
"Siapa yang menelepon, Nika?" Tanya Kania yang tengah menata sarapan keluarganya di meja makan, saat dilihatnya Anika tiba di meja makan dengan penampilan yang segar. Ibu muda itu juga telah rapi pagi ini. Agaknya, perlahan Anika sudah mulai bangkit dan tegar.
"Pak Agus, ma. Hari ini anaknya pak Agus akan datang, namanya Rama. Itu loh, anaknya pak Agus yang aku janjikan pekerjaan." Jawab Anika sambil matanya menatap seluruh makanan dengan tidak nafsu sama sekali.
Kania mengingat-ingat nama pak Agus. Oh Kania baru ingat, pak Agus adalah sopir Dewa yang selalu mengantar Anika.
"Kamu udah ngomong papa?" Tanya Kania lagi. "Kayaknya ada satu posisi yang memang lagi lowong deh di kafenya papa."
"Semalam Anika udah ngobrolin ini sama papa. Aku butuh sopir buat kemana-mana, biarlah dia yang jadi sopir Nika dan antar Nika kemana-mana." Ungkap Nika.
"Kamu yakin? Bukannya kamu bisa mengendarai mobil sendiri?" Tanya Kania sambil duduk di kursi seberang Anika. Suasana masih sepi, baik Fatih maupun Niko belum juga turun.
"Yakin. Di ibukota, Anika selalu sama pak Agus, Siska, atau pun Dewa kemana-mana. Jadi sekarang kalau mau ngapa-ngapain, rasanya Anika akan nggak nyaman kalau sendiri. Lagian nggak buruk juga, katanya pak Agus, anaknya mudah bergaul." Ungkap Anika sambil menatap mamanya.
"Tunggu, tunggu. Bukannya anaknya pak Agus itu laki-laki? Kamu nggak boleh jalan sama laki-laki lain selama kamu masih belum resmi menjadi janda Dewa, Nika. Ingat, kamu bisa bebas setelah masa iddahmu selesai."
"Apa yang mama pikirkan?" Tanya Anika serius. Lagi pula, Anika hanya menjadikan Rama itu sopir, bukan kekasih.
"Ya, mama nggak mau kalau Dewa mencari kesalahan kamu. Kalau bisa sih jangan lah sampai kamu ceroboh." Ungkap Kania mengingatkan. "Sebagai orang tua, udah jadi kewajiban mama untuk mengingatkan kamu."
__ADS_1
"Namanya Rama. Dia anaknya pak Agus yang nggak banyak tingkah. Aku jalan sama Rama kemana-mana pun setelah ini, toh juga karena dia sopir, sebagai pengantar aku kemana-mana, bukan sebagai pacar aku. Ya kali, mama nyamain aku sama Vanya. Aku nggak semurah itu." Ungkap Anika santai.
Sayangnya, ucapannya baru saja telah di dengar oleh ayahnya, Niko yang baru saja turun dari lantai atas.
"Anika. Seburuk apapun si Vanya, dia tetap sepupu kamu. Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu." Niko muncul dan mendudukkan dirinya ke kursi utama.
"Maaf, pa. Kelepasan. Nika masih benci mereka sampai sekarang. Maklum, Nika hanya butuh waktu sampai hati Nika bisa sembuh, ya meskipun bekasnya akan selalu ada sampai maut menjemput. Anika usahakan memaafkan mereka."
"Papa percaya kalau anak papa ini kuat." Niko mengusap lengan putrinya dengan lembut. "Jadi, hari ini Rama akan tiba jam berapa?" Tanya Niko dengan nada senang. Akhirnya, Anika bisa bangkit dari keterpurukan dan sakit hatinya.
"Satu setengah jam dari sekarang."
"Ya udah. Cepat sarapan." Mereka lantas sarapan, membiarkan topik tentang sopir baru, tenggelam dengan sendirinya.
**
Bukannya apa, ini adalah perihal harga diri.
Kini, Vanya telah dilepas sepenuhnya oleh Kenan dan Anjani. Selaku orang tua, mereka benar-benar kecewa. Bahkan hanya Sonya, mama dewa yang datang dengan raut wajah tak suka. Menurutnya, meski Dewa telah melakukan kesalahan fatal yang tak bisa dimaafkan, namun Dewa tetaplah putranya. Nalurinya sebagai ibu tak bisa dihapus begitu saja.
__ADS_1
Mereka telah tiba di apartemen milik Dewa. Lelaki itu sengaja menempati apartemen lamanya dan menjual rumah impiannya bersama Vanya. Rumah yang lalu, memberikan kenangan buruk menyakitkan untuk Vanya.
"Van, kamu istirahat saja dulu. Papa manggil aku ke kantor. Kayaknya ada hal penting yang harus aku hadiri sore ini juga." Ucap Dewa pada Vanya yang sejak tadi hanya diam.
"Mas, aku . . . aku takut banget kamu tinggal sendirian." Vanya teringat dengan ujaran kebencian ibu Dewa. Bukan hanya ujaran kebencian, namun juga tatapan mengintimidasi yang wanita itu layangkan untuk Vanya sesaat setelah hari pernikahannya dengan Vanya.
"Apa yang kamu takutkan, Vanya? Nggak akan ada apa-apa. Aku akan pesankan makanan untuk kita nanti malam. Jadi jangan khawatir, oke?" Dewa mengusap pelipis Vanya, menyingkirkan surai rambut Vanya yang terjatuh di sebagian wajahnya.
"Gimana kalau mama kamu datang?" Tanya Vanya.
"Sambut saja. Aku nggak akan peduliin apa yang mama bilang, begitu juga kamu harus melakukan hal serupa. Jadi dibawa santai aja. Kalau mama datang, biarin. Apapun omongannya yang nggak menyenangkan kamu, abaikan."
Vanya mengangguk, membiarkan Dewa pergi dengan hatinya yang dilanda ketakutan.
Baru saja Vanya melihat-lihat ruangan apartemen Dewa, Suara bel apartemen berbunyi. Sepertinya ada tamu. Vanya mengernyitkan kening. Sepertinya belum ada yang tahu tentang kepindahan Vanya kemari. Itu yang Vanya pikirkan.
Vanya tak menunggu lagi, bergegas membuka pintu dan mendapati sesosok wanita yang menatapnya penuh kebencian. Tatapannya dingin hingga membuat Vanya mundur dua langkah Tania sadar. Vanya tak tahu, apa yang akan ia hadapi setelah ini.
"Zhivanya Mahardhika? Kenalin, aku Diana. Adik mas Dewa yang nggak menyukai pernikahan kalian." Diana muncul sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
Vanya merasa . . . .
**