
Kenan tengah berkutat di depan layar laptopnya, mengamati dengan jeli angka-angka yang tertera dalam tabel yang menampilkan banyaknya angka di sana. Hasil penjualan, pengeluaran dan hasil produksi ternyata cukup membuat kepalanya pening. Namun, bukankah hal itu justru tak bisa di abaikan begitu saja, bukan?
Semenjak Fandy memutuskan bahwa Niko ia tarik dari bisnis distro Kenan untuk mengurus salah satu cafe dan resto milik Fandy, Kenan seperti kuwalahan sendiri. Beruntung Rio, sahabatnya yang satu lagi bersedia menggantikan tugas Niko dalam membantu bisnis Kenan.
Pintu di ketuk dari luar, Rio muncul di sana dengan wajah segarnya. Semenjak ia menerima perjodohan yang di lakukan orang tuanya, meski terpaksa, namun hidupnya kini lebih baik.
"Siang, bos. Nih laporan produksi yang bos minta tadi pagi. Di periksa aja dulu".
Kenan mengangguk tanpa menjawab kalimat Rio. Tangannya terulur meraih Mao yang Rio letakkan, kemudian membacanya dengan teliti.
Meski mereka bersahabat dekat, namun
"Waktunya makan siang, Makan siang bareng, yuk. Di cafe Niko".
Ajak Kenan sembari menutup berkas-berkas yang baru saja di bacanya. Kemudian pandangannya terfokus pada Rio yang duduk tepat di depannya dan terhalang meja kerja Ken.
"Boleh, asal saya di traktir saja, pak".
Kelakar Niko dengan nada humornya dan bahasa formal. Ken tertawa. Sudah lama ia tak kumpul-kumpul dengan kedua sahabatnya ini. Kenan rindu suasana seperti dulu.
"Kita minta teraktir Niko".
Sambung Kenan dan mereka tertawa bersama setelahnya.
Setelah mereka keluar dari ruangan Kenan, mereka tanpa sengaja berpapasan dengan Dira. Senyum manis tersungging di bibir Dira saat netra matanya menangkap sosok Kenan berjalan dengan gagah.
"Selamat siang, pak Ken. Mau makan siang, ya?"
"Siang. Iya. Sama pak Rio sekalian". Ken menjawab datar.
"Siang juga Bu Dira". Rio menampilkan senyum sumringahnya saat mendapati sosok seksi bahenol ada di depan mata nya.
"Boleh saya gabung?"
__ADS_1
Lihatlah......
Dengan tidak tau malu nya, Dira menawarkan diri untuk menemani dua pria yang sebenarnya menjadi atasannya ini.
Rio menatap sejenak ke arah Kenan untuk meminta persetujuan. Tapi Kenan justru tak ingin Dira ikut. Bagaimana pun, Ken berniat untuk menceritakan perihal kejanggalan sikap yang di tunjukkan Dira padanya.
"Maaf, Bu Dira. Saya dan Rio akan mengurus sesuatu hal dulu sebelum makan siang. Jadi sepertinya akan lama dan pekerjaan anda lumayan cukup menumpuk, bukan?
Jadi mungkin lain waktu saja kita akan makan siang bersama".
Ujar Ken tanpa meninggalkan kesan sopan sebagai partner kerja.
"Oh begitu, ya?" Raut wajah Dira mendadak berubah lebih tak nyaman.
"Ya, mungkin lain waktu boleh".
Rio yang menyadari nada suara Ken dalam berbicara nampak terasa lebih dingin dan berjarak, sepertinya bisa menyimpulkan bahwa sahabatnya ini tengah menghindari berinteraksi dengan Dira. Jiwa kepo Rio meronta hendak menyembur saat itu juga, namun ia tahan dan akan melanjutkan tanya yang sempat menggumpal di kepalanya, nanti setelah mereka tiba di cafe yang menjadi milik Kania itu.
Ucap Ken yang tak mau berlama menatap Dira yang memandangnya penuh pemujaan. Sekarang, saat menatap netra mata Dira ketika memandangnya, terungkao sudah bahwa Dira memang memiliki niat terselubung dari perhatian kecilnya pada Kenan. Dan Kenan perlu waspada.
Dira hanya mengangguk tanpa berniat menjawab kalimat Kenan. Ia terlanjur kecewa dengan sikap Ken yang berjarak padanya hari ini. Padahal sebelumnya, di hari-hari kemarin Ken tak pernah menjaga jarak darinya. Sikap Ken bisa di bilang ya biasa saja dan ramah pada siapapun yang menjadi partner kerja nya.
~~
~~
Kenan, Rio dan Niko tengah duduk di salah satu meja di sudut ruangan cafe milik Niko. Mereka bertiga sedang bercanda gurau sambil sesekali makan dengan santainya. Keakraban dan kehangatan kembali terjalin jika sudah seperti ini.
"Ngomong-ngomong, Lo kenapa sih Ken, tadi kok gue lihat beda banget sikap Li ke Bu Dira? Apa kalian ada masalah atau selisih pendapat, mungkin?"
Celetuk Rio. Ken seketika menatap kedua sahabatnya bergantian dengan pandangan serius.
"Gue emang lagi jaga jarak sama dia. Kalian tau? Beberapa malam terakhir, dia ngirim pesan ke nomor gue dengan menebar perhatian kecil. Sayangnya, gue bukan abege yang akan terhanyut dalam triknya untuk menjerat gue".
__ADS_1
"Apa? Bukannya dia udah tau kalau Lo udah berkeluarga dan punya anak?"
Rio membelalak tak percaya. Bagaimana si cantik yang bahenol itu bersikap murahan seperti ini? Rio tercengang seketika.
"Gue nggak terlalu tau sih, karna dia kan pas masuk ke kantor bang Kenan, gue udah nggak di sana. Dan yang pasti, tetep hati-hati aja lah, bang".
Ujar Niko sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Lama-lama gue risih juga tau nggak, kalau dia berlaku seperti ini terus. Gue udah punya Anja yang lebih segalanya dari dia. Kalian tau, kan..... seberapa berharganya istri gue di dalem sini?"
Kenan menunjuk dadanya sendiri.
"Anjani lebih berharga dari apapun yang alam tawarkan sama gue."
"Oh, ya? Bukannya si Anja tuh cuma anak pembantu, kan? Kalau Lo lupa dulu Lo pernah ngomong gitu sama kita-kita".
Goda Rio yang mendapat pelototan tajam dari Niko.
"Tapi sekarang gue akui, gue bucin sama si Anja".
Aku Kenan yang kemudian di sambut gelak tawa dari mereka semua.
"Pokonya, kalau ada yang berani macam-macam sama pernikahan kalian, gue bakal jadi orang pertama, bang..... yang akan berdiri tegak untuk keutuhan rumah tangga Abang".
Mode serius Niko kembali.
Belum sempat Ken menimpali, suara seorang wanita mengalihkan pandangan ketiganya pada sosok wanita yang bersuara itu.
"Loh, pak Rio, pak Kenan.... Makan di sini juga?"
....
....
__ADS_1