
"Maafin Kania ya, bunda".
Kania mereka pelan jemari bunda yang saat ini duduk tepat di hadapannya. Tatapan dua wanita yang begitu berharga bagi Niko itu, saling menatap sendu satu sama lain. Ada banyak beban yang berkecamuk pada hati Kania.
Seminggu setelah Niko dan Kania rujuk, hari ini bunda datang mengunjunginya. Rasa rindunya terhadap anak, menantu dan cucunya, kini terobati. Meski usianya semakin menua, namun hatinya masih selembut sutra.
"Iya. Sudah lah... yang lalu biarkan saja. Yang penting sekarang, kamu sudah ketemu sama suamimu. Kamu tau? Bukan hanya Niko yang bingung mencarimu, bunda justru ikut sedih ketika dengar kamu pergi begitu saja, meninggalkan Fatih yang masih kecil.
Jadi lah saat itu bunda pindah ke rumah kamu untuk membantu mbak Sari mengasuh Fatih".
Bunda tersenyum hangat. Nada bicara nya sangat keibuan. Kania rindu sosok seperti ini.
"Maaf, bunda. Kania..... "
"Ssstt.... jangan lagi di ulangai, ya. Bunda harap, dengan kejadian ini kalian akan bisa mengambil hikmahnya".
"Terima kasih, bunda".
Di saat bersamaan, Anjani dan Nawal datang bersama sopir keluarga Mahardhika. Kania menatap datar kedatangan dua wanita yang menjadi keluarganya itu.
Sebenarnya, Kania tidaklah marah lagi pada ibunya, namun semenjak ia di abaikan, ia seperti ingin sebuah hubungan biasa saja dengan keluarganya. Sebuah hubungan yang tidak lagi memiliki kehangatan seperti dulu. Tujuannya hanya satu, andai suatu saat ia mengalami hal serupa --Sebuah perlakuan abai oleh keluarganya-- ia tak lagi merasakan sakit sedalam itu.
"Assalamu'alaikum......" Anjani mengucap salam bersamaan dengan Nawal yang menawarkan senyum cerah hari ini. Ayah dan bunda yang duduk di sofa, berdiri dan menyambut kedatangan besannya.
"Wa'alaikum salam".
Bunda menjawab dengan antusias, sedang Kania menjawab lirih, namun Nawal masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Apa kabar, kan.......? Mama kangen sama kamu".
Nawal tersenyum cerah. Dirinya maju memeluk Kania yang tak menolak pelukannya. Jelas terlihat bahwa Kania me
__ADS_1
"Baik. Mama?"
"Baik juga. Mama rindu sama Fatih dan Nika....".
Kania diam tak menanggapi. Ia hanya tersenyum sesaat sebelum raut wajahnya kembali datar. Nawal yang menyadari putrinya masih saja menjaga jarak dengannya, mengeluh dalam hati.
"Niko mana?"
"Di kamar mandi".
Dan Nawal kemudian mengambil alih Fatih ke dalam gendongannya. Sedikit berbasa-basi dengan kedua orang tua Niko, dan sesekali bercanda dengan Fatih dan Anika. Kania lebih banyak diam dan hanya menjadi pihak yang hanya sebatas memperhatikan. Senyum terukir di bibirnya, hanya ketika orang-orang di sekelilingnya, mengajaknya bercanda.
Niko keluar dari arah kamar, dengan wajah segar, meski terlihat sekali aura lelah dan letih nampak bergelayut di wajahnya. Semua mata tertuju padanya yang mengenakan celana selutut berwarna krem, di padu dengan kaos berkerah berwarna biru muda.
"Malam, ma.... mba Anja.... sudah dari tadi?"
Sapa Niko dengan sopan. Ia kemudian mengambil duduk tepat di samping tempat istrinya duduk, tempat yang tadi di tempati bunda yang kini menggendong Nika.
Nawal menimpali. Anjani hanya mengangguk sopan dan tersenyum simpul.
"Iya, ma... baru pulang dari kota. Ada beberapa masalah yang mendesak tadi di cafe."
Hening sejenak, Suasana hanya terisi oleh suara Fatih yang berbicara dengan mainan robot nya sendiri. Hingga kemudian Nawal kembali bersuara.
"Niko, Kania.... kenapa kalian nggak pindah saja ke kota? Lagipula, bukankah pasti kamu capek kalau harus pulang-pergi kota dan desa?"
Kania diam tak menjawab. Ia membiarkan Niko sendiri yang menjawab pertanyaan mamanya.
Sebenarnya, Kania enggan membahas perihal tempat tinggalnya. Kalaupun Kania harus pindah, tentu saja Kania akan memilih pindah ke kota lain yang membuatnya harus jauh dari keluarga.
Kali ini, Kania akan memberi pelajaran pada keluarganya. Agar mereka tau, bahwa Kania bisa melakukan apapun tanpa harta mereka.
__ADS_1
"Kania ingin tinggal di sini, ma. Niko nggak apa-apa kok kalau harus bolak-balik desa dan kota, asal mamanya Fatih nyaman. Lagi pula, sekarang Niko pakai jasa supir untuk antar Niki kemanapun".
"Asal kalian bahagia, mama bisa dukung".
Ucap Nawal tulus. Dirinya sangat paham betul, sikap Kania yang berjarak ini, tak mudah di runtuhkan begitu saja. Perlahan nanti, Nawal pasti akan bisa meluluhkan hati putrinya.
"Makasih, ma. Oh ya, Niko berencana mau bangun rumah ini". Ekor mata Niko melirik pada Kania, mengamati respon istrinya itu. Namun Kania masih nyaman dengan raut wajah datarnya.
"Kalau mama nggak keberatan, Kania ingin menetap di sini selamanya".
Raut wajah Nawal berubah tak nyaman. Ia merasa Kania menjauhinya untuk selamanya. Tidak. Kania tak akan biarkan hal itu terjadi. Tapi mau bagaimana lagi? Dirinya mau tak mau memang harus mendukung apapun yang menjadi keinginan putrinya.
"Mama hanya berharap yang terbaik untuk kalian. Karena kebahagiaan kalian, adalah kebahagiaan mama juga."
Hingga kemudian kecanggungan menyelimuti mereka. Ayah lebih memilih bermain bersama Fatih. Sejujurnya, Nawal ingin Kania kembali riang dan banyak bicara seperti dulu. Tetapi agaknya, hal itu sangat tidak mungkin. Mengingat Kania yang hanya diam sejak tadi.
"Kan... oh ya, ini aku bawakan baju-baju baru buat Nika...lihat deh, pasti cocok".
Anjani tiba-tiba bersuara. Ia hanya ingin memecah suasana canggung mereka.
"Makasih. Bawa pulang aja lagi. Nika nggak kurang apapun lagi selama aku masih sehat dan bernafas!!"
Kalimat Kania tentu saja menohok bagi Anjani.
"Aku nggak butuh di kasihani dan menerima pemberian dari orang-orang yang dulu aku bela mati-matian, tapi akhirnya ikut-ikutan menyalahkan."
Sambungnya lagi.
"Kenapa begitu, kan? Aku dan mas Kenan udah minta maaf......" Timpal Anjani lirih.
"Maaf aja nggak bisa menghapus kenangan akan perlakuan buruk kalian ke aku setahun lalu, meski aku udah berusaha memaafkan. Percayalah nyonya Kenan, melupakan, tak semudah memaafkan".
__ADS_1
🍁🍁🍁