
Anika tengah berjalan pelan di lantai atas kamarnya. Ibu muda satu anak itu tengah menuju ke dalam kamarnya untuk istirahat sejenak di tengah penatnya mengurus Elvio yang saat ini tengah aktif-aktifnya.
Menyendiri di kamarnya, rupa-rupanya Anika kembali mengingat tentang masalah yang menimpa rumah tangganya belakangan ini. Anika begitu sangat kecewa akan tindakan yang di ambil Dewa yang telah menjadikannya sebagai pelampiasan. Terlebih, rupanya kekasih hati Dewa adalah Vanya.
Akan seperti apa nasib rumah tangga keduanya ke depan? Anika masih berpikir untuk mengakhiri saja rumah tangganya. Akan tetapi jiwa polos Anika seolah tak mengijinkan untuk dirinya hancur seorang diri. ada Vio yang masih sangat membutuhkan kasih sayang keduanya.
Apa yang harus Anika lakukan? Meminta Dewa untuk tidak lagi memikirkan Vanya, tentu itu adalah sesuatu yang mustahil. Namun Anika selama beberapa tahun terakhir tidak bertemu dengan Vanya, semenjak sebelum Nika dipinang oleh Dewa.
Sebelum pergi bersama untuk makan malam nanti, kini hati Nika telah memutuskan untuk menemui Vanya, apapun yang terjadi. Dirinya tak mau kehilangan Dewa, karena selama pernikahan mereka, Anika telah menaruh hati pada pria yang ia sebut suami itu. Apa itu salah? Tidak, kan?
"Mba Yuni, aku akan pergi dan aku titip Vio dulu, ya." Ucap Anika yang baru saja keluar dari kamarnya, berpapasan dengan Yuni, pengasuh Vio. Jam hampir memasuki waktu makan siang. Mungkin Anika akan tiba di kantor suaminya tepat ketika waktu makan siang tiba. Anika sudah bertekad untuk menemui Vanya secepat mungkin.
Bukan untuk melabrak, melainkan untuk berbicara baik-baik agar Vanya tau bahwa Anika juga mencintai Dewa. Terlebih, ada Vio yang menjadi buah hati mereka. Semoga saja, Vanya mengerti dan bersedia melepaskan Dewa.
"Baik, bu. Ibu mau makan siang di rumah atau diluar sekalian? Nanti Yuni bantu siapkan mumpung non Vio masih tidur". Dengan sopan, Yuni menawarkan. Sebagai pengasuh yang di bayar mahal oleh Dewa, terkadang Yuni merasa ia perlu membantu majikannya meski apa yang ia lakukan di luar tugasnya.
"Aku makan diluar aja, mba. Mba jangan lupa makan siang, ya, mumpung Vio tidur. Aku juga kayaknya pulang agak terlambat."
"Baik, Bu". Yuni menundukkan kepalanya sopan, menatap punggung majikannya yang akhir-akhir ini, sering bertengkar dengan suaminya. Entah apa yang mereka ributkan, Yuni tak ingin ikut campur dan mencampurinya. Hanya saja, terkadang Yuni sedikit tak nyaman ketika sepasang majikannya itu saling cekcok adu mulut.
Sepanjang perjalanan, Anika hanya murung. Bahkan mobil yang ia kendarai nyatanya terasa lebih lambat dari biasanya. Jalanan ibukota yang macet dan cukup menguras energi itu, terasa seperti neraka di siang panas yang terik seperti saat ini.
__ADS_1
Ada banyak hal yang coba Anika tahan, termasuk keegoisannya untuk memiliki suaminya seutuhnya. Andai waktu dapat berputar kembali, mungkin Anika tak akan pernah Sudi di persunting oleh Dewa. Lagi pula salah Vanya sendiri, mengapa ia tak segera mengenalkan Dewa pada keluarga besarnya kala itu? Jadi baik Anika, Niko maupun Kania, tidak tau bahwa sesungguhnya Dewa adalah kekasih Vanya.
Setibanya di kantor suaminya, Anika berjalan dengan anggun memasuki gedung. Beberapa karyawan dan sekuriti yang memang tau siapa Anika, menunduk hormat dan tersenyum ramah. Tentu Anika bersikap serupa terhadap semua karyawan suaminya.
Hingga tepat ketika Anika menginjakkan kakinya di depan ruangan Dewa, sayup-sayup telinga Anika menangkap suara percakapan dua orang yang sangat menyakiti hatinya.
