
Waktu berlalu. Hari berganti Minggu, Minggu pun berganti bulan. Cinta tidak lah berubah. Masih tetap sama seperti saat-saat sebelumnya.
Jika sebuah luka bisa di hapus hanya dengan kata maaf, Bisakah Anjani melakukannya?
Jika kecewa mampu di hempas dengan kata cinta, Mampukah Anjani melakukannya?
Pagi ini, cuaca cukup cerah. Suasana pagi yang dirasa Anjani sama dengan hari-hari sebelumnya. Tapi tidak untuk Kenan.
Kenan bangun lebih pagi dari biasanya. Bahkan saat Ken sudah selesai dengan ritual mandinya, Anjani masih terlihat lelap dalam tidurnya. Dengan cepat, Kenan menunaikan sholat subuh.
Dengan hati yang bergetar menahan sakit, Ken menyelesaikan sholatnya dan memanjatkan doa untuk kebahagian ayah dan ibu mertua di sana. Tak lupa juga Ken berdoa agar rumah tangga nya di karunia kebahagiaan dan langgeng.
Setelah berganti pakaian, Ken melirik jam dinding di atas pintu. Jam masih menunjukkan pukul 04.42. Pantas saja Anjani masih nyaman.
D Ngan penuh tekad untuk mempertahankan rumah tangganya, Kenan menghampiri Anjani yang masih terlelap, mengecup kening Anjani lama dan beralih mengecup singkat bibir sang istri.
Anjani yang terusik tidurnya pun menggeliat dan mengerjapkan matanya perlahan. Ia kaget bukan kepalang karna Ken sudah ada tepat di depan wajahnya, mengulas senyum lembutnya.
"Pagi sayang....". Kata pertama pagi hari yang Anjani dengar dari bibir Kenan. Mengalun lembut di telinga Anjani, Anjani terbuai dan hanyut dalam aliran kasih.
Bila ini mimpi, Biarlah aku terjebak dengan tidurku selamanya oh tuhan.
Bila ini nyata, ku mohon biarkan aku menikmati masa ini sepanjang hidupku.
Bila ini hanya sebatas hayalan, ku mohon untuk tetap hidup berada dalam angan-angan ini.
Batin Anjani menjerit.
"Mas, kamu....?"
"Love you, nja. Ayo bangun. Kamu.... Apa udah selesai nifasnya?", Tanya Kenan lembut.
"Udah, mas".
"Mau sholat?".
"Iya".
"Ya udah, Kamu bersihin badan dulu, keburu terang entar. Aku mau ke bawah dulu", Ucap Kenan kemudian mengecup lagi kening Anjani.
Anjani terpaku, tidak menolak perlakuan Kenan. Sepersekian detik Anjani baru sadar. Sepanjang pernikahan mereka, Kenan memperlakukannya dengan sangat manis. Bukan karna selama ini Ken bersikap dingin, Tapi entah mengapa, semakin kesini, Anjani dibuat bingung dengan sikap Kenan yang semakin terlihat seperti orang jatuh cinta.
Mungkinkah Kenan mulai jatuh cinta padanya?
Kenan beranjak dan melirik ke arah sang putri yang masih terlelap. Mengusap pelan pipi Vanya kemudian berbalik meninggalkan kamar. Bukan hanya kamar, namun juga Anjani yang masih tak bergerak dari posisinya. Pikiran Anjani telah dipenuhi euforia yang luar biasa menggelegak.
__ADS_1
Kenan mulai bertekad untuk memperbaiki kesalahan di masa lalunya. Biarlah jika Anjani menuntut Kenan untuk menceraikannya, Kenan akan membuat Anjani mencabut kembali ucapannya.
Akan Ken buat Anjani kembali bertekuk lutut seperti dulu, meraih dan memiliki hatinya, kemudian menjadikan Anjani ratu dalam hatinya.
Ken tiba di kamar utama dan segera mengetuk pintu beberapa kali. Hingga pemilik kamar muncul tiba-tiba dengan wajah kusut.
"Ada sih Ken? Pagi-pagi udah ngerecoki orang? Nggak tau apa mama masih kurang tidur?", Nawal mengomel dan segera menutup pintu.
"Ma, mama nggak sholat?", Kenan bertanya dengan memicing ke arah mamanya. Pasalnya selama ini, mama nya adalah orang yang anti meninggalkan sholat meski tak dapat di tepis Kenan, sampai saat ini, Nawal masih enggan mengenakan hijab.
"Mama halangan".
"Ayo bantu Ken sebentar?".
"Bantu apa sih Ken? Mama ngantuk!"
"Ayo ke dapur sebentar". Tukas Kenan dengan menarik pergelangan tangan mamanya.
"Ya ampun, anak ini....." Nawal tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Mungkinkah Kenan depresi sekarang? Apakah itu di sebabkan oleh Anjani yang meminta perceraian semalam?
Nawal menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir spekulasi buruk tentang putranya.
"Ajari aku masak buat Anja". Ucap Kenan setelah mereka tiba di dapur. Nawal terbelalak kaget mendengar kalimat putranya. Wajah seorang Kenan amatlah serius sekarang.
