PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 20


__ADS_3

Anika membuka matanya semalaman. Ibu muda itu tampak kuyu akibat tak tidur semalam suntuk karena menunggu Dewa. Kelopak matanya pun menghitam layaknya panda. Semalaman pula Anika menunggu di balkon kamar, mengintip jalanan dan halamannya setiap kali ada deru mobil terdengar lewat.


Sebegitu khawatirnya Nika terhadap Dewa, bahkan setelah Dewa selalu marah padanya dan bersikap dingin. Kembali duduk, suara burung mulai terdengar, pertanda pagi akan tiba.


Usai menjalankan kewajiban tadi, Anika masih tidak henti-hentinya berharap Dewa pulang sebelum Kania bangun. Tapi nyatanya, harapan tinggal harapan. Dewa tak juga datang dan membuat Anika kian resah.


Tepat ketika matahari terbit, mobil yang Dewa kendarai memasuki garasi. Anika hanya tinggal berharap, Kania tak bangun dan melihat kedatangan Dewa di pagi buta seperti ini.


Dengan langkah tergesa, Anika turun ke bawah. Rupanya, Kania sudah turun dan tengah berada di teras depan sambil menggendong Vio yang sudah bangun. Anak itu tampak rewel dan sesekali menjulurkan tangannya pada Dewa yang baru turun dari mobil.


"Baru pulang, wa?" Kania bertanya dengan nada biasa saja. Tak ada sorot menghakimi, curiga maupun marah. yang ada hanyalah, Kania justru bersikap hangat.


"Ii-iya, ma. Maaf karena ada urusan tadi."


'Dan lupa dengan jalan pulang demi Vanya?'


Tentunya kalimat tambahan itu hanya Kania ucapkan dalam hati. Lihat saja, bahkan Dewa sangat gugup dibuatnya.


"Ya sudah. Hari ini kamu kerja?"


"Iya, ma. Tapi berangkat pukul delapan nanti."


"Ya sudah, biar Anika menyiapkan kebutuhan kamu." Kania beralih menatap ke dalam yang rupanya ia dapati Anika sudah berdiri di ambang pintu. "Itu istri kamu."


Kania sengaja menekankan kata istri di kalimat terakhirnya. Mana tau Dewa mau sadar dan juga memikirkan sedikit perasaan dan hati Anika.


"Iya, ma. Dewa masuk dulu."

__ADS_1


"Kamu nggak nyapa Vio? Dia lihatin kamu terus loh dari tadi." Kania melirik Vio yang tengah memandangi Dewa sejak tadi. Untuk Vio, Dewa selalu luluh dan juga tak bisa mengabaikan begitu saja. Meski cintanya hanya untuk Vanya, tapi biar bagaimana pun, Vio adalah putrinya.


"Sayangnya papa, ayo ikut papa sebentar." Dewa segera meraih Vio ke dalam gendongan, sebelum akhirnya ia masuk ke dalam tanpa menyapa Vanya yang menyambutnya di pintu.


"Dewa pamit ke kamar dulu, ma."


Tahukah kau definisi rasa sakit?


Tahukah kau definisi dari kecewa?


Itulah yang saat ini Nika rasakan. Hatinya sudah terlampau terluka, tapi masih saja berusaha tegar karena ada mamanya. Anika adalah wanita yang kuat dan lembut sebenarnya. Sejak kecil, Anika selalu dimanja oleh Niko, juga Nawal dan Fandy. tak lupa, orang tua Niko juga sangat menyayangi Anika.


Banyak orang berkata, buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Sebaik dan selembut apa pun seseorang, namun watak dan pembawaan Kania juga sedikit banyak menurun pada Anika.


"Ya Tuhan, Anika. Mama tidak menyangka. Dewa bisa keterlaluan begitu. Rumah tangga kalian, sedingin ini?" Kania bertanya lirih sah tak di dengar oleh siapa pun kecuali Anika. Anika hanya menggeleng.


Ada banyak hal yang kini Kania pertanyakan, termasuk betapa tulus dan sungguh nya dewa dulu ketika ia melamar Anika di depan keluarga besarnya. Kini semua itu seolah tak ada artinya. Apalagi, ada anak yang di mata Kania harus di kasihi oleh kedua orang tuanya.