"Tapi kita sama-sama tau kalau kita saling mencintai, Vanya. Kita juga tidak menghendaki perasaan ini hadir di dalam hati kita masing-masing."
"Enggak, wa. Kamu nggak kenal gimana Tante Kania. aku nggak mau kamu menjadi musuh ibu mertua kamu."
"*Van, ayo kita selesaikan masalah ini. Kamu nggak perlu takut. Kita nggak salah. Perasaan kita tak bisa di salahkan begitu saja. Kita nggak menghendaki perasaan ini ada. Mungkin tuhan memang menakdirkan kita untuk memiliki rasa ini. Tak ada yang salah, oke?"
"Wa. Jangan nekat. Anika saudaraku. Lagian kita....."
"CUKUPPP!!" Dengan sekali dorong, pintu ruangan kerja dewa yang rupanya tak tertutup sepenuhnya, terbuka dari luar. Setelahnya, Anika menutupnya hingga menciptakan suara brak keras.
Tentu saja kedua insan mantan sepasang kekasih itu sama terkejutnya, mendapati Anika yang sudah datang dengan air mata berlinang. Siapa yang akan menyangka, keduanya akan tertangkap basah sedang berduaan?
Maka disinilah, Vanya merasa lidahnya terasa kelu dan tak mampu meski hanya sekedar menjelaskan.
"Kamu bilang pagi tadi ingin memperbaiki semua dan mengajakku dan Vio makan malam diluar. Sekarang kamu dengan sengaja merayu wanita lain dan mencoba memasukkan wanita kedua ke dalam rumah tangga kita. Dimana otak kamu, bajingan!!"
__ADS_1
Nafas Anika memburu. Dadanya naik turun pertanda wanita itu sedang dikuasai amarah dan emosi yang meledak. Entah setan apa yang merasuk ke dalam hati Nika, kemarahan Anika kali ini, tak seperti Anika yang biasanya lembut seperti Niko.
Dewa, pria itu masih bisa bersikap tenang dan mampu mengendalikan diri dan emosinya dengan baik. Seolah-olah, apa yang ia lihat bukanlah masalah besar. Dari dulu Dewa memang selalu begitu, tenang dalam menghadapi berbagai persoalan.
"Kenapa kalian diam? kenapa diam!!" Disinilah titik paling sakit bagi Anika. Melihat suami dan sepupunya berdua, membicarakan hal Yang seharusnya tidak mereka debatkan. Percayalah, itu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan.
"Nika, Nika aku mohon. Denger dulu penjelasan aku". Vanya mencoba mencari pembelaan terakhir melalui penjelasan. Meski tak begitu yakin Anika akan menerima penjelasannya dengan baik, namun Vanya harus mencoba.
Mata Anika menatap nyalang ke arah Vanya dan Dewa secara bergantian. Ia tak menyangka, keinginannya untuk menemui suaminya lebih dulu sebelum menemui Vanya, kini membuat dirinya sendiri merasakan sakit. Fakta demi fakta yang ada, rasa-rasanya sanggup membunuh Anika secara perlahan. Beginikah rasa sakit di khianati? Ya tuhan, mengapa harus sesakit ini?
"Mari kita bicara, Anika. Aku tak pernah mencoba memasukkan hati lain ke dalam rumah tangga kita. Akan tetapi aku dan Vanya memang saling mencintai, bahkan jauh sebelum kita menikah. Aku mohon dengar dulu penjelasan ku".
Dewa berjalan perlahan menghampiri istrinya yang saat ini tengah digulung rasa emosi. Bila melihat betapa kacaunya Anika saat ini, rasa bersalah Dewa, baik pada Anika maupun Vanya, kini seolah bertambah berkali-kali lipat.
"Jelaskan saja dan jangan dekati aku." Anika mundur selangkah. Ia tak mau melakukan kontak fisik apapun dengan Dewa, Dewa yang tak mencintainya dan mengatakan secara terang-terangan, bahwa ia dan Vanya saling mencintai.
"Baik. Mari kita duduk bersama dan kita bicara baik-baik".
**
Kemarin pada ada yang nungguin munculnya si barbar mama Kania, ya. Tenang. Akan muncul Di dua part berikutnya. Dua part lagi, mama Kania akan bertemu dengan dewa dan Vanya.
__ADS_1
Terima kasih. sampai jumpa di part berikutnya❤️😘.