"Pagi-pagi buta begini? Kamu serius?", Nawal ragu dengan keputusan putranya ini. Ada apa sebenarnya dengan Kenan.
Beberapa saat kemudian, Nawal tersenyum lebar dengan apa yang di lakukan putranya setelah ia berhasil mencerna kata-kata Kenan.
"Let's go". Dengan semangat yang juga luar biasa menggebu, Anjani segera mengajari putranya memasak.
"Mama nggak punya banyak waktu, Ken. Keburu Anjani turun. Ayo cepet!".
Hingga akhirnya di pagi itu, Kenan mendapatkan semangat dan kepercayaan dirinya kembali.
Dalam hati, Kenan berjanji akan selalu melindungi Anjani dari apapun yang akan menyakiti dan melukainya.
....................
Anjani menumpahkan air mata dalam sujudnya. Menumpahkan segala keresahan hati yang selama ini ia rasakan. Seperti terlalu berat beban yang Anja pikul.
Jika di tilik dari semua yang ia alami beberapa bulan terakhir, Anjani merasa segala musibah yang Anjani alami, sangatlah berat.
Tapi Tuhan memang tetaplah yang paling luar biasa. Ditengah permasalahan yang tengah Anjani alami, Tuhan masih memberi Anjani kekuatan dan ketabahan. Masih ada segelintir orang-orang baik yang mau menerimanya, hingga mempertemukannya dengan suaminya, Kenan.
Anjani terisak. Mengingat sosok tentang ibunya yang ia tentang saat melarang Anjani untuk berdekatan dan menyukai seorang Kenan. Hingga bantahan itulah yang mengantarkannya pada kemalangan yang tak berkesudahan.
__ADS_1
Anjani memanjatkan doa untuk mendiang ibunya dengan disertai linangan air mata penyesalan. Menyesal karna ia tidak ada di saat-saat terakhir ibunya. Anjani benar-benar menyesal sekarang.
Yah, penyesalan memang datang di akhir. Jika penyesalan datang di depan, Tidak akan ada manusia pendosa di muka bumi ini, bukan?
Pintu terbuka pelan. Anjani menyudahi dzikir dan doanya. Ia melirik sekilas ke arah Kenan.
"Sayang, ayo sarapan dulu". Taukah kau seperti apa reaksi Anjani saat itu? Anjani melongo dibuatnya.
Apa-apaan ini? Mengapa Kenan tiba-tiba berubah seperti ini. Dan tunggu, tunggu.
Apa yang di bawa kenan?
Anjani bertanya-tanya dalam hati.
Hingga Kenan meletakkan nampan yang berisi makanan, sepiring kecil irisan buah lengkap dengan segelas susu.
"Ayo sarapan dulu, mau aku siapin?" Anjani menggeleng dan segera menghampiri Kenan.
"Kamu mau nyogok aku dengan se-nampan makanan?", Tanya Anjani. Kenan menggeleng dengan mengulas senyum tipis.
"Sebelum kamu mau menuntut cerai sama aku, Lihat dulu ketulusan ku, nja. Nggak Mudah untuk hidup menjanda. Terlebih lagi, pendidikan mu yang nggak sampai SMA. Maaf, bukannya aku ngeremihin dan merendahkanmu. Tapi cobalah untuk berpikir realistis. Aku hanya nggak mau kehilangan kamu. Jadi aku mohon, beri aku kesempatan untuk memperbaiki masa lalu", Ungkap Kenan panjang lebar.
Selama ini, Anjani tidak pernah melihat Kenan se-serius ini. Anjani terenyuh. Ia seperti dilema. Dalam benak Anjani, Kenan tidak mungkin kan berubah secepat ini?
"Mas.....kamu?". Belum sempat Anjani meneruskan kalimatnya, Kenan sudah membungkamnya dengan ciuman lembut yang berubah menjadi *******.
Anjani bereaksi diluar dugaan Kenan. Anjani sendiri bingung dengan dirinya. Hati dan tubuhnya menunjukkan reaksi yang singkron.
Hingga suara tangisan Vanya melengking mengisi seluruh ruangan, Ken pun menghentikan aktifitasnya dan tersenyum kecil karna mendapatkan fakta bahwa Anjani masih merespon sentuhannya dengan cukup baik.
Kenan beranjak dari duduknya dan segera menghampiri Vanya.
Sedang Anjani? Tentu saja Anjani terbengong seperti orang bodoh. Anjani tengah memikirkan dengan respon dirinya saat menerima sentuhan Kenan.
Jika hatinya memilih menolak Kenan, tapi tidak dengan tubuhnya.
Anjani benar-benar dilema.
🌹🌹🌹🌹🌹
Sorry ya kakak-kakak readers yang nunggu up nya neng Tia.
Kemaren neng Tia banyak kesibukan jadi cuma bisa up 1 episode.
Akan neng Tia usahakan untuk up 2 bab hari ini ya.
__ADS_1
Jangan lupa tetep dukung dan kasi neng Tia support ya....
~Salam sejahtera buat semua😚~