak terus, aku cium loh entar. Kalau perlu aku perkosa aja sekalian!".


Niko pun tak mau ambil resiko dan membuka mulutnya. Kania pun bersorak gembira dalam hati. Senyum kemenangan terukir di bibir mungilnya.


"Mas Niko.....", panggil Kania dengan manja.


"Hm..." Niko hanya berdehem menanggapi.


"Kita nikah yuk?".


Uhuk uhuk uhuk uhuk.......


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2