Kania mengangguk dan berbalik menuju ke halaman depan bersama Siska. Sejak semalam, Kania memang ingin diajak jalan-jalan oleh Siska ke pasar sekalian belanja.


Hingga kemudian tiba saatnya Dewa berangkat ke kantor, Dewa masih bicara seperlunya dengan Anika. Tak ada kehangatan, tak ada keceriaan. Yang ada hanyalah sikap dingin Dewa yang membuat Kania muak. Beruntung Kania masih diam. Entah apa jadinya nanti jika Kania sudah murka.


"Mas, nanti apa bisa pulang lebih cepat? Aku pengen diajakin jalan-jalan. Bosen di rumah terus. Akhir-akhir ini kamu juga jarang pulang cepat dan lembur terus." Anika mengutarakan keinginannya. Bukan inginnya sebenarnya, hanya saja Anika ingin memancing Dewa dan memastikan sekali lagi.


"Nantilah, Anika, jika aku punya waktu luang. Ada mama dan juga Siska yang bisa menemani. Aku transfer uang lebih saja, biar kamu bisa neraktir Siska. Perusahaan sedang akan membuka cabang kantor baru lagi, jadi sedang sibuk-sibuknya dan aku sebagai pimpinan, nggak bisa mengambil waktu cuti gitu aja."


'Bukan kantor yang buka cabang, tapi kamu yang udah nyabang ke kak Vanya, mas. Rasanya aku ingin membawa Vio bermain dan ketemu kak Vanya, biar tau dan buka mata, kalau kamu itu udah punya anak.'

__ADS_1


Anika membatin. Hatinya menangis seketika.


"Ya udah kalau gitu." Anika melepas kepergian Dewa yang terlibat tergesa. Biasanya Dewa tak pernah seperti ini. Hati Anika semakin terluka dan tak bisa berbuat apa-apa. Bukan tidak bisa sebenarnya, hanya belum tiba saja saatnya bagi Anika menunjukkan kemurkaannya.


"Bagaimana?" Anika mendapati Kania yang tengah bertanya serius padanya. Dan sebuah gelengan kepala Anika, cukup menjadi jawaban bagi Kania yang juga baru selesai sarapan.


"Begitulah, ma. Sepertinya mas Dewa memang nggak ada rasa sama sekali. Semalam juga, entah kenapa Anika yakin jika mas Dewa semalam bersama dengan kak Vanya."


"Mama akan cari tahu, Anika. Sekarang biar mama yang akan cari tahu dan menyelidiki tentang gerak-gerik Dewa."


"Sudahlah, ma. Anika lelah. Jika dibiarkan terus, Vio akan tetap baik-baik saja dan selalu mendapat kasih sayang dari papanya. Semua demi Vio."


Anika cukup lelah saat ini.


"Dan kamu akan terima gitu aja dikhianati Dewa dan Vanya? Jangan pernah Sudi untuk menjadi pihak yang kalah dan tertindas, Anika. Kamu akan lemah dan dianggap bodoh sama mereka berdua." Kania segera membawa Vio masuk ke dalam rumah dan memberikannya pada Siska. Wanita itu sungguh kesal dengan kepasrahan putrinya yang dinilai pikirannya terlalu dangkal.


"Apa artinya rumah tangga tanpa kehangatan di dalamnya? Jika Vio tetap berada di tengah-tengah kalian, namun kalian justru saling berjarak begini, apa Vio setelah besar akan bahagia? Lambat laun seiring berjalannya waktu, Vio akan mengerti dan tahu dengan kondisi keluarganya."


Kania menuntun Anika untuk duduk di teras depan dan berbincang tanpa Vio. anak itu terlalu aktif dan juga membuat Kania tak fokus menasihati Anika. Mungkin karena Anika sudah berada di titik terendah dalam hidupnya. Kania paham hal itu.


"Lalu Nika harus bagaimana, ma?"


"Cari bukti konkret perselingkuhan Dewa dan Vanya, untuk dijadikan bukti menggugat Dewa. Mama bersumpah, mama akan menghancurkan mereka dengan tangan mama jika memang mereka mengkhianati kamu."


Kania sudah kelewat murka.


**

__ADS_1


__ADS_2